
Pukul 8 malam waktu setempat mereka baru sempat makan malam. Karena kerinduan yang membuncah ples ples, mereka akhirnya tertidur. Chelsea terbangun kala merasa sangat lapar. Dia ingat bahwa mereka memang belum makan malam. Chelsea memutuskan membersihkan diri sendirian karena dilihatnya sang suami tengah menyelami mimpi yang mungkin tertunda. Senyuman itu terbit di wajah yang tengah terlelap tidur.
Setelah selesai membersihkan diri, Chelsea berniat membuat sesuatu untuk mengisi perutnya. Chelsea mengusap perutnya sambil tersenyum.
Akhirnya Tuhan memberinya karunia yang selama ini dia idamkan. Dalam do'a nya, semoga dia dan sang suami bisa menjaga amanah yang Tuhan titipkan pada mereka.
Saat hendak menuju dapur, seorang asisten memberitahu jika nyonya besar sudah membuatkan makanan untuk mereka makan malam. Dan memberi pesan padanya untuk menghangatkan kembali ketika mereka hendak makan malam. Lalu Chelsea memberinya persetujuan. Dan sang asisten pun dengan cekatan kembali menghangatkan makanan yang sudah Mama Carol masak.
Chelsea kembali ke kamar untuk membangunkan kesayangannya. Saat baru menginjak anak tangga pertama, Brian sudah keluar dari kamar dengan rambut acak acakan dan wajah panik.
"Sudah bangun,bear?"
Brian tergesa turun dan langsung memeluk Chelsea.
"Bear..?" dirasakannya tubuh Brian bergetar. Chelsea melonggarkan pelukan Brian dan sedikit memundurkan tubuhnya.
"Bear, kamu kenapa sayang?"
"Kupikir... tadi cuma mimpi.. kalo kamu ada dipelukanku. Terus kamu tiba tiba menghilang waktu aku bangun... hik" Brian kembali memeluk erat Chelsea sambil sesenggukkan. "Jangan pergi lagi, sayang. Aku ga sanggup jauh dari kamu" bisiknya lirih.
Chelsea terenyuh dengan perasaan mendalam Brian padanya. Dia sangat bersyukur dipertemukan dengan laki laki penyayang sepertinya. Benar kata peribahasa, 'Habis gelap, terbitlah terang'.
"Aku ga akan kemana mana, bear. Tugasku masih panjang. Tugas kita" Chelsea mengarahkan satu telapak tangan Brian ke perutnya. Brian melepas pelukan, lalu merendahkan tubuhnya bertumpu pada sebelah lututnya. Kepalanya dibuat sejajar dengan perut Chelsea.
"Sayang, kamu yang sehat ya didalam sana. Jangan khawatir, dady sama momy akan selalu menjagamu. Jangan nakal, jangan buat momy mu kesusahan"
cup
Brian mengecup lembut perut Chelsea.
kruyuuuk
"Dia menjawab sayang..." Brian antusias dengan suara balasan calon anaknya.
"Dia kelaparan dady bear, sayang"
"Lapar? Anak dady lapar? ayok makan yok makan yang bayak, mau dipesenin apa?"
__ADS_1
"Ga usah pesen pesen, dady bear. Tuh granny udah cape cape masak buat kita. Yuk makan"
Akhirnya mereka menghabiskan makanan yang ada di meja. Sebagian besar Chesea yang memakan sebenarnya. Karena Brian terus menyuapi dan menjejalkan makanan pada mulut Chelsea.
*****************
Pagi itu, Brian memutuskan pergi ke kantor dengan membawa serta istrinya. Dia tak mau berspekulasi kalau Siska tak akan datang. Dia berjanji pada dirinya sendiri, tidak akan pernah mempertaruhkan keutuhan rumah tangganya lagi.
Selain itu, masa masa trimester pertama ini membuatnya tak bisa berjauhan dengan istrinya. Seperti kemarin sore, Brian yang tadinya memeluk Chelsea seharian hingga tertidur, lalu tidak bisa menemukan Chelsea dimanapun, dia kembali muntah muntah. Padahal Chelsea tengah mengutak atik jagoan garangnya si Humvee di garasi.
Untuk itulah, Chelsea tak boleh luput dari penglihatannya.
"Selamat pagi, pak, bu" salam Dewi sambil menunduk saat mereka tiba di depan ruangan.
"Pagi, o ya Dewi, untuk rapat hari ini sampai waktu yang saya tentukan, lakukan secara video conference. Sampaikan pada mereka karena saya tengah berobat" perintahnya mutlak. Dia langsung menarik tangan Chelsea yangvtak pernah dia lepas, masuk ke dalam ruangan dan menutupnya. Chelsea hanya mengedikkan bahunya pada Dewi karena perintah mutlak suaminya. Dewi kemudian tersenyum ramah padanya. Dia turut senang melihat perubahan mood yang berubah drastis menjadi sangat baik karena keberadaan sang istri bos.
Sepanjang pagi ini hingga menjelang tengah hari, Brian melakukan video conference dengan beberapa klien. Namun, dia mematikan kamera karena tengah memangku Chelsea yang tengah ia suapi buah buahan. Brian yang meminta tentunya. Chelsea tak peduli. Selama dia tak mengganggu pekerjaan suaminya. Dia hanya duduk diam dan membuka mulut untuk menerima suapan potongan buah yang Brian siapkan melalui sekertarisnya.
Rapat telah berakhir. Mereka bersiap untuk pergi ke restoran masakan tradisional.
"My god, mak lampir..."
"hush, jan ngomong sembarangan"
Brian seketika melipat mulutnya. Dia menyesal berbicara sompral kala sang istri mengandung. Dia lantas menyembunyikan diri di ceruk leher istrinya lagi. "Tolong akuuu" lirihnya memelas.
Dengan digondeli Brian , Chelsea melipat kedua tangannya di dada.
"Nona.. nona.. tolong anda tidak diperkenankan masuk, nona" terdengar Dewi melarangnya masuk.
ceklek
"Apaan sih, lepas. Eh asal lo tau ya. Elo bakal gue pecat kalo gue aduin sama mami. Udaaah sana minggir minggir" ancamnya pada Dewi.
"Bi- heh, ngapain lo ada disini?"
Chelsea mengangkat sebelah alisnya. Cius, dia nanya kek gitu?
__ADS_1
"Gue istrinya. Elo siapa?" ucapnya tenang. Kepalanya sedikit mendongak.
"Dewi, panggil security" titahnya pada sang sekertaris yang merasa tak enak karena tak berhasil menghalau si mak lampir. Chelsea lalu menyadari sesuatu lalu mengambil ponselnya dan mengarahkan kamera padanya.
cekrek
cekrek
Dia menyimpannya kembali.
"Ngapain lo foto foto gue sembarangan"
"Engga, lo cantik"
"hih, baru tau ya. Mak-"
"TANPA TANDA LAHIR" Chelsea segera memotong ucapan Siska yang ia yakini panjang dan kecepatannya melebihi kereta api tercepat di dunia.
Sontak Siska langsung menutupi leher dengan sebelah tangannya.
"Sebelah kiri woi" lanjut Chesea kala Siska salah menutup bagian lehernya.
"G Gue aduin ya sama Mami. J-"
"Siapa? Ibu Darsih? heh.. mami dari Hongkong"
Mata Siska membola kala yang disebutkan Chelsea adalah nama salah satu pengurus panti asuhan tempat mereka dibesarkan. Hanya Ibu Darsih yang selama ini selalu membela tingkah Siska kala Siska merajuk menginginkan sesuatu, dan Ibu Darsih selalu memperjuangkannya meski salah sekalipun.
"K kamu... B jangan percaya omongan Chelsea. Lo harus tau, dia selingkuh saat ga ada di sisi lo. Saat lo sakit sakitan" Siska kemudian mengeluarkan ponselnya lalu terlihat mengutak atiknya. Brian yang tadinya menyembunyikan kepalanya sedikit merasa terganggu dan mengangkat kepalanya. Para security datang ke ruangan hendak menyeret Siska, namun Chelsea mengangkat sebelah tangannya tanda untuk menunggu. Dia ingin segera menyelesaikan ini.
"Lihat B, dia selingkuh sama laki laki. Siapa tau anak yang dia kandung itu adalah anak dari selingkuhannya" Chelseae memperhatikan foto yang Siska tunjukkan. Chelsea hanya tersenyum sinis. Begitu pula dengan Brian. Ketika dia melihat foto itu, terlihat tidak peduli dan menyembunyikan kepalanya lagi di ceruk leher Chelsea.
"Terus?" tanya Chelsea sambil mengangkat sebelah alisnya.
Tampak Siska yang bingung dengan sikap acuh Brian dengan bukti foto yang dia bawa.
"Cara lo basi, tau ngga?" sarkas Chelsea.
__ADS_1