Montir Janda Ku

Montir Janda Ku
#61. Sesak


__ADS_3

Malamnya, Chelsea benar benar menghukumnya. Sungguh, tak pernah terbayangkan memiliki perasaan seperti ini. Dia pikir, hanya laki laki yang membutuhkan penyaluran. Namun dia salah. Ternyata perempuan juga membutuhkannya. Dia membutuhkannya.


Setelah lama saling meluapkan rasa rindu satu sama lain, mereka berpelukan dalam balutan selimut, ditemani titik titik hujan yang menjadi saksi kehangatan kegiatan mereka yang cukup lama, Brian menghujani istrinya dengan kecupan kecupan lembut di kepala, pelipis dan pipinya. Lalu berbisik lembut di telinganya "Jangan pernah meragukanku. Berjanjilah kau tak akan meninggalkanku, apapun yang akan terjadi. Dan aku tak akan pernah melepasmu"


Brian mengeratkan pelukannya, seolah ingin mengunci tubuh istrinya dalam tubuhnya selamanya, agar tak pernah berpisah. Chelsea pun mengubur kepala dan tubuhnya dalam dekapan hangat suaminya. Bukannya tak percaya padanya. Istri mana yang rela membiarkan suaminya didekati wanita lain. Saat dia sudah menjatuhkan hatinya pada pria ini, bayangan Siska yang kembali merebut miliknya kembali hadir.


Mungkin dulu dia selalu mengalah, karena merasa tak perlu berebut apapun dengan saudara senasibnya, karena selama ini tak ada sesuatu yang spesial yang dia miliki. Oleh karena itu dengan suka rela dia mengalah dan menyerahkan padanya, meski setelah itu apa yang dia serahkan malah dicampakkannya.


Tapi kali ini berbeda. Brian adalah sesuatu yang lain. Dia adalah satu satunya yang berharga yang Tuhan hadirkan untuknya selama hidupnya. Dan dia tak akan mengalah lagi. Dia akan mempertahankan miliknya mulai saat ini. Setelah malam ini, setelah Brian benar benar meyakinkannya bahwa dialah satu satunya wanita dihidupnya saat ini hingga akhir hayatnya dan tidak akan menggantikannya dengan apapun dia merasa lega. Tak berbicara, namun ia percaya padanya. Biar waktu yang membuktikan ucapannya. Dia hanya harus lebih bersabar menunggu penjelasan saat lelakinya sudah siap menjelaskan.


Chelsea lalu mengecup dalam rahang Brian. Dan mereka terlelap dalam gulungan selimut dimalam yang dingin.


Keesokan hari, rutinitas mereka seperti biasa. Sarapan bersama dalam kehangatan sebuah keluarga kecil yang diidamkan ketiganya. Senyum, tawa dan canda selalu mengiringi kebersamaan mereka. Brian yang selalu menyempatkan mengantar anak gadisnya ke sekolah bersama sang istri, tak pernah melepas genggamannya pada sebelah tangan Chelsea. Hingga sampai di bengkel, Brian selalu merasa berat berpisah dengannya. Dia selalu ingin ditempeli Chelsea kemanapun.


"Bear, lepas tangannya iih, dah nyampe tuh dah banyak pelanggan"


"Kamu kan bos nya sayang. Hari ini ikut aku aja ya?"


Tampak keringat di pelipis Brian, Chelsea mengusapnya dengan dahi berkerut.


"Bear, apa kamu sakit? muka kamu ko pucet, sayang?" Chelsea sedikit khawatir. Dia terus meraba kening Brian beberapa kali. Tapi suhunya normal.


"Aku baik baik aja sayang. Akan lebih baik kalo kamu temenin aku terus" suaranya manja, membuat Chelsea gemas padanya. Dia mengecup sekilas bibir suaminya.

__ADS_1


cup


"Beruangku yang manja, kalo aku ngikut kamu, yang ada kamu bukannya ngerjain kerjaan kantor tapi ngerjain aku" wajahnya dibuat dekat hingga hembusan nafasnya terasa di wajah Brian.


"Aku selalu rindu godaan kamu sayang" gawat, suaranya berubah berat dan serak.


"Lagian kamu udah beberapa kali bubarin rapat gara gara aku, nanti aku di cap buruk sama dewan direksi"


"Coba saja kalo berani. Ayo sayang, ikut aku aja ya" bak anak kecil yang merajuk minta dibelikan mainan, Chelsea geli dibuatnya. Dia terkekeh dengan sikap manja suaminya.


"Iya nanti siang aku ke sana deh. Tunggu aku makan siang ya, kosongin jadwal di jam itu. Oke"


cup


"Bye my bear, love you"


Dengan berat hati Brian melajukan mobilnya ke arah kantor.


Sepanjang pagi hingga waktu menunjukkan pukul 10 waktu setempat, Brian tidak bisa fokus dengan pekerjaannya. Keringat selalu tampak di keningnya. Dewi pun merasa aneh dengan sikap sang bos yang tak biasa. Tak ada tatapan tajam, tak ada raungan kemarahan kala kepala divisi salah dalam menyampaikan presentasinya, hanya tatapan kosong dan wajah yang pucat berhiaskan ekspresi murung.


Saat rapat selesai, sebenarnya dianggap selesai, karena setelah semua kepala divisi mempresentasikan data misi, Brian tak memberikan tanggapan apapun. Dia bahkan langsung keluar ruangan setelah semua selesai presentasi. Membuat semua anggota rapat kebingungan yang akhirnya membubarkan diri. Sungguh, keterdiaman bos mereka tidak membuat mereka merasa lega, justru semakin waspada.


"Pak maaf, apa bapak baik baik saja? Tampaknya bapak sedang kurang sehat. Perlu saya ambilkan obat?" tanya Dewi.

__ADS_1


"Ya, Wi. Tolong panggilkan istri saya"


"Baik pak. Obatnya bagai mana pak?"


"Hanya istri saya obatnya"


Brian merebahkan diri di sofa ruangannya, membuka jas nya dan melonggarkan dasinya. Dia merasa kurang fokus pada pekerjaannya hari ini. Dalam pikirannya hanya dipenuhi dengan istrinya. Betapa dia sangat merindukan istrinya. Padahal baru tadi pagi mereka berpisah untuk bekerja.


Waktu istirahat tiba, seperti biasa Dewi segera meninggalkan mejanya agar kebagian menu favorit se kantor di kantin karyawan. Dia tak perlu was was menjaga ruangan bos nya, karena hampir setiap hari di jam makan siang, kanjeng ratu selalu datang membawa bekal makan siang untuk sang bos kulkas.


ceklek


Terdengar dengkuran halus dari arah sofa. Kaki itu melangkah perlahan menuju arah suara. Senyuman mengembang memenuhi wajah cantiknya. Dia lalu mendaratkan kedua lututnya di sebelah sofa tempat penghuni ruangan tengah terlelap. Jari lentiknya bergerak menyentuh rambut serta alis, lalu hidung, turun ke bibir, membuatnya menelan saliva, ingin mengacak acak bibir seksi yang tengah terlelap dengan posisi menyamping, menyisakan sedikit ruang cukup untuk ditempati 1 orang bertubuh ramping.


Dia kemudian ikut merebahkan dirinya di samping Brian, lalu mengarahkan tangan Brian agar memeluk pinggang rampingnya. Reflek tangan berotot itu mengeratkannya sambil menyerukkan kepalanya dileher sang penyusup.


"Sayang... kamu genti parfum ya?" Brian bertanya dengan mata masih terpejam.


Si penyusup menikmati pelukan eratnya, lalu memejamkan mata, berharap moment ini untuk selamanya.


ceklek


Mata Chelsea membola saat melihat pemandangan yang membuat jantungnya memompa lebih cepat. Kilatan amarah tampak jelas dimatanya yang mulai berkaca kaca. Rasa sesak memenuhi dada hingga naik ke tenggorokkan. Sekelebat ingatan tentang pesan suaminya tak bisa membuat emosinya tenang. Ingin mengamuk, namun sesuatu menahannya. Akhirnya dia berbalik meninggalkan kotak bekal yang dia bawa di meja depan sofa itu. Chelsea lalu berbalik dan pergi tergesa membawa isakannya yang tertahan.

__ADS_1


Siska tau akan kedatangan Chelsea, dia berpura pura tidur, padahal dia mengintip ekspresi menyedihkan Chelsea. Setetes cairan turun dari mata Brian, dalam hatinya dia menggumamkan kata maaf pada istrinya. Dia tau siapa yang membaringkan diri disebelahnya. Dia juga melihat ekspresi istrinya yang menyayat hati.


Siska membalikkan tubuhnya menghadap Brian, menatapnya dalam, tatapannya menyusuri wajah sempurna milik Brian, lalu terkunci pada bibir tipis nan seksi Brian. Perlahan dia mendekatkan bibirnya.


__ADS_2