
"Dennis, bantu aku" Dennis terkesiap saat Chelsea memanggilnya. Bukannya Chelsea tak menyadari jika seseorang mengikutinya, dia membiarkannya karena pasti butuh bantuan. Benar saja.
"A ah.. i iya. Apa yang harus aku lakukan?" tanyanya gugup. Dia tak mau di cap sebagai penguntit.
Chelsea terlihat mengecek ke empat ban yang hanya sedikit kempes. Lalu dia membuka kap mesin.
"Kenapa ditinggalin di tengah hutan? bensin masih banyak, persediaan nya pun masih full. Aah... got you, tali kipas nya putus. Dennis coba kamu turunkan ban cadangan itu. Usia Chelsea yang tak lagi muda sudah tak boleh sembarangan mengangkat beban berat, apalagi ban jeep yang beratnya berkisar 25kg itu. Bisa kena encok dia.
Dennis mengikuti arahan Chelsea, dengan cekatan Chelsea membongkar ban offroad itu untuk diambil ban dalamnya. Dennis membantunya karena Chelsea terlihat cukup kesulitan. Dan berhasil. Chelsea mencari benda tajam sejenis pisau atau..
"Belati, Tuhan sangat baik padaku" gumamnya yang didengar oleh Dennis yang terpana dengan aksinya, masih tak mengerti apa yang hendak Chelsea lakukan. Chelsea terus saja mengutak atik ban itu. Untung saja kotak perkakas yang ada di dalam mobil itu lengkap, jadi Chelsea tak begitu kesulitan memodifnya.
Dennis dibuat takjub dengan aksinya, ban dalam itu dibuatnya sebagai pengganti tali kipas.
"Nyalakan" perintahnya pada Dennis yang berada di balik kemudi.
"Berhasil" Chelsea melakukan toss hi-five dengan Dennis.
"Mau kemana kamu dengan mobil ini?" tanya Dennis.
"Apa kau berniat tinggal disini hingga bantuan yang entah kapan datangnya itu menjemput? atau menunggu salah satu dari kita saling memakan?)" Dennis bergidik ngeri membayangkan kemungkinan yang ke dua.
"Lalu? apa kau tau ke arah mana pemukiman?" lanjutnya lagi bertanya.
Chelsea terlihat berfikir, lalu menaiki kap mobil dan memantau sekitar. Tak puas dengan jarak pandangnya, dia pun menaiki dahan yang dekat dengan kap mobil. Hingga mencapai ketinggian yang diinginkan, Chelsea menilik sekitar, lalu kembali turun.
"Ada pemukiman sebelah barat, kita bisa kesana dan mencari bantuan. Dengan bensin dan cadangannya cukup untuk beberapa kali balikan. Hanya saja, kita belum tau karakter orang orang desa, apa mereka mau menampung kita sementara?"
"Dari mana kamu tau kalo itu barat?"
"Kamu es de nya lulus gak sih? liat arah matahari" Chelsea mentoyor kepala Dennis dengan bebasnya. Dennis tertegun dengan perlakuan Chelsea padanya. Tak ada yang berani meremehkannya di kantor. Apalagi bersikap kurang ajar. Tapi anehnya Dennis tak keberatan diperlakukan seperti itu.
Dennis dan Chelsea akhirnya mengendarai mobil itu ke arah perkampungan. Para warga yang melihat kedatangan mereka terlihat berkumpul dan saling bercakap cakap.
__ADS_1
"Excuse me, can you help us? our plane was crash down in the woods- ah keliatannya mereka gak ngerti" kalimat terakhirnya berupa gumaman yang bisa didengar Dennis. Lalu seseorang yang usianya lebih senior tampak mendekati mereka lalu Chelsea sebisa mungkin memperagakan isyarat bahwa pesawat yang mereka tumpangi jatuh di hutan. Lalu sang tetua terihat manggut manggut dan sedikit berbicara dengan bahasa mereka yang Chelsea tebak adalah bahasa hindi. Tapi bagian mana?
"Narendra Modi? Hasina Wazed?" Chelsea menyebut 2 perdana mentri, dan tetua itu menyebutkan nama Hasina.
"Aaaah.. kita ada di Bangladesh" lalu Chelsea bertanya dengan bahasa isyarat miliknya apakah bisa meminta bantuan telpon agar bisa menelpon ke kedutaan, karena dia tau di negara ini sambungan internet dilarang. Dan mereka menunjukan arah ke kota jika hendak melakukan panggilan telpon. Chelsea dan Dennis pun berkendara ke kota di temani salah satu dari mereka sebagai pemandu.
"Dari mana kamu tau kita ada di mana? apa kamu yakin kalo kita ada di Bangladesh?"
"Kamu gak merhatiin ya, baru aja take off, trus kita jatuh, pasti belum jauh dari tempat awal. Lagian apa kamu gak familiar dengan bahasa mereka? acha acha" Chelsea menggerakkan pangkal lehernya bak orang india yang membuat Dennis terkekeh.
"Lagian mereka menyebutkan nama perdana mentri mereka"
"Aaaah... aku lupa soal itu"
Chelsea dan Dennis berhasil menghubungi kedutaan yang akan langsung disampaikan pada pihak maskapai. Mereka diminta untuk tak berpencar. Mereka pun kembali ke perkampungan lalu sang tetua mengisyaratkan jika kampung mereka tidak bisa menampung para penyintas, namun mereka akan berusaha menyediakan makanan, karena Chelsea ada kendaraan maka Chelsea harus bulak balik setiap hari nya untuk mengangkut makanan itu. Semoga tak terlalu lama hingga bantuan datang.
Chelsea dan Dennis pun kembali dengan membawa ransum dari para penduduk lokal. Para penyintas terheran dari mana Chelsea pulang membawa makanan? dan mobil itu...
"Kami sudah menghubungi pihak kedutaan, kami juga sudah minta tolong pada warga lokal, kita hanya harus bertahan disini hingga bantuan datang. Mereka menolak menampung kita karena jumlah kita terlalu banyak. Untuk sementara, kita tidur di dalam kabin pesawat saja, agar tak kedinginan"
"Dan meninggalkan kalian disini? apa kau akan melakukan itu jika mendapat kesempatan seperti aku?"
"Mungkin. Aku.. aku bersyukur dan berterima kasih, kamu gak egois, padahal kamu punya kesempatan itu" wanita itu mulai menitikan air mata. Chelsea menghiburnya sambil menepuk nepuk sebelah bahu nya.
Mereka membuat api unggun di depan pintu pesawat. Selain untuk mencegah hewan buas mendekat, juga agar hawa hangat masuk ke kabin.
Chelsea menghangatkan diri di depan api unggun, sambil menghangatkan sebagian makanan. Siapapun boleh bergabung, namun mereka memilih berada di balik selimut pesawat.
Namun hanya 1 orang yang bergabung dengannya.
"Kau belum tidur? tanya Dennis.
"Belum. Aku gak tau apa bisa tidur tanpa menelpon Brian"
__ADS_1
"Kalian... semanis itu?"
"Hmm, ya. Kami semanis itu. Jika saja Harvey sudah bisa menggantikan dady nya mengelola perusahaan, kami pasti ga akan pernah berpisah untuk hal apapun"
"Jadi, tujuanmu ke Turki adalah..."
"Yup"
"Luar biasa"
"Bagai mana dengan mu? maksudku keluargamu"
Dennis hanya mengedikkan bahu, lalu melirik padanya.
"Jangan bilang kalo..."
"Yup"
Chelsea sedikit menggeser duduknya menjauh. Dan Dennis tergelak.
"Tenang saja. Aku berhasil move on. Aku menikah dan punya anak 4 tahun lalu. Mungkin saat ini kami akan hidup bahagia, kalau saja... kecelakaan itu tak merenggut mereka" Dennis menunduk.
"My god. I'm so sorry" Chelsea merasa iba dengan nasib Dennis.
"It's okay"
"Apa yang kamu lakukan di Turki?" Chelsea mengalihkan pembicaraan.
"Kunjungan kerja. Dan mungkin aku juga akan dipindahkan ke cabang Turki"
"Bentar. Pengen pipis dulu" Chelsea segera berlari ke arah toilet pesawat. Namun terdengar suara aneh di dalamnya.
brakk
__ADS_1
"My God..." Chelsea memergoki pasangan sedang berbuat mesum disana.