
"Dewi..." Brian memanggil sekertarisnya melalui sambungan interkom.
"Ya, Pak"
"Bawa nona Siska keluar, sebelum dicabik cabik istriku"
"B-baik pak" dengan gugup mendengar perkataan bos nya, Dewi kemudian masuk ke ruangan Brian yang tidak tertutup rapat, dan dia dikejutkan dengan pemandangan memilukan di depannya. Memilukan bagi seorang jomblo sepertinya.
glek
"Maaf, nona. Silahkan ikuti saya" Dewi tak berani melihat pemandangan di depannya yang membuat jantungnya nyut nyutan. Apa kabar dengan wanita tidak tahu malu yang sedari tadi memperhatikan aktifitas didepannya yang mengotori mata serta otak nya.
Karena yang diminta keluar ruangan tak kunjung bergerak, sedangkan pasangan horror itu tak berhenti bergerak, Dewi kemudian menyeret Siska keluar meski dengan sedikit perjuangan karena Siska sempat meronta, namun dia banyak belajar dari pengalaman sebelumnya yang menyeret pergi para ular kadut yang mencoba mendekati Bos ganteng nan dinginnya. Dia tak mau berlama lama berada dalam satu atmosfer dengan pasangan horror ini. Bisa angus terbakar otaknya.
Dewi menutup pintu setelah berhasil menyeret Siska keluar ruangan yang panasnya nauzubillah.
"Hahh..." Chelsea segera menjauhkan tubuhnya dari sang suami yang sudah kembali membara.
__ADS_1
"Aku pulang" ucap datar Chelsea, tanpa mempedulikan penderitaan suaminya yang lagi nanggung nanggungnya. Pasalnya, pistonnya sedang keras kerasnya mengumpulkan tenaga agar menghasilkan gesekan yang sempurna.
"Sayang.... bagaimana dengan nasib ku?"
'Gawat....' ngambek dia, bisa dianggurin 3 malem kamu nak' batin Brian sambil mengelus pistonnya. Menenangkannya.
Benar saja, selama 3 hari 3 malam, Chelsea tak menggubrisnya. Dia bahkan menutup rapat mulutnya. Parah nya, Alexa ikut ikutan ngambek pada sang dady. Dia melakukan hal yang sama. Persis seperti ibu dan anak yang kompak.
Brian putus asa dengan situasi mencekam seperti ini.
"Gak bisa. Ini ga bisa dibiarin. Bisa berkarat piston ku kalo ga dikasih pelumas" gerutunya di kamar. Mereka memang masih berbagi kamar dan ranjang, itulah yang membuat Brian tersiksa. Seranjang tapi ga bisa nyentuh. Bagai kiamat baginya.
Alexa tak menjawab, dia hanya melangkahkan kakinya ke arah pintu depan rumah. Tapi yang mau mengantar tak kunjung keluar rumah. Dia memutuskan kembali masuk untuk mengingatkan dadynya karena waktu sudah hampir terlambat.
Namun yang dilihatnya adalah, sang dady sibuk mencari sesuatu. Ke kamar, dia buka semua laci dan lemari. Ke dapur, dia buka semua toples bumbu dan pintu kulkas. Lalu ke ruang tengah, dia membuka laci buffet, lemari pajangan, sampai taplak meja dia singkap, dan sesekali bergumam "dimana sih?".
Tampak Chelsea yang sedari tadi memperhatikan tingkah suaminya, lalu melirik pada jam dinding. Waktu sudah sangat mepet. Dia hawatir anak gadisnya terlambat ke sekolah.
__ADS_1
"Nyari apa sih ni orang? Kunci mobil dia pegang. Tas kerja ada di kursi ruang tamu. Berkas? berkas apa yang bisa nyelip di wadah bumbu, kulkas, bahkan bawah taplak? mana waktu dah mepet, udah tau jalanan macet" gerutu Chelsea dalam hati.
"Ck, nyari apaan sih?" bentak Chelsea yang sudah gereget sedari tadi.
"Naaaah.... ketemu.." sergah Brian yang menunjuk pada mulut Chelsea, lalu mengecupnya sekilas.
cup
"Akhirnya aku menemukan suara mu sayang. Daaaah, pergi dulu" Brian segera berlari masuk ke mobil, tak lupa dia menyeret tangan Lexa anaknya yang mengulum senyum melihat tingkah menggemaskan kedua orang tuanya.
"NYEBELIIIIIN......" teriak Chelsea di dalam rumah yang terdengar hingga teras, membuat Brian dan Alexa tergelak. Wajah Chelsea memerah, tapi akhirnya senyum nya tak bisa ia tahan lagi. Betapa dia juga sangat merindukan suaminya. Dia tak tahu harus menjalani hidup seperti apa tanpa keluarga barunya ini.
"Lihat saja hukumanmu selanjutnya nanti malam" janji Chelsea dalam hati.
MANA SUARANYAAA😆
__ADS_1
TAMPOL JEMPOLNYA BEIBZ😉😘