Montir Janda Ku

Montir Janda Ku
#63. I Miss You, Baby


__ADS_3

Brian berusaha mencari kabar tentang istrinya. Dia memerintahkan orang untuk mengawasi dan melaporkan setiap gerakan yang terlihat dari kontrakan istrinya. Namun laporan yang sampai hanya kegiatan Alexa yang berangkat dan pulang sekolah menggunakan jasa ojol. Tak pernah terlihat penampakkan Chelsea disekitar rumah itu.


Perasaannya campur aduk. Sungguh terasa sakit saat terpaksa melakukan hal itu.


Sampai seminggu ini, kondisi Brian tak kunjung membaik. Dia menolak untuk memeriksakan diri ke dokter. Dia bahkan memaksakan diri untuk terus bekerja. Dan selama seminggu ini pula, Siska dengan tidak tahu dirinya terus datang, meski Brian menganggapnya transparan.


Dewi dibuat serba salah, dia gemas dengan kedatangan si penyusup, tapi bos nya tak memerintahkan apapun. Dan dia juga tak melihat istri bos datang berkunjung. Apa mereka sedang bertengkar? Itu yang ada dalam pikiran Dewi.


Siang itu...


"B... aku datang, kita makan siang yuk. Ya ampun B, kamu demam"


plak


Brian menepis tangan Siska yang hendak menyentuh kening Brian.


"Setidaknya kamu harus makan, istri mu itu benar benar keterlaluan, suami sakit bukannya diurusin. Aku suapin ya" Siska segera menyiapkan bubur yang sudah dia beli di perjalanan. Lalu dia berusaha membetulkan posisi Brian, mengangkat tubuhnya agar duduk .


Namun nahas, saat Siska dengan sengaja mendekatkan dadanya yang terlihat menyembul, dengan modus membetulkan posisi duduk Brian


hoek......byurrr.....


"aaaaaaaa...... B... kamu apa apaan sih? bilang dong kalo mau muntah. iiiiiii jijik kan...Dewiiiii.....Dewiiii....."


hoek...... hoek......


Brian terus memuntahkan isi perutnya ke tubuh Siska yang terus berada didepannya, hingga akhirnya Siska berlari keluar karena Dewi yang sengaja tak menggubris panggilan setan penggoda.

__ADS_1


Setelah Siska keluar ruangan, barulah Dewi masuk bersama beberapa office boy untuk membersihkan ruangan Brian. Beberapa hari ini Brian selalu muntah muntah saat berdekatan dengan Siska, namun akan berhenti kala melihat foto cantik istrinya. Berganti dengan isakan kecil. Dia memakan makanan yang mama nya kirim dan membuang makanan yang Siska bawa. Dia percaya Siska menaruh sesuatu dalam makanan itu, jadi dia tak mau mempertaruhkan keselamatan jiwa karyawan lain jika dia memeberikan makanan yang Siska bawa pada salah satu dari mereka.


Herannya, seolah tak kapok selalu dihadiahi muntahan oleh Brian, Siska selalu kembali. Bahkan siang itu dia kembali dengan tubuh sudah dibersihkan dan berganti pakaian yang lebih terbuka.


Bukannya tergoda, Brian malah tambah jijik melihatnya, kepalanya tambah oleng kala merasakan nyut nyutan hebat. Seluruh tubuhnya menolak kehadiran Siska, namun dia tak membicarakannya. Dia malahan menikmatinya. Penyiksaan yang dia rasakan ini dia manfaatkan untuk menyiksa Siska.


"B, sudah kau habiskan makanannya?" dia melihat tempat bekal yang dia bawa sudah kosong, senyum miring tersungging di bibirnya. Dia bereskan wadah bekal itu, sesekali melirik pada Brian. Dia mendekat, menusuk pipi Brian dengan telunjuknya. Tak ada pergerakan. Terdengar nafas teratur, ternyata Brian tertidur dengan memeluk ponselnya.


Perlahan dia mendekatkan wajahnya, bibirnya mengarah pada bibir seksi Brian, sedikit lagi menempel, dia memejamkan matanya...


hoekk......


Brian kembali muntah, masuk tepat kedalam mulut Siska.


"cuh.... aaaaaaaaaaaa....." Siska kembali berlari keluar ruangan dengan diiringi tangis karena jijik.


tok


tok


"Pak maaf, ibu anda mengirimkan beberapa pakaian nyonya dan beberapa foto anda dan nyonya. Mau saya taruh dimana pak?" tanya Dewi seraya membawa kembali beberapa office boy dan memberikan paper bag berisi pakaian ganti bos nya. Brian bangkit dan berjalan ke arah kamar mandi khusus sambil meraih paper bag yang disodorkan Dewi.


"Taruh di atas meja kerjaku"


"Baik pak. Rapat hari ini-"


"Online"

__ADS_1


"Baik, akan saya sampaikan"


Selesai membersihkan diri dan berganti pakaian, Brian keluar ruangan pribadinya menuju meja kerjanya. Dilihatnya Dewi masih berada di ruangan itu.


"Ada hal lain Dewi?"


"Eeeee.... sebenarnya ada yang ingin saya tanyakan selain khawatir dengan kondisi bapak"


"Tanyalah, tak perlu khawatir denganku"


"Sebenarnya.... apa bapak sengaja memuntahkan diri pada Siska? bagai mana caranya pak? bisa bapak memberikan tutorial? sebenarnya ada orang yang saya hindari dan saya ingin benar benar memuntahi nya" Dewi bertanya dengan mimik yang polos.


"Heh... mana ada sengaja muntah. Saya hanya benci dengan bau tubuhnya" Brian menjawab datar, pandangannya menatap dalam pada beberapa foto yang tengah dia pegang.


Siska mengendus endus ketiaknya sendiri, lalu mundur satu langkah.


"Tapi... beberapa hari ini saya tak mencium bau menyengat dari tubuh Siska pak"


Brian hanya mengedikkan bahunya, lalu dia memberi isyarat agar Dewi keluar dari ruangan. Dewi pun membungkukkan badan dan berbalik pergi keluar sambil sesekali mencium ketiaknya.


Brian mengusap foto yang tengah dia genggam. Fotonya bersama sang istri kala belum menikah, yang diambil anaknya diam diam dari dapur.


Moment saat mereka tak sengaja berciuman. Lalu dia mengambil foto lain, foto saat mereka menaiki roller coaster, senyum cantik yang mengembang saat melihat ekspresi ketakutan Brian. Lalu foto foto lain yang terlihat romantis. Alexa benar benar mengabadikan moment perjalanan mereka berdua. Lelehan air mata turun diiringi isakan kecil Brian.


"I miss you, baby... I miss you a lot"


Brian mendekap erat foto foto itu, lalu mengambil pakaian Chelsea yang terdapat dalam kotak kardus. Dia menghirup dalam wangi tubuh istrinya yang menempel pada pakaian Chelsea.

__ADS_1


__ADS_2