
Dugg
Kepala Brian menabrak tiang penyangga basement hotel. Dia mengusap keningnya. Entah kenapa hari ini dia tidak bisa fokus. Apalagi setelah ponselnya yang tanpa sengaja masuk ke gorong gorong karena terjatuh tepat masuk ke celah besi tempatnya berpijak saat melakukan panggilan telpon pada rekan bisnisnya. Dia sampai memanggil pemadam kebakaran untuk mengangkat besi penutup gorong gorong dan mencari ponselnya. Bukan apa apa, di dalam ponsel tersebut tersimpan data data penting dan nomor telpon penting yang ia lupa tak ia simpan di cloud penyimpanan. Terutama nomor istrinya.
Benturan itu cukup keras, hingga menciptakan benjolan yang cukup besar. Tiba tiba jantungnya berdetak cepat. Dia takut sesuatu terjadi dengan istri atau anak cucunya. Salahkan dia yang ceroboh dan tak menghafal nomor istrinya diluar kepala. Terlalu mengandalkan teknologi membuatnya lalai dalam hal kecil.
"Semoga dia baik baik aja" sambil mengusap benjolan dikepalanya.
Joni sang asisten sudah nemanggil dan memperingatkannya sedari tadi, namun tampaknya sang bos memang berjodoh dengan tiang beton penyangga bangunan itu.
"Joni, apa kamu menyimpan nomor istriku?" tanya Brian pada asistennya. Kenapa tak terfikir olehnya sedari kemarin?
"Eh iya, ada bos"
"Untuk apa kamu menyimpan nomor istriku?" 😑 ingin rasanya Joni kembali membenturkan kepala bosnya itu.
"Bos yang suruh untuk darurat" jawabnya sedikit gelagapan.
"Bagus. Sekarang saat yang tepat. Kemarikan ponselmu" dengan berat hati dia memberikan ponselnya yang ber gambar latar wanita seksi. Brian menatapnya tajam, sedikit terganggu oleh tampilan awal ponsel Joni. Ingin menatap lama, tapi takut dosa. Gak ditatap, sayang kan? Akhirnya dia menyodorkan kembali ponselnya.
"Kamu dial nomer istriku" Brian menyuruhnya menyambungkan panggilan. Namun lagi lagi suara wanita sialan yang menjawab panggilan diluar jangkauannya.
"Sialan. Terus hubungi. Kabari aku jika sudah tersambung"
"Baik, bos"
tring
tring
Tak berapa lama ponsel Joni berbunyi. Tertera nama penelpon adalah Nona Alexa. Kenapa tak terfikir olehnya?
"Bos, nona Alexa menelpon"
"Alexa? ya ampun kenapa gak kepikiran? kemarikan. Halo Lexa, apa kamu b-"
__ADS_1
"..........."
"Apa maksud kamu Lexa"
"..........."
"Enggak, ini gak lucu. Jangan main main Lexa-"
"..........."
"Gak mungkin.. ini gak mungkin... Chelsea... Chelsea ku..." Brian jatuh terduduk lemas mendengar kabar yang di sampaikan Alexa anaknya.
"Bos.. bos.. halo.. apa yang terjadi?"
"Apa?"
"........."
"Baik, kami segera kesana" dengan cekatan Joni menghubungi pada relasi bisnis bos nya untuk menunda dan membatalkan jadwal meeting. Dia langsung memapah bos nya yang terlihat shock dan lemas di lantai basement kedalam mobil.
"CARI DIA....." Brian mengaum dengan tubuh yang bergetar, lelehan cairan meluap dari matanya yang memerah tak bisa dibendung. Brian dan Joni menuju kantor maskapai penerbangan yang Chelsea tumpangi, dia mencari informasi terkini tentang kondisi dan keberadaan pesawat jatuh itu. Tak sedikit orang yang menangis meraung raung dan marah pada petugas maskapai. Namun yang Brian bisa lakukan adalah berdo'a dalam tangis dan harapan.
"Sayang, bertahanlah... bertahanlah sayang..."
Tak lama keluarlah pihak humas maskapai menyampaikan permintaan maaf dan memberikan kabar terbaru lokasi terakhir kontak dengan pesawat tersebut tak jauh sejak pesawat take off, lalu sang pilot mengabarkan jika salah satu mesin pada bagian sayap pesawat itu mengalami gagal fungsi dan meledak, dan pesawat terlihat dalam monitor diprediksikan jatuh di daerah hutan dekat sungai padma negara bangladesh. Dan pihak maskapai telah mengirim tim SAR kesana dibantu oleh recuer lain untuk membantu evakuasi.
Brian yang mendengar berita itu tak mau menunggu dan meminta ijin agar bisa ikut dalam tim, dengan membawa tim SAR nya sendiri. Pihak maskapai mengijinkannya, lebih banyak bantuan akan lebih baik bukan?
Dia lantas memerintahkan Joni untuk mengerahkan seluruh tim SAR yang mereka punya, dan mulai ikut mencari istrinya. Apapun akan dia lakukan demi menemukan dan menyelamatkan istri tercintanya. Dia tak akan sanggup hidup jika tak bersama Chelsea.
Karena jatuh di rimbunan pohon yang kokoh, pesawat itu tidak membentur tanah, namun tersangkut di antara dahan dahan kokoh.
"Engh... apa aku sudah mati? kenapa rasanya pusing?" Chelsea sadar dari pingsannya. Guncangan kencang itu membuat kepalanya terbentur dinding pesawat. Dia memindai kondisi sekitar. Orang orang sebagian baru kembali kesadarannya, dan merasa lega jika mereka selamat. Untuk saat ini.
Chelsea melirik ke jendela, ingin memastikan keberadaan mereka, namun dia terkejut dengan posisi mereka yang tengah berada di atas pohon, dan pesawat itu sedikit bergerak karena pergerakan didalamnya.
__ADS_1
"Everybody hold on..." teriak Chelsea mengingatkan yang lain agar berpegangan karena pesawat akan jatuh ke tanah.
krieeeeeet....
"waaaaaaaa......" orang orang yang baru tersadar berteriak karena pergerakan tiba tiba pesawat yang kembali jatuh ke tanah.
braaakkk...
Tak berapa lama pesawat itu akhirnya menyentuh tanah. Untunglah tak terlalu tinggi.
Chelsea melepas seat belt dan membantu sebagian orang yang terjebak di dalam kursinya. Beberapa orang pria berusaha untuk membuka panel pintu yang sedikit macet. Chelsea melirik ke arah kabin pilot, pintu itu tak terlihat terbuka.
"Apa pilot dan co-pilot nya sudah keluar? " tanya Chelsea pada salah satu pramugari yang ikut membantu membebaskan penumpang yang terjerat seat belt mereka.
"Setau ku aku belum melihat pintu itu terbuka" Chelsea bangkit dan meraih salah satu lengan pria yang berusaha membuka panel pintu yang masih macet.
"Tuan, tolong bantu aku membuka pin-"
"Chelsea?" pria itu menoleh dan kaget dengan orang yang menarik lengannya.
"Dennis? bantu aku membuka pintu kabin pilot" tak ada waktu untuk bernostalgia. Dennis pun segera mengikuti arahan Chelsea. Dia pun mengajak sebagian pria yang tak turut membantu membuka panel pintu agar mengikutinya dan membantunya.
brakk
brakk
brakk
Pintu yang dirancang agar tidak bisa ditembus pembajak itu akhirnya terbuka. Namun nahas, kondisi di dalam membuat beberapa orang mual melihatnya. Pilot dan co-pilot itu tak selamat.
Terdengar sorak sorai dari dalam, panel pintu itu berhasil dibuka. Chelsea meminta bantuan orang yang mendobrak kabin untuk mengevakuasi korban meninggal untuk di kuburkan agar tak menjadi wabah penyakit.
Untung saja lokasi jatuhnya pesawat dekat dengan sungai, jadi mereka mudah untuk membersihkan diri dan bertahan hidup. Persediaan makanan yang ada di dalam pesawat hanya cukup untuk beberapa hari saja dengan jumlah penyintas sebanyak ini. Karena hari masih siang Chelsea bergerak sambil memikirkan sesuatu. Tak lupa ia menandai setiap jalur yang ia lewati agar tak tersesat. Tanpa ia duga, Dennis mengikutinya dari jarak yang tak jauh, dia khawatir padanya. Meski tangguh, tetap saja ia seorang wanita.
"Binggo..." Chelsea terbelalak dengan penemuannya. Sebuah jeep yang sudah lama ditinggalkan.
__ADS_1