Montir Janda Ku

Montir Janda Ku
#62. Pilu


__ADS_3

Chelsea berlari sekuat tenaga ke arah parkiran. Air matanya meng anak sungai. Sambil sesenggukkan dia memasang helm full face nya, menstarter motor Ducati Panigale V4 lalu melesat meninggalkan area gedung perkantoran. Dengan lihainya dia menyalip para pengendara di tengah hari nan panas, sepanas hatinya. Beberapa kali dia hampir menyerempet trotoar dan pengendara lain dikarenakan pandangannya yang terhalang air mata yang tak kunjung surut. Dia memanfaatkan suara bleyeran motornya untuk berteriak, menangis sejadi jadinya, meluapkan emosi yang menyiksa hati dan jantungnya.


"aaaaaaaaaaaargh.......huuuuuuu....."


Tanpa tujuan, dia terus melajukan kendaraan seharga 2M itu agar bisa meluapkan emosinya. Selama ini dia tak pernah menahan emosi, dia akan langsung marah dan memukul orang yang membuatnya marah. Tapi kali ini dia harus mati matian menahan gejolak di dalam dada.


Dia mengarahkan motornya ke kontrakan sederhana yang dia sewa. Karena saat itu dia membayar sewa langsung untuk 1 tahun.


Saat memarkirkan motor mewah yang kontras mencolok dengan kontrakan sederhana itu, dia turun lalu membuka helm full face dan membantingnya dengan kencang hingga retak.


brakk


Setelah berhasil membuka kunci pintu yang tiba tiba macet, seolah mengolok oloknya dia membanting pintu tak bersalah itu, lalu menjatuhkan diri terduduk di atas lantai dingin itu, dan meraung sekencang kencangnya.


"aaaaaaaaarrrghh....... huhuuuuuu... kenapa bisa sesakit iniii.....huuuuuu..."


hingga 1 jam lamanya dia meluapkan emosinya dalam tangisan, hingga kram menghampiri tangan dan kakinya. Mati matian dia berusaha menormalkan kondisi tubuhnya.


Dia ingin berendam air hangat, namun ini adalah kontrakan sederhana yang tidak memiliki fasilitas air hangat dari keran, namun dia harus memasak air panas dahulu. Dia tak peduli, dia penuhi panci besar dengan air dingin dari bak mandi, dan sedikit mengosongkan air yang berada dalam bak agar kemudian bisa cukup untuk dia isi dengan air panas.


Sambil menunggu air panas, dengan masih sesenggukan, dia memutuskan untuk bebersih rumah yang tak terlalu kotor itu. Setelah dirasa cukup panas, dia lalu menuangkan air panas ke dalam bak mandi fiber berukuran 50x50 tersebut lalu masuk kedalamnya dan mencoba untuk rilex.

__ADS_1


Sayang, bayangan itu kembali menghampiri saat dia memejamkan mata, kembali air mata itu dengan kurang ajarnya keluar dan bergabung dengan genangan air hangat yang merendam tubuhnya. Tubuhnya terus bergetar karena isakannya.


Tinggi air yang sebatas leher itu serasa mencekiknya. Lantunan tangisan sendu memenuhi kamar mandi minimalis. Gaung tangisannya sendiri menambah sayatan di hatinya. Sedikit demi sedikit pandangannya mengabur, rasa sesak memenuhi rongga udaranya. Perlahan kesadarannya menghilang.


"MOMY......"


Alexa terus menangis sesenggukan sambil mengelap keringat di dahi ibu sambungnya yang belum sadarkan diri.


Saat pulang sekolah, Brian menghubunginya dan memberitahukan bahwa dia tak bisa menjemputnya, namun dia berpesan untuk mencari sang momy. Dugaan dady nya ternyata benar, Chelsea berada di kontrakannya.


Saat memasuki pekarangan rumah sederhana itu, Alexa merasa khawatir dengan keadaan momy nya, pasalnya dia melihat kondisi helm mahal yang dibelikan sang dady untuk momy dalam keadaan mengenaskan. Helm berharga jutaan itu terbelah. Dia memutuskan untuk tak membeli dengan merk itu lagi.


'Ya ampun, ternyata tak bisa menahan kuatnya amarah momy' gumamnya dalam hati.


ceklek


Dia menunggu tanggapan dari dalam kala berhasil memutar kenop pintu yang tak terkunci, namun daun pintu belum ia buka lebar. Hening. Dahinya mengernyit kala keheningan yang ia dengar. Suara pilu itu menghilang, saat daun pintu ia buka lebih lebar, dia tak menemukan sosok siapapun di dalam sana. Lalu tangisan pilu siapa yang dia dengar?


Seketika bulu kuduknya meremang, kemudian matanya beralih pada kepulan asap yang berasal dari bak mandi. Keringat dingin bercucuran, aura sekitar mendadak dingin mencekam kala mendapati rambut hitam mengambang di dalam bak mandi. Nafasnya tercekat, ingin berteriak namun saat melihat sosok wajah momy nya di dalam air, dia terkejut. Sang momy tenggelam di dalam bak mandi, dan tak sadarkan diri.


Dokter Elsa, dokter pribadi keluarga Brian yang berumur 40an mengatakan bahwa Chelsea kekurangan oksigen, oleh karena itu dia tak sadarkan diri. Namun untungnya kondisi janin yang berusia 2 minggu baik baik saja. Dia berpesan agar sang momy tidak banyak pikiran agar tidak stress. Melakukan olah raga kecil sangat dianjurkan selama tidak melompat lompat, atau melakukan gerakan kasar dan tiba tiba. Selain itu, tidak boleh mengangkat beban berat.

__ADS_1


"Momy....hik... wake up mom.. please..." Alexa terus sesenggukan sambil menciumi pipi dan tangan Chelsea. Namun tak nampak pergerakan pada kelopak matanya. Tampaknya sang momy benar benar lelah.


"Momy..." pekik lirih Lexa "Bangun mom, Lexa mau buat permintaan, hik... nanti... kalau adek Lexa lahir... Momy jangan buang Lexa ya mom... tetep sayangi Lexa kek sekarang... tetep jadi momy Lexa ya mom... Lexa janji... Lexa bakal jadi kakak yang baik dan melindungi adek Lexa... Momy... momy harus terus kuat... momy jangan pernah tinggalin Lexa...huuuuuu..." kepalanya menelungkup pada sebelah tangannya di tempat tidur disebelah Chelsea terbaring. Sebuah usapan di kepalanya membuat tangisnya berhenti lalu mendongak.


Momy nya sadar, dan tersenyum padanya.


"Momy you're awake... you're awake.. thank you....huuuuuu.... jangan tinggalin Lexaa...." Alexa menghambur dalam pelukan Chelsea yang terbaring.


"Ssshhhh..... sayang... ga ada yang mau ninggalin kamu sayang..." Chelsea mengusap usap punggung serta rambut belakang Lexa.


cup


Lalu mencium pucuk kepalanya.


"Momy mimpi... kamu cemburu sama adekmu" Chelsea sedikit terkekeh kala mengingat mimpinya.


"Lucu ya, padahal adeknya aja belum ada, tapi udah dicemburuin" kembali terkekeh.


Lexa melepaskan pelukannya dan mengusap air matanya, menatap sang momy.


"Itu bukan mimpi, momy. Dedek nya udah ada di sini" Alexa mengusap lembut perut rata Chelsea.

__ADS_1


Seketika mata Chelsea membola, lalu airmata kembali menggenang, tampak senyum haru mengembang di bibirnya. Tangannya ikut menyentuh perutnya yang masih rata.


"Benarkah?"


__ADS_2