
Alexa tengah asik dengan kaki kaki mobil.
"Lexa, ayo makan dulu. Nanti kak Chelsea marah" ajak Elroy yang sedari tadi membujuknya makan namun tak dihiraukan Alexa. Selalu menjawab dengan kata 'iya, nanti dulu', 'sebentar', 'duluan aja'. Benar kata kakaknya, Chelsea. Anak ini harus diseret. Tapi gimana caranya, saat ini Lexa berada di kolong mobil.
"Aku telpon kakak nih sekarang" ancamnya. Dan berhasil. Jika menyangkut momy nya, Lexa selalu kalah. Dia tak ingin membantah dan membuat khawatir ibu sambungnya.
"ck, cemen lu. Apa apa ngadu, apa apa ngadu. Dasar bocah" gerutunya karena Elroy berhasil membuatnya meninggalkan hobinya.
"Heh, siapa yang bocah. Gini gini juga gue paman elo tau" Elroy mengapit leher Alexa dengan lengannya di ketiaknya, lalu mengacak rambutnya dengan kepalan tangan yang lain. Membuat Lexa terbahak.
CIIIIIIIT.....
"Awaaaaas....."
Brakkk....
Terdengar decitan ban dan pekikan orang orang dari arah luar bengkel. Disusul dengan suara benturan keras. Membuat seisi bengkel terhenyak dan berlomba lomba keluar dari bengkel untuk mencari tahu apa yang terjadi di luar sana.
Tiba tiba perasaan Alexa tidak karuan. Dia teringat dengan sang momy yang tadi berjalan keluar dari bengkel, tidak seperti biasanya yang langsung naik ke mobil di area parkiran bengkel jika hendak pergi ke kantor dady nya. Langkah perlahannya berubah menjadi cepat kala sang sopir yang harusnya mengantar sang momy berlari tergopoh gopoh kearahnya. Membawa berita yang membuatnya seolah disambar petir.
"Non.. non Lexa.. Nyonya.. nyonya kecelakaan...."
duerrrrr...
Telinganya seketika mendengar lengkingan. Bulu kuduk berdiri. Merasa ngeri dengan bayangan momy nya yang....
"Nggak... gak mungkin... mom..MOMYYYY..."
Alexa segera melesat keluar bengkel disusul Elroy yang juga panik dengan berita yang didengarnya. Namun logikanya masih terkontrol. Dia segera menelpon Ambulan.
__ADS_1
"Momy...momyyy... minggir kalian semuaaa..." teriak Alexa kala kesulitan mendekat pada ibu nya. Air mata membanjiri wajahnya, bercampur dengan noda oli berasal dari tangan Alexa yang beberapa kali menghapus air mata sialan yang menghalangi pandangannya.
Orang orang yang berkerumun akhirnya memberikan jalan. Pemandangan yang tak pernah dia bayangkan akan dia saksikan secara langsung, dan itu berasal dari ibu sambungnya yang sangat dia cintai. Tubuh itu, dengan perut yang membuncit, tergeletak di sebelah seorang pria yang kondisinya lebih mengenaskan. Namun konsisi ibunya juga tak kalah mengenaskannya. Terlihat aliran darah di kaki sang ibu. Lexa segera menopang tubuh lemah ibunya yang sudah tak sadarkan diri.
"MOMYYYYY..... HUUUUU... JANGAN TINGGALIN LEXAAAA....HUUUU...JANGAN TINGGALIN LEXAAAAA........ BANGUN MOMYY... BANGUUUUUN....." teriakan Alexa menyayat hati orang orang disekitar.
Tak lama suara sirine ambulan pun mendekat. Orang orang turut membantu evakuasi korban. Karena ada 3 korban, dan hanya 1 yang kritis, sedangkan 2 lainnya sudah tak bernyawa, maka pihak paramedis oun memutuskan untuk terlebih dahulu menyelamatkan korban kritis, sedangkan 2 lainnya menunggu ambulan selanjutnya datang menjemput.
nii nuu niii nuuu niii nuuu
Suara pilu dari sirine ambulan menjauh dari lokasi kejadian.
"CHELSEA... MINGGIR SEMUAAA..." raungan Brian membuat orang orang yang tengah berkumpul menyingkir, memberikan jalan padanya.
Dilihatnya genangan darah dari para korban yang menunggu evakuasi. Brian memindai lokasi dan kondisi korban. Dia melihat ada 2 korban berjenis kelamin laki laki. 1 korban tergeletak dengan darah bersimbah keluar dari kepalanya, dia mengenalnya. Itu adalah Erik. Sedangkan korban lainnya berada di atas kap mobil yang diduga adalah pengemudi mobil yang menabrak korban yang tergeletak. Diduga dia terpental kedepan menembus kaca depan mobil karena benturan keras dari mobilnya yang menabrak tiang listrik hingga hampir tumbang. Ada yang aneh dengan situasi itu. Dia melihat genangan lain berasal dari tubuh yang tak ada disana.
"Tu..tuan.. nyonya sudah dibawa ke rumah sakit... dia.. dia kritis tuan" Pak Ino yang sedari tadi tidak dapat menembus pagar manusia akhirnya bisa melaluinya, dan didapatinya sang majikan sedang kebingungan.
"Cepat kita kesana" titahnya tak mau menunggu lama.
Sepanjang perjalanan, mobil mendadak terasa melaju perlahan, seolah mengolok oloknya, membuatnya semakin frustasi.
"Kenapa lambat sekali? injak gas nya pak Ino" teriak Brian dengan tangisannya. Padahal pak Ino tengah melajukan mobilnya dengan kecepatan 80 km/h.
"Minggir.. minggir kalian semua.." teriaknya lagi kala mereka terjebak lampu merah. Semerah matanya yang tak hentinya menangis dan meluapkan amarah. Membuat Pak Ino memutuskan untuk segera pensiun.
Tiba di rumah sakit pusat, Brian segera berlari ke arah IGD. Setibanya di depan lorong menuju ruangan gawat darurat tersebut, dari kejauhan tampak seorang gadis yang tengah berbaring di kursi pengunjung, berbantalkan paha laki laki sebayanya.
"El... apa yang terjadi dengan Lexa?" tanyanya dengan suara bergetar.
__ADS_1
"Lexa.. Lexa pingsan kak" jawabnya sendu.
"Bagaimana dengan kakakmu dan bayinya?" tanyanya lagi.
"Kakak... harus di operasi... bayinya harus segera dikeluarkan, kalau tidak... dua duanya tak bisa selamat" suaranya bergetar. Sungguh malang nasib kakaknya. Baru berkumpul dengan keluarga kandungnya, dia harus melalui tragedi mengerikan seperti ini. Mereka memang sama sama berasal dari panti asuhan. Namun nasibnya jauh lebih beruntung, karena diadopsi keluarga mapan sedari bayi. Hidup berkecukupan, meski sempat merasakan kehidupan hampa tanpa seorang ibu yang merawat dan mendampingi. Tapi itu tidak ada apa apanya. Sedangkan kakaknya, berasal dari keluarga mapan yang mengadopsinya. Namun dibesarkan di panti asuhan, menjalani hidup yang serba kekurangan, dan dia bisa menghadapinya dengan sabar. Sekarang, saat kebahagian datang menghampirinya, kembali harus mengalami tragedi mengerikan yang mungkin bisa merenggut nyawanya. Kebahagiaan yang dia dapatkan, seolah hanya angin semilir yang datang menyejukkan dan segera berlalu menjauh. Elroy pun tak kuasa menahan tangisnya kala mengingat hal itu.
Lampu ruang operasi masih menyala, Brian tak bisa berhenti melangkahkan kakinya berlajan mondar mandir, sesekali duduk menumpukan kepalanya pada kedua tangan lalu menyugar kasar rambutnya.
"Engh.. momy.." terdengar suara lirih dari Alexa yang mulai tersadar. Mama Carol segera menghampirinya. Brian menghubungi mamanya dan kedua mertuanya. Memberi kabar perihal tragedi yang menimpa istrinya. sehingga mereka langsung datang dengan cepat.
jegrek
Pintu ruang operasi terbuka dari dalam. Seorang laki laki paruh baya berkacamata itu melepas maskernya.
"Dok.. gimana istri saya?" Brian langsung pada intinya.
Dokter itu menggeleng. Brian mengernyit, lalu maju dan meraih kerah sang dokter dengan mata memerah.
"Kami sudah berusaha semaksimal mungkin. Bayinya selamat, namun karena prematur maka harus disimpan dalam kotak inkubasi. Dan ibu nya..."
"Jangan bertele tele" bentak Brian yang kemudian diperingatkan untuk tenang melalui usapan lembut sang mama di lengan atasnya.
😢
😢
😢
😢
__ADS_1