Montir Janda Ku

Montir Janda Ku
#108. Ngelunjak


__ADS_3

Brian meraih remot untuk mengunci pintu. Tak ada alasan baginya untuk mengabaikan istrinya.


"Sayangnya aku pinter bener ngusir orang" ucap serak Brian yang kemudian menggapai lembah tempat bersemayam pusakanya, menelusupkan tangannya ke balik kain bertali itu.


sreet


Chelsea mengeluarkan pusaka Brian yang memang sudah terasa sesak didalam sana karena ulahnya.


"Bukan salahku kalo dia merasa terusir"


"Tapi aku suka, sayang. Penat ku hilang"


Brian kemudian menyambut permainan Chelsea yang selalu membuatnya betah berduaan dimanapun. Apalagi sekarang bengkel Chelsea berada dekat dengan kantornya. Cukup berjalan kaki saja mereka sudah bisa saling meluapkan rasa rindu.


Mario yang tengah tertegun di luar ruang kerja Brian berkeringat hebat. Pasalnya sudah lama ia tak melakukan pelepasan. Mengingat aksi belai membelai pasangan kliennya tadi membuat belalainya pun ingin dibelai.


Dewi yang memperhatikan perilaku Mario yang ia ketahui adalah klien bos nya ini mengerutkan kening.


"Pak, maaf. Toilet sebelah sini, pak" Dewi memberi petunjuk arah toilet ke sebelah kanannya.


"Ah..o oh i iya. Terimakasih" Mario langsung beranjak pergi ke arah kiri. Arah berlawanan dari yang di tunjukkan Dewi. Semakin dalam kerutan di dahi Dewi.


"Dasar orang aneh" gumamnya.


Tiba tiba Dewi teringat dengan pesan ibu negara. Melihat gelagat pucat Mario, dan pintu ruangan bos nya yang tertutup rapat, membuat Dewi merasa iba dengan kondisi Mario.


Mario terus melangkahkan kakinya ke arah lift. Pikirannya terus membayangkan tayangan ulang gerakan seduktif istri kliennya pada suaminya sendiri. Namun entah kenapa tubuhnya sendiri bereaksi seolah merasakan sentuhan itu.


"Gawat, udah lama gak mendarat nih roket keknya" pikirnya gelisah. Padahal selama ini dia selalu rutin mendaratkannya pada siapapun yang merespon ajakannya. Atas dasar butuh sama butuh tentunya. Dia tak mau menyia nyiakan uangnya demi kebutuhan biologisnya. Bermodalkan paras tampan, tubuh atletis, dan mobil mewah, dengan mudahnya dia menarik perhatian lawan jenis. Namun dia enggan melanjutkannya setelah satu kali berhubungan. Dan tak pernah merasa penasaran terhadap wanita lain selain dengan wanita pujaannya yang menganggapnya hanya sebagai kakak.


Mario pun lantas memasuki Bugatti Veyron nya.


"Perasaan pernah liat mobil ini" Mario memperhatikan Rolls Royce merah ber plat B 342 MY, serasa tak asing dan baru baru ini dia melihatnya.

__ADS_1


"Cewek itu, apa dia petinggi disini?tapi saat itu penampilannya..." Mario melajukan Bugatti nya, namun dia hanya berputar putar di sekitar area parkir. tiba tiba dia teringat dengan sosok istri Brian yang penampilannya sama dengan wanita yang telah menolongnya tadi pagi.


tuingg


Saat memikirkannya lagi, tubuhnya kembali bereaksi. Dia bingung hendak melampiaskannya pada siapa. Tidak mungkin kalau harus dengan sekertarisnya lagi. Meski kerap menggodanya untuk mengulang adegan panas, namun Mario malas melakukannya dengan orang yang sama. Tubuhnya tak bereaksi sedikitpun. "aaaargh... siang siang gini harus nyari kemana? mana jam 2 ada meeting lagi" gumamnya frustasi. Dia hanya memiliki waktu 2 setengah jam lagi. Perutnya meronta ronta, disusul bawah perutnya yang juga meronta pelepasan.


Akhirnya dia memutuskan untuk mampir ke hotel sekedar mendinginkan tubuhnya dengan berenang. Ya barangkali ada bonus harapannya. Namun harapannya kembali sirna, kala tubuhnya tak memberikan reaksi apapun kala berkenalan dengan seorang wanita. Persetan dengan etika. Akhirnya dia melakukan pelepasan dengan membayangkan Chelsea. Setidaknya dia tidak merebutnya, hanya membayangkannya.


Tiba tiba gerakannya terhenti. "Sampe kapan ?" gumamnya yang terpikirkan sesuatu.


"Sayang, ko ngecilin sih?" tanya partner dadakan yang sudah hampir mencapai puncak namun tiba tiba tak merasakan apapun.


"heh, sepertinya dia tak berselera denganmu" sarkas Mario yang langsung bangkit dan membersihkan diri dengan cepat. Lalu segera memakai pakaiannya dan pergi tanpa sepatah katapun lagi, membuat sang partner geram.


cangcimen cangcimeeeen😅


***


Elroy seharian ini sibuk melakukan bookingan untuk pernikahannya yang telah diputuskan bulan depan. Dia tak menyangka kakak dadakannya itu sangat antusias. Seolah dia yang akan menikah.


tring


tring


"............"


"Mami, El kan udah bilang jangan dikasih harepan. Dari dulu mami tau kan kalo perasaan El sama Lexa udah titik. Jangan dibaikin anak kek gitu, bener kan ngelunjak" Elroy tak bermaksud mengomeli ibunya, namun kondisinya semakin susah dikontrol. Wanita yang tergila gila padanya seolah diberi lampu hijau karena kebaikan sang mami.


"......….."


"Iya, El ngerti. Mami cuma gak tega. Tapi mi, coba deh mami pikir, kalo sampe Lexa tau mami baikin cewek lain, apa mami pikir Lexa gak akan sakit hati? mami lebih tega sama Lexa, gitu? yang tegas ya mami sayang. El gak mau punya masalah sama siapapun. Dia gak ada hak buat ngelarang El nikah sama siapapun, karena El gak pernah ngasih setitik harapan pun sama dia. Udah ya mi, El harap, mulai detik ini, mami kasih ketegasan sama dia. Demi kebaikan keluarga kita ya mi. Dah mami, El banyak urusan"


Elroy memijit pangkal hidungnya. Wanita yang sekalipun tak pernah dia ladeni terus saja mendesak sang mami agar membatalkan pernikahannya dengan Alexa. Padahal mami hanya bersikap ramah padanya. Namun disalah artikan jika mami memberinya lampu hijau.

__ADS_1


"Jangan sampe di handle kakak deh, bisa runyam" Elroy mengusap wajahnya kasar.


Berhati hatilah dalam berucap😅


"MAMIIII.... Chelsea sang ratu dataaaaang...." dengan mood yang berseri seri setelah dari kantor Brian, suaminya. Chelsea mendadak ingin bertemu ibunya.


"Mam... eh ada tamu, ya" Chelsea terheran dengan tamu 'tak biasa' ibunya.


"Sales apa mba? kok gak ada mobil produk nya?"


"eh, bukan. Saya-"


"Mami, bikinin rujak asinan laah, Chelsea kangen rujak asinan mami" Chelsea tak menghiraukan penjelasan tamu tak biasa maminya, dia malah bermanja ria dengan sang ibu yang dibalas kekehan.


"Iya, mami keknya mau dapet cucu lagi nih. Kamu temenin dulu Lisa ya, sayang"


cup


Mami mengecup pucuk kepala Chelsea sayang.


"Oiya, jualan apa tadi?" lanjut Chelsea.


"Bukan kak, aku bukan sales. Aku cuma main aja kesini kok"


"Ah.. main. Temen Mami?" Lisa mengangguk malu malu.


"Jangan jangan... eh maaf ya tante kalo Chelsea gak sopan. Abis mukanya keliatan jauh lebih muda dari ibu saya. Maaf. Operasi dimana tan?" tanya polos Chelsea.


"Operasi?"


"Iya. Operasi plastik dimana? sakit gak? sebadan habis berapa tan? keren ya jadi kenceng lagi. Bisa bikin- MAMIIII PAPA DIMANAAA" ucapan Chelsea menggantung kala mengingat papanya yang mungkin bisa tergoda oleh penampilan muda teman mami nya ini. Dia gak rela jika papa nya direbut dari mami nya.


"Papa masih di kantor lah sayang, masa jam segini udah pulang" teriak mami dari arah dapur.

__ADS_1


"Mami yakin? awas aja kalo Chelsea mergokin papa sama yang lain, bisa kenalan sama dongkrak tuh cewek"


__ADS_2