
Chelsea benar benar merealisasikan niatnya setelah tak bisa menghubungi Brian sejak tadi pagi. Sambil sesenggukan dia merapikan pakaiannya ke koper. Tapi tidak semua. Pakaian pakaian kotornya ia tinggalkan untuk El agar Alexa tidak menolaknya. Pernah satu kali dia memaksa El memakai pakaian yang sudah seharian ia kenakan. Bau keringat? tentu saja asem. Tapi buat bumil satu itu serasa mencium ribuan bunga mawar. Dan berhasil. Untuk pertama kalinya selama 5 minggu El akhirnya bisa tidur memeluk istri tercintanya. Bahkan selama di rumah dia memakai pakaian model indies Chelsea sehingga sebagian perut El terlihat. Chelsea dan Axel sangat puas menertawakannya. Tapi El tak peduli.
"Momy.. do you realy have to go?"
"Yes, dear. Momy gak tenang kalo belum ketemu dady. Mengertilah" Chelsea memeluk dan mengusap sayang kepala belakang Alexa. Bukannya Alexa tak bersyukur akan kehadiran Chelsea yang sangat sangat mencintai ayahnya dan dirinya. Hanya saja rasa paniknya kadang mengalahkan logika dan kewarasannya.
"Tidak bisakah momy menunggu hingga dady menghubungi?"
"You know that I can't. I'll be fine. You'll be fine"
"And so will he. Trust me mom. Please, just this once" Alexa mengusap air mata Chelsea yang tiba tiba meluncur. Salahkah dia jika menghawatirkan ibunya ini?
"Hhhh... susah yakinin yang udah cinta mati mah. Tapi momy harus janji. Bakalan baik baik aja. Jangan lakuin sesuatu yang bahaya. Inget umur mom. Cucu nya udah mau dua. Jangan sok sok an jadi montir dadakan trus ngangkatin yang berat berat. Trus-"
"Iya, bawel. Dunia udah kebalik emang. Sekarang anak yang bawelin emaknya" mereka berpelukan dan tertawa bersama.
Chelsea berpamitan pada Axel. Menciuminya sambil menitikan air mata. Dia tak pernah berpisah dari anak itu jauh dan lama. Hanya sekedar ke bengkel dan kantor. Namun kini mereka harus berpisah jauh, sangat jauh. Meski hanya sementara, namun belum apa apa Axel sudah merasa kehilangan.
"Honey, please don't cry. I'll be back soon okay. I"ll bring your dady bear back home with me"
cup
Chelsea mengecup pipi gembulnya yang basah karena air mata yang membanjiri.
Axel memalingkan wajahnya tanda merajuk. Dia tak kuasa melihat punggung sang momy menjauh. Pelukan di leher Alexa mengetat, sambil sesenggukan dia menyembunyikan wajahnya di leher Alexa.
"Momy pergi dulu ya sayang. Momy janji bakalan langsung ngabarin kalo udah sampe. Maafin momy ya sayang. Kalian baik baik ya" Chelsea tak bisa menahan tangis haru nya. Dia mantap berbalik dan masuk ke dalam taksi. Meninggalkan Axel yang kini menangis tergugu lalu berteriak.
__ADS_1
"MOMYYYY....."
Chelsea menyumbat telinganya dengan ear set.
All of my life
I thought I was right
Looking for something new
Stuck in my ways
Like old-fashioned days
But all the roads led me to you
The house that you live in don't make it a home
People in life, they will come and they'll leave
But if I had a choice I know where I would be
Through the lows and the highs, I will stay by your side
There's no need for goodbyes, now I'm seeing the light
When the sky turns to grey and there's nothing to say
__ADS_1
At the end of the day, I choose you
Tangisnya diiringi lagu I Choose - Alessia Cara
Dia memang memilih menemui Brian untuk memastikan mimpinya hanya bunga tidur. Dia menyesal tak meminta ikut padanya. Karena ada anak anak pikirannya terpecah kala Brian melakukan perjalanan jauh.
Tiba di bandara, Chelsea mengenakan kacamata hitam dan besarnya, agar menutupi mata bengkaknya. Dia tak begitu kesulitan dengan kopernya. Hanya satu, dan tak penuh. Selain sebagian ditinggal untuk El. Disana Brian pasti membelikannya pakaian setelah merobeknya.
Waktu take off sudah tiba, Chelsea segera masuk dan mencari tempat duduk. Ear set nya masih setia bertengger di telinganya. Meski lagu yang ia mainkan masih itu itu saja.
Karena posisinya dekat jendela, Chelsea dengan bebasnya melamun menerawang menatap gundukkan awan, lalu kabut tipis tipis dekat jendela timbul dan hilang, lalu kabut tipis itu berubah abu gelap, dan pesawat itu bergetar dan tersendat sendat. Para penumpang terlihat panik saat dia melepas ear set terdengar teriakan panik dan histeris.
Kepala Chelsea celingukan mencari tahu apa yang terjadi, namun orang orang terlihat panik. Suara flight attendant di depan dan di speaker tak terdengar jelas. Lalu Chelsea melihat keluar jendela masih mencari tahu apa yang sebenarnya terjadi, hingga dia melihat sayap pesawat itu terbakar.
"My God... please save us" do'a lirih Chelsea kala mengetahui sumber masalah.
Pesawat itu menukik, Chelsea terus merapalkan do'a keselamatan dirinya. Dia berharap masih bisa berkumpul dengan suami dan keluarga tercintanya.
Sambil menunduk sesuai arahan flight attendant, dia tak berhenti merapalkan do'a, tangisnya tak bisa ia bendung.
Pesawat semakin dekat dengan tanah, guncangan terasa semakin kencang.
"Maafkan aku bear... I love you...BEEEAARR...."
crashhhh.....
😢
__ADS_1
😢
😢