
Chelsea merebahkan dirinya selepas mandi. Ia memandangi langit langit kamar yang berukuran 3mx4m itu. Bayangan tentang percakapan mereka saat makan siang tadi mengusik hati dan pikirannya.
flash back on
"Sewaktu tante melahirkan, saat itu suami tante, Ares, sedang ada di Hongkong untuk menandatangani kontrak merger perusahaan. Prediksi melahirkan sebenarnya masih seminggu lagi, tapi entah saat itu tiba tiba perut terasa mulas. Proses melahirkan termasuk singkat, entahlah, keyakinan tante mengatakan jika anak tante tidak mau menyusahkan tante, tidak mau membuat tante menderita" setetes cairan lolos dimatanya. Kami para pendengar hanya bisa menatapnya sendu, penuh simpati. Namun hanya 1 orang yang terlihat acuh tak acuh, seolah merasa bosan dengan kisah masa lalu tante Betty.
"Saat suara tangis yang tak begitu kencang itu terdengar, perawat menaruhnya diatas tubuhku untuk inisiasi awal setelah membersihkannya, lalu menaruhnya kembali ke box penyimpanan. Satu hal yang tante ingat jelas waktu menyusuinya, tanda lahir berwarna merah di lehernya, waktu itu terlihat kecil, namun tante ingat jelas, bentuknya seperti paw kucing. Dan setelah itu perawat menaruhnya kembali, dan tante tertidur karena lelah. Saat terbangun.... dia sudah ga ada.... tante... tante depresi berat, karena tante sudah menunggu kehadirannya selama 2 tahun" tangisnya pecah seketika. Mama Carol mengusap punggung tangan tante Betty, dan membisikkan kata sabar padanya. Sedangkan Siska, anaknya yang katanya baru ditemukan itu, asik dengan Mocca latte nya. Tak ada gurat kesedihan dari ekspresinya. Tapi itulah dia, yang selama ini ku tau. Tak pernah perduli dengan siapapun, kecuali dirinya sendiri.
flash back off
Entah kenapa, cerita tante Betty mempengaruhi pikirannya. Pikiran buruknya tentang kedua orang tuanya yang menelantarkannya. Mungkinkah kisahnya juga seburuk kisah anak tante Betty?
Namun bayangan lain mengusik pikirannya kala Brian mengatakan sesuatu saat di dalam mobil sewaktu mengantarkannya pulang.
__ADS_1
flash back on
"Sayang, apa yang kamu pikirkan?" Brian mengelus kepala Chelsea karena sepanjang perjalanan, dia hanya terdiam, pandangannya menerawang melihat ke jendela sampingnya, alisnya tampak berkerut. Pandangannya seketika beralih pada kekasih tampannya.
"Engga, cuma lagi nginget nginget aja"
"Inget apa?"
"Sejak kapan Siska punya tanda lahir sama kek punyaku? setauku, dia gapunya tanda lahir di leher deh?" ucapnya heran.
"hmm..." jawabnya hanya mengangguk.
"Gatau sih ya, hanya dari tadi juga aku berpikiran kayak, sebenernya kalo diliat dari segi fisik, yang cocok jadi anaknya tante Betty itu kamu. Bentuk wajah, warna mata, bibir, hidung. Aku sampe kayak liat kamu versi paruh baya, seolah kalian itu kembar beda generasi."
__ADS_1
"Ngarang kamu"
"Eh beneran, serius. Tapi ya udah ya, ga usah dipikirin. Toh banyak yang wajahnya mirip tapi gada hubungan keluarga"
flash back off
"Mungkin gak ya kalo tante Betty itu ibuku?" tatapannya masih memandangi langit langit kamarnya yang setia menaungi kamarnya.
"Mikir apaan sih gue? bego banget kalo ngarep. Dah lah, mending bobo" ia lantas memejamkan matanya, namun otaknya tidak bisa diajak kerjasama
"aaaargh..... bisa gila gue kalo kek gini"
Chelsea kesal karena setelah 30 menit lamanya ia memejamkan mata, namun tak bisa terlelap. Akhirnya dia memutuskan untuk berbenah rumah, di tegah malam.
__ADS_1
Di tempat lain, di sebuah kamar mewah, seorang wanita paruh baya memandangi helaian rambut yang ia taruh diatas sapu tangan berwarna putih. Menggenggamnya erat, sambil meneteskan air mata. Ia meraih plastik bening yang cukup untuk menampung sikat gigi miliknya dan juga sapu tangan yang berisi helaian rambut tersebut.
"Semoga kali ini instingku tak salah Tuhan, tolonglah."