
"Cara lo basi tau ga. Apa yang lo punya, ga sebanding dengan yang gue punya. Foto yang lo pikir hue selingkuh itu mau lo bawa kemana, hah? Sedangkan foto yang gue punya, sudah gue kirim sama mami palsu lo. Mungkin sebentar lagi dia bakalan kirim ke kantor polisi. Sadar ga sih lo kalo elo udah ngelakuin penipuan?" ancam Chelsea dengan nada tenang. Orang orang yang terdiri dari 2 security, dan sekertaris Brian tampak menikmati pertunjukkan. Kapan lagi mereka melihat aksi sang istri bos mencincang habis lawannya.
"Lo pikir MAMI ga tau dengan akal bulus kalian?"
"M maksud lo?"
"Elo dan bu Darsih berkomplot menipu tante Betty, Asal lo tau ya, Bu Darsih itu ibu kandung lo sendiri" Siska membelalakan matanya, mulutnya menganga.
"Ga... ga mungkin... ibu kandung gue mami Betty... ga mungkin gue punya ibu udik kek gitu" mata Siska berkaca kaca, tak percaya dengan apa yang dia dengar.
"Trus yang pantes jadi ibu lo, tante Betty, gitu? Sayangnya elo yang ga pantes jadi anaknya. Gue yakin.... sebentar lagi lo bakalan dijemput polisi" Chelsea mengangkat tangan kanannya, terlihat menghitung waktu pada jam tangan cantik nan sederhana.
Siska terkesiap dengan apa yang Chelsea sampaikan. Terlihat gelagapan, lalu memutuskan pergi dari ruangan itu sambil berlari menerjang orang orang yang menghalanginya.
"Fuhhh.... cape ngadepin orang kek gitu. Udah pak, silahkan kembali ke tempat masing masing. Dan Dewi, tolong bikinin susu buat saya dan teh buat suami saya" perintah ibu negara segera mereka patuhi.
"Baik bu" jawab mereka bersamaan sambil sedikit membungkukkan badan.
Chelsea menggiring Brian agar duduk di sofa. Bagai anak kecil yang tengah dibujuk, Brian mengikuti arahan Chelsea dan duduk di sofa.
"Kamu ga apa apa, dady bear?" tanyanya sambil mengusap kening, pelipis, pipi dan rahang sang suami yang terlihat diam membisu.
__ADS_1
"Kamu... kamu tau dari mana fakta fakta itu?" tanya Brian merasa tidak enak menyembunyikan sesuatu dari istrinya. Dia takut istrinya ini merajuk dan ngambek 3 hari lagi.
"Dari mama" jawabnya tenang sembari merangkum pipi Brian lalu mengecup bibirnya sekilas.
"Maaf..." Brian tertunduk, menyesali perbuatannya yang tak langsung jujur padanya meski untuk kebaikannya. Tapi dia akui caranya salah.
"Aku tau maksud kamu baik, bear. Tapi sekarang kita keluarga. Aku milik kamu, dan kamu milik aku. Ga boleh ada rahasia diantara kita. Apapun itu kita hadapi bersama. Kita ga akan tersakiti dan menyakiti satu sama lain, kalo kita bicarakan semua yang mengganjal. Kita cari solusi bersama. Kalo kamu memutuskan segala sesuatu sendirian, berarti kamu siap hidup sendirian" Kalimat terakhir terdengar horror di telinga Brian. Dia langsung menggelengkan kepalanya dengan cepat.
"Nggak, honey... mana bisa aku hidup sendirian tanpa kamu. Jangan pernah berfikir kayak gitu ya, please"
"Untuk itulah, jangan pernah memutuskan segala sesuatu sendiri"
"Iya sayang. Sekali lagi maafkan aku ya. Aku salah, sangat sangat salah" Brian menghujani Chelsea dengan kecupan di bihir dan wajahnya, membuat Chelsea terikik.
"Iya sayang. Yuk berangkat"
Brian memutuskan pergi ke restoran Sunda yang dekat dengan kantornya. Dengan penuh kebahagiaan dan keceriaan mereka turun dari mobil dan melangkah memasuki restoran.
"BB..." seseorang meneriakkan namanya saat menaiki anak tangga. Dia jengah dengan orang yang memanggilnya. Pun dengan Chelsea yang memutar bola matanya, malas juga dengan kehadiran 2 orang yang mereka hindari.
"Kamu makan siang disini?" tanya wanita bule dengan ekspresi tidak menyenangkan.
__ADS_1
"Hai si, apa kabar?" tanya pasangan si cewe bule. Namun Chelsea tak menanggapi.
"Iya, kita makan siang disini. Permisi. Ayo sayang" Brian langsung menarik pinggang Chelsea dan menuntunnya untuk masuk.
"Ga nyangka ya selera kamu sekarang kayak gini?" teriaknya sambil menyunggingkan senyum sinis.
"Tentu saja seleraku lebih baik sekarang. Bagaimanapun lokal lebih baik. Karena kemarin aku mencoba dengan selera luar, ternyata sampah" sarkasnya yang langsung membuat Cecil si mantan istri bungkam dengan wajah semerah tomat menahan amarah.
Tanpa menunggu balasan, Brian kembali menggiring Chelsea ke dalam restoran dan mengambilkan piring untuk mengambil nasi dan memilih lauk. Karena restoran sunda selalu menggunakan konsep prasmanan alias self service.
"Kamu ga papa bear?" tanya Chelsea yang memperhatikan keterdiaman suaminya.
"Ga papa, sayang. Cuma... kadang penyesalan itu datang bersamaan dengan rasa syukur. Aku nyesel pernah menjatuhkan hatiku pada orang yang salah. Tapi aku juga bersyukur dengan kehadiran Alexa. Jika saat itu dia ga pergi... apa kita akan bertemu? aku bersyukur dia tinggalkan, lalu bertemu kamu. Entah apa jadinya jika saat itu aku mempertahankan hubunganku dengannya" ucapnya sendu.
"hei bear. Aku ga rela... bayangan dia ngerusak hari hari kita. Kenapa ga kamu kubur aja pengandaian yang selalu kamu buat saat habis ketemu dia?"
Brian menatap dalam mata itu. Benar juga, kenapa dia selalu berandai andai saat habis ketemu Cecil? Dia adalah masa lalunya. Tidak pantas merusak masa kini dan masa depannya. Dia tersadar, sikapnya ini bisa menyakiti perasaan istrinya.
"Maaf, sayang. Lagi lagi aku menyakitimu" ucapnya tulus.
"Udah, kita makan ya"
__ADS_1
GAAAAIS MAAF PART INI KETINGGALAN🤭🤭
SEE YOU NEXT PART YA😉