
"Chelsea, apa yang kamu lakukan? Kamu bisa mati" Dennis terkejut dengan kemunculannya yang tiba tiba, sehingga dia harus menginjak rem cukup dalam.
"Mungkin lebih baik mati. Jalan" Chelsea tiba tiba masuk ke mobil Dennis dan menyuruhnya agar menuruti perintahnya. Dennis yang melihat gelagat panik Chelsea pun segera menjalankan mobilnya menuju mansionnya sesuai arahan Chelsea.
"Tunggu disini" titah Chelsea yang langsung lari ke dalam mansion untuk mengambil apa yang harus ia bawa. Termasuk surat nikahnya.
"Cabut" titahnya dingin. Dennis baru melihat aura dingin Chelsea yang seperti ini. Selama ia kenal, Chelsea memang terkenal galak, jutek, ga gampang di modusin. Tapi kalo dingin, dia merasa kengerian akan terjadi jika seseorang menghalangi jalannya. Tanpa banyak bertanya, dia melajukan roda 4 nya.
"James, batalkan semua meeting hari ini. Saya ada keperluan mendadak"
perintah Darren pada sang asisten melalui sambungan telpon blutut.(Bluetooth😁)
"Maaf" ucap Chelsea. Singkat. Padat. Jelas.
"It's ok. I'm yours"
singggg
Chelsea menoleh seketika dengan tatapan membunuh.
glekk
"Maksud gue, ga papa kali, kek ke siapa aja" tersungging senyuman kaku nan terintimidasi.
Waktu menunjukkan pukul 8 malam waktu setempat.
"Joni, kamu dimana?" tanyanya pada asisten Brian.
"Kami sedang meeting di Hotel S"
"Apa Bos mu sedang keluar?"
"Tidak, nyonya. Sedari tadi beliau bersama saya" kerutan alis mendalam. Ia sungguh bingung.
"Dimana ponsel bapak?"
"Tadi ponselnya terjatuh, kami sudah meminta bantuan pihak hotel untuk mencarinya"
Chelsea terdiam. Apa perkataan anaknya benar? Brian baik baik saja? tapi kenapa ada wanita itu? benaknya terus berkecamuk.
"Halo, nyonya? Apa ada lagi? kalau tidak ada, maaf saya harus menutup telponnya"
"Ah, iya. Bilang pada bosmu sempatkan menghubungiku"
__ADS_1
"Baik, Nyonya"
Dennis melihat kerutan yang dalam di dahi Chelsea, terlihat tengah berfikir.
"Kenapa? apa yang terjadi?"
"Ke Hotel S" tanpa menghiraukan pertanyaan, Chelsea memintanya membawanya ke tempat Brian melakukan meeting.
Dennis menurutinya. Kebetulan lokasinya sudah dekat. Dia pun mengarah pada basement hotel.
tring
tring
Panggilan dari nomor Joni.
"Ya Jon?"
"Honey, astaga. Aku minta maaf kalo bikin kamu ga tenang. Ponselku terjatuh entah dimana. Aku sudah melapor pada pihak hotel. Ini masih meeting sayang-"
"Aku ada di hotel S" potong Chelsea.
"Apa? kau menyusul kesini? ya sudah, kamu tunggu aku di kamar no 3044, biar nanti aku kirimkan makanan ya. Maaf ya sayang, aku harus kembali ke ruangan. Bye, Love you. Muach"
Chelsea sedikit lega. Tak ada keraguan dalam suaranya. Jadi apa yang salah dengan perasaan ini?
"Kamu tahu di ruangan mana hotel ini menyediakan tempat rapat?"
"Kenapa ga kita tanya pada customer service?"
"O iya. Bego gue" dengan datarnya dia mengumpat pada diri sendiri. Membuat Dennis seketika tertawa.
Mereka menuju ruangan yang diarahkan petugas hotel.
Di luar ruangan meeting terlihat Joni sedang melakukan panggilan telpon.
Chelsea berdiri di depannya dengan melipat kedua tangannya di dada. Dengan sorot mata yang tajam.
Sungguh, dia merasa kesal dan merasa dipermainkan dengan keadaan ini.
"Baik pak. Nanti saya sampaikan"
tut
__ADS_1
"Nyonya, ke kenapa..."
"Panggilkan Bos mu. Sekarang"
"T Tapi-"
"SEKARANG" Chelsea sudah tak bisa berfikir jernih. Dia butuh bertemu suaminya. Atau dia bisa gila.
"B Baik, bu" Joni dengan tergagap dengan titah sang Ibu Negara.
"Luar Biasa"
"Apa?"
"Seorang Celsi, yang nota bene cuma montir, bisa bikin seorang ajudan ketar ketir" ucapannya santai, sambil memasukkan kedua tangannya ke saku celananya.
"Biasa aja kali"
"Eh, tapi dia manggil elo 'nyonya'?"
Chelsea tersenyum miring. Pandangannya menatap tajam pada pintu kokoh yang belum mau terbuka.
jeglek
Munculah sosok yang dia rindukan dengan ekspresi khawatir. Tanpa menunggunya mendekat, Chelsea berlari dan menghambur ke pelukannya. Menciumi wajahnya, memastikan jika itu adalah suaminya, membuat mereka yang ada disana bertransformasi menjadi nyamuk.
"Kamu jahat, udah bikin aku khawatir" Chelsea menangis dalam kecupannya. Timbul rasa bersalah pada Brian. Seharusnya dia memberinya kabar terlebih dahulu sebelum melapor pada pihak hotel. Betapa bodohnya dia, sudah membuat istrinya jauh jauh menyusulnya ke sini, dengan penampilan yang semrawut. Mungkin selama ini dirinya membuat istrinya kalut.
"Sayang, maafkan aku. Aku salah tidak memberitahumu terlebih dahulu. Maafkan aku. Maafkan aku"
Sumpah, orang orang di sekitar yang mungkin adalah para petinggi di perusahaan masing masing harus disuguhkan dengan drama seperti ini?
EKHEM
Deheman berjama'ah yang datang dari arah ruang rapat menginterupsi mereka. Brian baru sadar jika pintu ruang rapat terbuka lebar. Mata Brian mengarah pada Joni. Ingin menyalahkannya. Namun tidak ada penampakkan seorang Joni. Mungkin dia cari kontrakan.
"Sayang, maaf aku harus menyelesaikan ini. Kamu- kamu tunggu di kamar ya" ucapannya sedikit terjeda kala melihat siapa yang membersamai istrinya. Namun dia menyerahkan kunci kamar nya. Apa keputusannya tepat, memberikan kunci kamar itu? Mengetahui siapa orang yang membersamai istrinya sedari tadi bukanlah rahasia bagi kalangan petinggi perusahaan. Seorang Player.
Gereget gereget dah readers😁✌️
MAF UP NYA NYICIL🙇🏻♀️
UDAH SENIN AJA
__ADS_1
BANTU VOTE YA GUYS
JEJAK DAN HADIAH SUDAH PASTI