
"Detik demi detik telah berlalu
Hembusan angin telah menerbangkan sejuta harapan
Membelah langit menyibak sebuah harapan
Dedaunan yang rimbun berjatuhan terkena angin
Menyambut asa menunggu kepastian
Seiring hembusan nafasku aku selipkan doa
Untukmu istriku yang sedang berjuang di meja operasi
Semoga Tuhan memudahkan langkah kita, Aamiin"
Bagaimana pun cara manusia berusaha, yang menentukan hasil akhirnya adalah Tuhan, Sang Pemilik Kehidupan. Kini Tango dan Rose sedang berharap-harap cemas di depan ruang operasi.
Sesekali melihat ke arah pintu, memastikan bahwasanya sudah terbuka atau belum. Menunggu sesuatu yang belum pasti namun penuh pengharapan.
Sudah lebih dari dua jam, tetapi lampu emergency di atas ruang operasi belum juga padam. Rose hanya bisa pasrah dan terus berdoa.
Ia pun mengatupkan kedua tangannya di depan dada. Dengan khusuk ia berdoa meminta kelancaran atas semua usaha yang sedang mereka lakukan hari ini, terutama agar operasi berjalan lancar dan Cleo bisa melihat kembali. Di sisinya ada Tango yang juga melakukan hal yang sama.
"Tuhan, aku mohon berikan mukjizat kepada keluarga kami. Setidaknya bisa membuat kebahagiaan itu bisa terpancar jelas dari kedua mata Cleo. Biarkan istriku bisa melihat kembali indahnya dunia."
Sama halnya dengan yang dilakukan oleh ibunya, Tango juga berharap hal yang sama. Menyerahkan semua yang terbaik untuk yang hasil terbaik kepada Tuhan.
Di ruang operasi, peluh dan keringat mengucur deras, membasahi kening Dimitri. Asistennya beberapa kali membantu ia untuk mengusap peluhnya. Ia berpacu pada beberapa peralatan medis dan waktu yang terus berjalan. Berjuang demi kesembuhan sang menantu.
Beruntung Dimitri sangat ahli dalam bidang medis, tetapi sepak terjangnya memang disembunyikan. Di luar kebanyakan orang mengenal Dimitri sebagai seorang pebisnis. Namun, dibalik itu pekerjaan sampingannya adalah seorang profesor dokter.
Awalnya suasana ruang operasi sangatlah tegang, lama kelamaan berangsur normal dan kini mereka bisa bernafas lega. Dimitri dan beberapa rekan medisnya sudah berusaha melakukan hal yang terbaik. Operasi dinyatakan selesai.
"BERHASIL!" serunya dengan berbinar.
Sorot mata kebahagiaan terpancar jelas dari mata Dimitri. Semua tenaga medis mengakhiri operasi dengan berdoa bersama. Memohon kesembuhan untuk pasien. Setelah memastikan semuanya baik, Ia bergegas keluar dari ruang operasi. Kemunculannya disambut haru oleh sang istri dan juga putranya Tango.
Banyak pertanyaan yang siap diajukan oleh Rose dan Tango. Sebesar harapan mereka pada keberhasilan operasi kali ini.
"Bagaimana, Sayang?" ucap Rose tidak sabar.
"Berhasil, semuanya berjalan lancar. Semoga saja setelah ini, menantu kita dapat segera melihat."
"Aamiin ... Syukurlah kalau begitu, lalu bagaimana setelah ini, Pa?"
Dimitri menepuk bahu putranya. "Kita tunggu berita terbaik. Semoga operasi ini berhasil."
__ADS_1
"Tapi, jika nanti Cleo menolakku bagaimana?" tanya Tango khawatir.
"Jika istrimu benar mencintai dirimu, sudah pasti ia akan bisa melihat ketulusan hatidan menerima kehadiranmu."
"Sungguh?"
Dimitri mengangguk, Tango mengulas senyum kala itu. Melihat keyakinan yang terpancar dari mata Dimitri, ia yakin jika Cleo akan menerima semua ini.
"Berapa jam yang ia butuhkan sampai pulih, Pa?"
"Setelah obat bius ini habis, maka ia akan siuman dan kita bisa melihat apakah operasi ini masih ada efek samping atau tidak."
Tango mengangguk lalu tidak lupa mengucapkan terima kasih kepada ayahnya.
"Terima kasih banyak, Pa. Semoga Cleo bisa menerima hadiahku ini untuknya."
"Aamiin," ucap mereka serentak.
Mansion El Vanezz
Nenek Debora masih tampak asyik dengan laptop dihadapannya. Ia sedang mengecek beberapa laporan keuangan di perusahaan yang dipimpim Dardack.
Sesaat kemudian sang putra masuk dan mengejutkan ibunya. Ia mendaratkan tangannya di bahu Debora. Sontak Debora menoleh karena terkejut.
"Dardack?" ucap Debora setengah kesal.
"Mama sedang sibuk apa? Kenapa tidak menikmati reservasi spa yang sudah aku pesankan kemarin?"
Debora mengibaskan tangannya.
"Aku masih sibuk, Sayang. Kalau kau mau berikan saja untuk kekasihmu."
"Apa yang Mama bicarakan, bukankah aku spesial memesankan spa untuk Mama, kenapa harus aku?"
Debora mencibir ucapan putranya.
"Bukankah Mama mengatakan hal yang sebenarnya, kenapa pula kau tak membawanya kemari? Apa kau tidak menginginkan pernikahan seperti Cleo?"
Dardack berdecak, ia memasukkan tangannya ke saku lalu melihat ke arah balkon. "Aku tidak serius padanya, Mam. Jadi aku tidak mungkin mengenalkannya padamu."
Tak tak ....
Debora telah menyelesaikan pemeriksaan itu dan segera menutup laptop miliknya. Ia memandang putranya dengan penuh cinta.
"Sudah saatnya kamu menikah, Nak. Tidak lama lagi mungkin Mama akan meninggalkan kamu. Apa kamu begitu jahat sehingga tidak membiarkan Mama menggendong cucu darimu?"
Pertanyaan menohok dari Debora membuat Dardack sedikit kesal. Pasalnya ia belum menguasai seluruh harta Keluarga El Vanezz, sehingga ia memang sengaja menunda pernikahan untuknya.
__ADS_1
"Bagaimana bisa Mama mengatakan hal itu, sementara itu, Mama masih sehat-sehat saja, dan kenapa harus mendesakku dengan tali pernikahan?"
Kini giliran Debora yang kesal. Ia sengaja berdiri dan menjewer telinga Dardack hingga memerah.
"Kamu mau menentang keputusan, Mama?"
"Arghhh! Bukan begitu, Ma. Tolong lepas dulu tangannya."
"Baiklah, tetapi kenalkan wanita itu padaku lebih dulu baru kau bisa hidup tenang."
"Oke, Mom. Akan aku perkenalkan dia dua hari lagi, Mama puas?"
Debora tersenyum senang, "Puas sekali, Sayang. Terima kasih sebelumnya."
Setelah kepergian ibunya, Dardack menoleh ke arah laptop miliknya yang tergeletak di atas meja. ingin sekali ia membuka dan memeriksa apa yang ada di dalamnya.
"Apakah semua aset perusahaan masih dichek oleh Mama?"
Melihat putranya masih tertinggal di ruangannya, Debora berteriak memanggil namanya. Sontak Dardack segera menyusul kepergian ibunya tadi.
Keesokan harinya.
Hari ini Dardack dengan terpaksa meminta Miss Vallery untuk berpura-pura menjadi kekasihnya.
"Bagaimana penampilanku hari ini?" tanya Miss Vallery menatap penuh harap pada lelaki dingin di hadapannya itu.
"Biasa saja," ucapnya acuh.
Miss Vallery melangkah maju ia pun menyentil kening Dardack dengan keras hingga ia mengaduh.
"Jaga tanganmu atau aku pata--"
Ucapan Dardack terhenti ketika melihat wajah cantik Miss Vallery. Ia sengaja melepas kaca mata yang selalu menghiasi wajahnya itu dan menggantinya dengan kontak lens.
"Bagaimana pendapatmu, Tuan Dardack yang terhormat?"
Degup jantung Dardack bergetar lebih hebat dari biasanya. Ternyata Miss Vallery mempunyai kecantikan yang disembunyikan. Dardack sampai terpana karenanya.
"Uhuk!"
"Ehem, kamu cantik, gaun yang itu sangat cocok dengan kulit putihmu, tapi ingat jangan membuatku malu ketika makan malam nanti, paham!"
"Oke."
Miss Vallery tidak menyadari jika kencan bohongan malam itu akan membawa sebuah perubahan pada hidupnya kelak. Karena Dardack hanya akan mempermainkan hidupnya, sementara itu Debora sangat menginginkan seorang menantu sesungguhnya.
Apakah Cleo segera membuka mata? Dan apakah Miss Vallery akan meneruskan kebohongan hubungannya bersama Dardack?
__ADS_1
Simak di eps selanjutnya guys.