
Beberapa hari ini Cleo sering bermimpi buruk, banyak hal yang membebani pikirannya hingga tidurnya pun tidak nyenyak. Ia sangat sedih mengingat usia pernikahannya tidak berlangsung lama.
"Cleo kamu sangat berbakat, memang sebaiknya kamu segera memperdalam ilmu berbisnis agar para kompetitor bisnis dari suamimu tahu, kamulah berlian tersembunyi yang dimiliki Tango."
Perkataan dari Juno membuat Cleo semakin bersemangat ketika mengerjakan semua tugas kantor milik Tango. Memang tidak sepenuhnya pekerjaan kantor Tango di handle oleh Cleo, melainkan masih di bawah tanggung jawab Juno, hanya saja Cleo membantu Juno secara diam-diam.
"Tetapi kenapa semakin aku mengingat Tango ada sesuatu hal yang membuat hatiku sakit, apakah aku bisa mendapatkan kepercayaan dari Papa dan Mama?"
Banyaknya pikiran yang menghantui, seolah membuat Cleo tidak hidup dengan baik. Bahkan untuk makan saja rasanya sangat sulit. Untuk itu maka ia berniat untuk merahasiakan semua hal itu dari Nyonya Rose dan Tuan Dimitri.
Awalnya Dimitri tidak suka dengan tindakan Cleo yang menginginkan pekerjaan yang biasanya dikerjakan oleh Tang. Akan tetapi jika mengingat kegigihan Cleo dalam mempelajari semua bisnis yang dikerjakan oleh Tango membuatnya memberikan ijin pada Cleo. Dengan satu catatan, bahwa ia tidak boleh kecapekan sedikitpun.
"Aku pasti melakukan hal itu dengan sebaik mungkin, Pa. Papa jangan khawatir kepadaku."
"Kamu pantas melakukan semua ini, aku pun merasa bangga jika kamu bisa ikut di dalam dunia bisnis."
Ucapan penyemangat dari ayahnya membuat Cleo semakin bersemangat untuk mempelajari ilmu bisnis. Begitu pula dengan Tango yang selalu menemani Cleo setiap waktu.
"Huft, akhirnya pekerjaan ini selesai sudah. Beruntung untuk soal yang seperti ini aku sudah pernah mempelajarinya bersama dengan Miss Vallery."
Tiba-tiba saja Cleo teringat akan keberadaan Miss Vallery. Sudah beberapa hari ia tidak menghubungi atau memberikan kabar kepadanya. Meskipun keduanya selalu sibuk tetapi ada kalanya mereka sempat bertukar kabar lewat via SMS.
Sama seperti yang dirasakan Cleo, Miss Vallery juga merasakan kerinduan yang sama. Akan tetapi saat ini ia tidak bisa menembus pertahanan yang diberikan oleh keluarga De Laurent terhadap Cleo.
Belajar dari kejadian beberapa waktu yang lalu, pengawasan terhadap Cleo memang lebih ditingkatkan. Apalagi saat ini Cleo merupakan satu-satunya anak yang dimiliki oleh Keluarga De Laurent. Meskipun hanya berstatus menantu tetapi kedudukannya sama saja.
Tiba-tiba saja terdengar pintu kamar Cleo terbuka. Sontak saja Cleo menoleh ke arah mereka. Tampilah sosok Nyonya Rose, ibu mertua Cleo yang datang dengan membawakan sebuah nampan makanan.
"Hai, Sayang. Apakah kedatangan Mama menganggu?"
__ADS_1
Tentu saja Cleo menggeleng seketika. "Sama sekali tidak mengganggu. Mama kemarilah!"
Nyonya Rose tampak meletakkan makanan tersebut di meja dekat laptop milik Cleo.
"Kamu pasti sudah lapar, Sayang. Ayo kita makan dulu. Mama tidak ingin kamu kecapean karena terlalu fokus mengerjakan pekerjaan Tango, seharusnya suamimu itu yang mengerjakannya sendiri tetapi--"
Ucapan Nyonya Rose terpaksa harus berhenti manakala ia mengingat jika putranya sudah meninggal beberapa minggu yang lalu. Lutut Nyonya Rose seakan lemas hingga membuatnya terduduk di sofa, samping meja kerja Cleo.
Tentu saja itu membuat Cleo panik dan lalu mendekati ibunya.
"Mama, maaf jika karena aku yang terlalu sibuk dengan pekerjaan ini hingga membuat Mama mengingat Tango."
Sontak saja Nyonya Rose menggeleng.
"Bukan karena kamu, Sayang. Mungkin karena rasa cinta Mama terhadap Tango terlalu besar hingga Mama tidak bisa membedakan mana kenyataan dan halusinasi. Mama terlalu banyak berharap kepada Tango."
Cleo hanya pernah merasakan sakitnya ketika ia kehilangan kedua orang tuanya. Itupun sempat membuatnya drop sampai beberapa waktu hingga Nyonya Debora mempertemukan dirinya bersama Miss Vallery.
"Maaf, maafkan Cleo, Ma."
Terlihat sekali kesedihan di dalam kelopak mata Nyonya Rose. Beliau sama sekali tidak bisa menyembunyikan kepedihannya itu dari Cleo.
Kini keduanya tampak saling menguatkan satu sama lain. Berharap bisa mengurangi rasa sakit yang pernah tertoreh di dalam hati.
Apalagi Cleo juga seorang wanita yang mengerti bagaimana rapuhnya seorang ibu dan seberapa besar cinta seorang ibu terhadap putranya. Meskipun Cleo masih belajar untuk menjadi seorang ibu yang baik, tetapi itu sudah lebih dari cukup untuk mengatakan jika Cleo adalah wanita pilihan ibu.
"Mama jangan khawatir, Cleo akan selalu menomorsatukan Mama. Jadi Mama tidak akan kesepian lagi."
"Terima kasih, Sayang."
__ADS_1
Dari Nyonya Rose, Cleo bisa menyadari jika ia benar-benar sangat menyayangi Tango sama seperti dirinya atau mungkin justru lebih besar.
Sayang, usia Tango tidak lama. Bahkan usia pernikahan dengan Cleo belum genap sampai dua bulan.
"Kalau boleh dibilang kangen, aku juga sangat padamu, Sayang."
Meskipun Cleo mengucapkan dalam hati, tetapi Tango justru mendengarnya.
Sebenarnya Nyonya harus ingin mengatakan hal yang sebenarnya kepada Cleo, tetapi waktunya belum memungkinkan. Apalagi suaminya masih melarang agar ia tidak mengatakan hal yang sebenarnya terhadap Cleo.
Jujur saja, Dimitri belum siap mendapati kenyataan jika Cleo nanti akan marah besar dan justru meninggalkan kediaman El Barack. Belum lagi kepergian Tango akan membuat Nyonya Rose semakin terpuruk karena kehilangan kedua putra dan putrinya secara berurutan.
Tanpa persetujuan putrinya, Dimitri juga mencari seorang pendeta yang bisa membantu Tango agar tubuhnya kembali terlihat. Saat ini pendeta Louis dan Allert masih angkat tangan terhadap kehidupan Tango ke depannya.
Keduanya masih fokus untuk menyembuhkan kekuatan dan kesehatan masing-masing. Meskipun hal ini masih sebuah kemungkinan kecil, tetapi Dimitri tetap mengusahakan hal tersebut.
"Oh, ya ... kenapa Mama tidak memanggil Cleo untuk turun ke bawah? Bukankah sebaiknya kita bisa makan bersama Ayah?" ucap Cleo sambil mencoba menenangkan pikiran ibu mertuanya tersebut.
Nyonya Rose tampak menggeleng lalu mengukir sedikit senyuman kepada Cleo.
"Bagaimana bisa makan bersama, jika jam segini saja Papamu belum kembali? Masa iya Mama makan malam sendirian."
"Kamu juga sibuk dengan pekerjaan, begitu pula dengan Papamu yang juga sibuk dengan pekerjaannya."
Cleo baru mengetahui jika ayah mertuanya belum pulang dari kantor. Rupanya Cleo baru menyadari jika kebiasaan Tuan Dimitri sama seperti Tango. Bahkan dulu saat Tango masih ada ia juga sering menunggu Tango yang terlambat pulang kerja.
Rupanya ia menerapkan ilmu yang sama seperti yang dikerjakan oleh Tuan Dimitri. Sebuah ukiran senyum terlukis indah di wajah Cleo.
Tango yang berada di sudut ruangan tersenyum manis ke arah Cleo, "Aku bangga terhadapmu, Sayang. Terima kasih untuk semua cinta yang kau berikan kepadaku."
__ADS_1