
Merasa jika dirinya terlalu jahat karena menunda pemakaman sang putra, Rose mendesak agar Dimitri segera menguburkan Tango.
"Kenapa semua ini harus terjadi?"
"Aku juga tidak pernah mengharapkan hal ini terjadi, Sayang."
Dimitri memegang bahu Rose. Di tatapnya kelopak mata Rose dalam-dalam.
"Kalau begitu aku ingin pemakamannya segera dilakukan!"
"Tunggu sebentar lagi, Sayang. Setelah semua ini selesai maka kita akan melakukan pemakaman yang layak untuknya."
"Kamu kejam!" Rose mendorong bahu kekar milik Dimitri.
"Ada apa ini kenapa kalian ribut?" tanya Tango yang tiba-tiba muncul di antara kedua orang tuanya.
Sontak saja seketika Rose dan Dimitri terdiam. Mereka yang awalnya berdebat karena masalah pemakaman Tango menjadi terdiam seketika. Keduanya semakin tenggelam dalam persepsi mereka masing-masing.
Dimitri maupun Rose tidak mungkin mengatakan jika alasan mereka bertengkar adalah karena kematiannya. Mana mungkin Rose tega mengatakan jika ia ingin mengadakan sebuah acara pemakaman yang layak untuk putranya tersebut, sementara operasi mata Cleo baru saja selesai.
Pernikahan Cleo dan Tango saja belum ada sebulan. Sebuah kenyataan ini jika sampai terungkap, tentu akan membuat kehidupan Cleo berubah seratus delapan puluh derajat. Apalagi kebohongan ini mungkin saja akan membuat Cleo kecewa dan membenci mereka. Jujur saja, Rose belum siap dengan resiko yang akan terjadi setelahnya.
Tango memandang tajam ke arah Dimitri. Sementara itu Dimitri justru mengedikkan bahunya seolah tidak ada masalah di antara mereka.
"Why? what's wrong with you guys?"
(Kenapa? Ada apa dengan kalian?)
"I don't know, it looks like your mommy is on her period."
(Entahlah, sepertinya Mommy kamu sedang datang bulan)
Rose memalingkan wajahnya, ia tidak bisa menutupi kesedihan yang sedang dirasakan olehnya. Namun, sebelumnya ia menginjak kaki Dimitri karena mengatakan jika ia sedang datang bulan. Padahal ia begitu karena ulah suaminya yang egois.
Bagaimana mungkin seorang ibu membiarkan jasad anaknya terkatung-katung dan tidak mendapatkan pemakaman yang layak. Sementara suaminya masih mempunyai banyak rencana yang disembunyikan darinya.
Meskipun terkadang, otak genius suaminya memang selalu mencetuskan ide-ide luar biasa di luar nalar manusia, terkadang hal itu juga yang mengejutkan dirinya. Sama halnya dengan rencana pemanggilan arwah putranya tempo hari. Semua seolah terencana dengan baik di dalam otak Dimitri.
Akan tetapi mereka tidak bisa mengatakan hal ini pada Cleo. Apalagi pernikahan mereka baru saja terjadi selama beberapa hari.
__ADS_1
"Ayah pasti berbohong padaku!"
Bukannya menjawab, keduanya justru mendiamkan Tango.
"Kenapa kalian mendiamkan aku, apa semua ini berkaitan dengan diriku dan Cleo? Apakah kehadiran kami memberatkan kalian? Kalau iya, biarkan aku dan Cleo pergi dari mansion ini."
Tango yang kesal segera berbalik dan hendak menghilang, tetapi suara panggilan dari Dimitri menghentikan niatan Tango.
"Tunggu dulu, Tango, ada hal penting yang harus kita bicarakan saat ini."
"Tentang apa itu? Jujur atau aku akan menghilang dan mengajak Cleo!"
Meskipun sedikit menyakitkan, Dimitri menguatkan batinnya. Daripada Tango benar-benar menjalankan hal itu, Dimitri lebih memilih untuk berkata jujur.
"Ini tentang pemakamanmu!"
Deg
Rose memejamkan matanya, ia sudah tidak sanggup menahan rasa sedihnya. Matanya terlalu panas, kepalanya berdenyut kencang. Akhirnya buliran kristal bening yang sudah ia tahan sejak tadi kini mengucur deras di kedua pipinya.
Begitu pula dengan Cleo yang secara tidak sengaja berjalan-jalan di sekitar mansion. Terkejut dan bingung karena sebuah kata pemakaman.
Salah satu tangannya menutup bibirnya, satunya lagi memegangi dadanya yang berdebar.
"Apa yang sedang mereka bicarakan? Ini tentang pemakaman siapa?"
Tango yang bisa mencium aroma parfum Cleo menjadi sadar akan kehadiran sang istri. Ia pun melesat menembus tembok kamar untuk melihat siapa yang sebenarnya ada di luar kamar. Namun, sebelum ia pergi Tango sudah mengisyaratkan pada ayahnya untuk berdiam.
"Jangan bersuara, sepertinya Cleo di depan!" bisik Tango.
Dimitri mengangguk, lalu setelahnya ia memeriksa ke depan kamar. Benar, sesuai dugaannya Cleo berada di sana.
Wajahnya tidak sepucat sebelumnya, ia justru terlihat semakin cantik dengan mata barunya. Tango pun mengulum senyum.
"Kamu sangat cantik, Sayang."
Wushh ... Udara di sekitar Cleo mendadak berubah dingin. Cleo pun mengusap kedua bahu dan menggosoknya agar tidak terlalu dingin.
"Kamu kedinginan? Pasti karena aku, huft!"
__ADS_1
Tango mendengus kesal. Sementara itu keuwuan sedang terjadi di kamar Dimitri.
Melihat Tango pergi, Dimitri berinisiatif untuk menenangkan istrinya. Direngkuh dan dipeluknya istri tercinta. Tangannya terulur untuk mengusap kepala Rose, mulutnya terus meminta maaf.
Tangis Rose tidak kunjung reda, justru karena suaminya mendekat hatinya semakin tidak karuan. Perasaannya masih belum bisa mengikhlaskan kepergian putra semata wayangnya, tetapi takdir kejam merenggut semua impian yang tersemat pada Tango.
"Bagaimana caranya untuk ikhlas terhadap takdir ini, Pa?"
"Bicaralah agak jauh dari area pintu, menantu kita ada di luar," bisik Dimitri pada istrinya.
Tentu saja Rose segera menoleh dan mengusap air matanya.
"Ada Cleo? Kenapa dia bisa sampai di sini?" tanya Rose yang ikut-ikut berbisik.
Rupanya kehadiran Cleo membuat Rose sedikit melupakan kesedihannya. Buktinya ia justru mendekatkan dirinya pada Dimitri. Tentu saja hal itu membuat Dimitri gemas.
"Kamu masih saja imut seperti dulu, Sayang. Cup."
Sebuah kecupan manis mendarat di pipi sebelah kanan Rose. Hal itu membuat Rose mendaratkan sebuah cubitan manis pada pinggang Dimitri.
"Dasar, suka banget curi kesempatan dalam kesempitan."
Dimitri meringis, "Siapa tau bisa dapat yang hangat-hangat kan lagi kedinginan, Sayang."
Bukannya mendapat kehangatan sesuai keinginannya, Dimitri justru mendapatkan tatapan tajam ke arahnya.
"Nah, alamat nggak dapat nih," ucap Dimitri sambil meringis.
Tango menjadi serba salah, ingin kembali masuk dan memberi tahu kedua orang tuanya, justru ia mendapatkan kejutan jika ayah dan ibunya sedang bermesraan.
"Aduh, salah tempat!" rutuknya dalam hati.
Sementara itu Cleo sudah pergi dari depan kamar mertuanya. Rasanya tidak pantas menguping pembicaraan mereka, oleh karena itu ia justru bergegas pergi. Tango yang tidak mau mengganggu keuwuan kedua orang tuanya lebih memilih untuk pergi mencari keberadaan istrinya.
Sepertinya Cleo tersesat, terlebih lagi ia belum lama berada di mansion itu, wajar jika dirinya tidak menemukan jalan pulang ke arah ruang inapnya. Tango yang mengetahui hal itu segera menampakkan wujudnya.
"Cleo, kamu dari mana saja?"
Tentu saja Cleo menoleh dan mendapati suaminya di area tangga. Cleo yang berada di ujung tangga hampir saja terpleset karena kehilangan keseimbangan. Beruntung Tango bergegas lari dan menangkap tubuh Cleo.
__ADS_1
"Hati-hati, Say--"