My Hubby Is Ghost

My Hubby Is Ghost
Part 36. KEMANA DIA PERGI


__ADS_3

Akhirnya acara seremony peresmian itu selesai juga. Akan tetapi di mana Tango? Kenapa dari tadi aku tidak melihatnya?" ucap Cleo mulai merasa cemas.


Dari kejauhan Juna sudah bisa melihat raut wajah Cleo yang sudah berubah. Maka dari itu ia bergegas untuk naik panggung dan menjaga istri sahabatnya tersebut.


Pada saat itu Presdir Lim dan juga Nyonya Debora masih berbincang satu sama lain sehingga melupakan keberadaan Cleo, padahal di sana udara sangat terik. Bisa saja hal itu membuat Cleo tidak nyaman ataupun bisa membuat pingsan pada saat itu.


"Bagaimana bisa mereka melupakan keberadaan Cleo?"


Terlihat amarah dari Juno hampir memuncak. Senyum Cleo menyambut kedatangan Juno saat naik ke atas.


"Kemana Tango?"


"Dia ada kepentingan mendadak. Bagaimana kalau Nona ikut saya lebih dulu."


"Oh, iya tadi memang dia meminta ijin untuk pergi sebentar. Kalau tahu begini aku nggak bakal mau ditinggal!"


Dari ekspresi Cleo, Juno bisa memastikan jika Cleo mulai jatuh cinta pada Tango. Sayang, ia tidak tahu sebuah rahasia besar yang sedang ia sembunyikan saat ini.


"Aku jadi takut jika suatu saat nanti kamu akan kecewa pada Tango," ucap Juno di dalam hati.


"Bagaimana jika nanti kita makan siang lebih dahulu, baru menemui Tango."


"Boleh."


Saat Juno hendak membawa Cleo pergi ternyata ada Nyonya Debora menghalangi jalan mereka.

__ADS_1


"Selamat siang, Nyonya Debora."


"Siang, mau dibawa kemana cucuku?"


"Mohon maaf, Tuan Tango memintaku untuk menjemput Nona Cleo siang ini."


"Jangan becanda, tadi pagi mereka masih bersama dan menunggu sampai upacara seremoni ini selesai."


Cleo bisa melihat jika neneknya tidak suka dengan kedatangan Juno, ia pun berinisiatif untuk tetap membawa pergi Nona .


"Maaf Tuan Lim, Anda adalah orang luar. Jadi bagaimana Anda bisa ikut campur di dalam rumah tangga Nyonya Cleo."


Merasa jika situasi tidak kunjung membaik, maka Cleo berusaha untuk memulihkan ketegangan di sana. Cleo menggandeng lengan Nyonya Debora.


"Presdir Lim, apa Anda mempunyai urusan lain hari ini?"


Presdir Lim masih berusaha mengingat apa yang sedang ia pikirkan saat ini.


"Kalau tidak ada, ayo makan bersama untuk merayakan keberhasilan upacara peletakan batu bersama."


Nyonya Debora masih berusaha untuk mengajak rekan bisnisnya untuk makan siang bersama.


"Mohon maaf, Nyonya. Sepertinya hari ini saya ada banyak pekerjaan sehingga tidak mempunyai banyak waktu."


"Baiklah kalau begitu, maafkan karena saya justru seolah memaksa."

__ADS_1


"Tidak apa-apa, Nyonya. Kalau begitu saya permisi."


"Terima kasih Presdir Lim untuk kedatangannya."


"Sama-sama."


Tidak lupa Presdir Lim juga membungkuk hormat pada Cleo. Hampir saja Cleo membuka rahasianya sendiri selepas Presdir Lim membungkuk.


Sore harinya.


"Ada apa dengannya? Kenapa jam segini Tango belum pulang?"


Cleo sudah menghubungi ponsel milik Tango tetapi belum juga tersambung. Nyonya Rose menghampiri menantunya.


"Kenapa kamu terlihat gusar, Sayang?"


"Iya, seharian ini Tango tidak kelihatan. Lalu ijin pergi, tetapi sampai saat ini rupanya dia tidak kunjung kembali."


Wajah Cleo tertunduk malu.


"Sayang, tidak usah sungkan, Mama sama Papa bisa menjadi sahabat terbaik untukmu. Ayo katakan pada kami apa ada hal lainya?


"Tidak ada, Ma. Sejak Mama dan Cleo menghabiskan waktu dan sering curhat. Tanpa terasa Cleo bisa merasakan kasih sayang seorang ibu."


Nyonya Rose memeluk menantunya itu.

__ADS_1


"Meksipun kamu adalah menantu, Ibu sudah menganggap kamu sebagai seorang anak dan putri ibu satu-satunya."


"Terima kasih."


__ADS_2