My Hubby Is Ghost

My Hubby Is Ghost
PART 57. KAGUM


__ADS_3

Merasa diabaikan tidak membuat Cleo bersedih. Ia justru semakin bangkit dan mencintai mendiang suaminya.


Setelah mendapatkan ijin bahkan diajari tutorial dalam mengerjakan beberapa laporan kantor membuat Cleo tidak sabar untuk mencobanya. Ia terlihat mengunakan semua keahlian yang sudah lama dipelajari bersama Miss Vallery.


Tangan-tangan cantiknya bergerak lincah menyusuri setiap jengkal keyboard milik Tango. Sorot matanya menatap tajam ke arah monitor.


Tidak banyak yang dikerjakan, akan tetapi ini merupakan permulaan yang menakjubkan. Tango senantiasa mendampingi Cleo sedari tadi terus menyunggingkan senyuman untuknya.


"Amazing, kamu benar-benar wanita yang sangat berbakat, Sayang."


Selepas mengerjakan tahap awal, Cleo segera meminta tolong kepada Juno agar diperiksa olehnya. Meskipun Juno banyak pekerjaan, ia tetap meluangkan waktu untuk membimbing istri dari bosnya itu.


"Bagaimana Juno, apakah ada bagian yang harus aku rubah?"


Juno menggeleng, "Sebuah permulaan yang bagus jika kamu melakukan perubahan di bagian ini, maka hasil yang didapat pasti akan lebih banyak."


"Oh, jadi begitu. Ok, sebaiknya aku memang harus mengurangi bagian ini dan mengubah sudut pandangnya."

__ADS_1


Melihat Juno hendak pergi, panggilan Cleo menginteruksinya agar jangan pergi dulu. Tentu saja Juno langsung berbalik ke arah Cleo.


"Ada apa lagi?"


"Sudah selesai, boleh minta tolong agar kamu memeriksanya terlebih dulu?"


Juno mengangguk sekaligus terkejut dengan apa yang dilihatnya barusan. Sebuah hasil maksimal kini didapatkan olehnya.


"Wow, kamu benar-benar berbakat di bidang ini Cleo, kenapa kamu tidak memcoba untuk bekerja di kantor bersamaku?"


"Ha-ah, bersamamu? Aku saja belum mendapatkan ijin sepenuhnya dari mereka? Bagaimana mungkin aku berprilaku seenaknya?"


"Tapi jangan terburu-buru, ya. Soalnya aku masih merasa nyaman jika mengerjakannya secara langsung di ruangan ini."


Juno menatap ke sekeliling ruang kerja milik Tango tersebut. Bagaimana pun ruang tersebut pernah menjadi saksi bagaimana Tango berjuang demi karirnya saat ini.


Hanya saja takdir lain membuat ia harus mengangtung cita-citanya ini. Namun, tidak berapa lama kemudian senyum Juno dan Tango sama-sama terbit setelah melihat hasil yang dikerjakan oleh Cleo hari ini.

__ADS_1


"Aku harus mencari cara agar cepat terlihat oleh istriku. Setidaknya orang-orang yang aku sayangi bisa melihat keberadaanku itu sudah lebih dari cukup."


Tango sudah selesai mendampingi Cleo hari itu, kini adalah waktunya untuk kembali pulang. Ada banyak hal yang harus ia kerjakan agar keinginannya bisa dengan cepat terwujud.


"Hm, menyenangkan sekali jika aku bisa selalu bersama Cleo. Bukan hanya sebagai pengamat tetapi seseorang yang nampak untuknya."


Perjalanan Tango ke kediaman Pendeta Allert dan Louis tidak membutuhkan waktu banyak. Hanya sepersekian detik ia sudah nangkring cantik di atas meja pantry. Tentu saja kedatangan Tango yang mendadak membuat Pendeta Louis terkejut dan bahkan hendak melemparkan pisau ke arahnya.


"Wait, apa yang akan pendeta lakukan kepadaku?"


"Kalau kau berani muncul secara tiba-tiba di hadapanku, maka sudah bisa aku pastikan aku akan menghancurkan semua jiwa-jiwamu yang tersisa!"


"Ampun, kejam amat! Kenapa justru kau tidak membantuku agar cepat nampak?"


Tatapan tidak bersahabat kembali ia layangkan ke arah Tango yang masih tersenyum tanpa dosa terhadapnya.


"Malas, kau saja tidak pernah mengindahkan peringatan dariku, untuk apa aku membantumu lagi?"

__ADS_1


"Ayolah Pendeta Louis tersayang, bantu aku, ya ... please!"


__ADS_2