My Hubby Is Ghost

My Hubby Is Ghost
Part 15. BISA SAJA


__ADS_3

Tango melihat kedua tangannya yang sempat terkena dinding pembatas misterius tadi. Berwarna biru dan lebam, bahkan saat ia sudah meniupnya, bekas lu-ka-nya masih terlihat dengan jelas.


"Lebih baik aku menunggu di sini saja," gumamnya.


Jika dilihat dengan kasat mata, maka dinding pembatas itu tidak akan terlihat dengan mata biasa, tetapi jika dilihat dengan mata batin maka akan terlihat seperti kubah berwarna emas.


Ternyata dari lantai atas Pendeta Louis sudah mengetahui jika Tango mendatangi rumahnya, hanya saja ia tidak keluar. Saat itu beliau sedang bersemedi di depan altar persembahan miliknya lengkap dengan sesaji satu buah kepala kerbau bule (seluruh bagian tubuhnya berwarna putih).


Namun, ternyata aroma tubuh Tango yang berbeda membuat ia segera sadar jika ada seseorang yang sedang bertamu di rumahnya.


"Dia sudah datang rupanya," ucapnya sambil tersenyum.


Suasana ruangan pemujaan terasa sangat berbeda. Hawa dingin menyeruak ke seluruh ruangan, menus*k-nus*k kulit meskipun di sana ada perapian tetapi tidak membuat suasana ruangan menjadi hangat.


Di atas tungku perapian milik Pendeta Louis, terdapat sebuah kepala rusa yang sudah diawetkan. Lengkap dengan kedua bola matanya terlihat merah menyala setiap waktu. Seolah hidup dan bersiap untuk menjadi pengawas siapa saja tamu yang datang ke rumah itu.


Semua makhluk yang berada di ruangan itu tidak luput dari pengawasannya. Gerakan yang lincah dari mata rusa itu mampu menembus dimensi ruang dan waktu.


Tanpa Tango sadari, ada juga seorang arwah prajurit yang selalu mengawasi setiap gerak gerik tamu yang datang. Selain mengawasi ia juga berhak untuk menghukum siapa saja tamu yang tidak dikehendaki olehnya.


Hal itu adalah sesuatu yang mistis biasa terjadi, sehingga Pendeta Louis tidak akan merasa ketakutan. Suasana sudah menjadi makanan sehari-hari untuknya.


Lain lagi dengan para tamu yang datang tidak terkecuali Tango. Kini ia mulai jengah karena telah lama menunggu dibukakan pintu ingin segera pergi, tetapi ternyata pintu depan justru terbuka lebar. Seolah sedang menyambut kedatangannya.


"Selamat datang anakku, Tango!" ucapnya dengan mata terpejam.


"Gi-la, pintunya terbuka sendiri!"


Tango terkejut karena ia tidak menyangka jika kekuatan Pendeta Louis begitu hebat. Kedua mata Tanggo terbelalak saat melihat beberapa pintu di hadapannya terbuka secara tiba-tiba saat Tango mulai melangkah masuk.


Padahal sebelumnya tidak terjadi apapun. Hal


seperti itu sudah biasa dilakukan oleh pendeta Louis ketika ia mendapatkan tamu. Hanya saja terasa lain karena Tango baru pertama kali mengunjungi kediamannya.


"Serem amat!"

__ADS_1


Pendeta Louis tidak pernah datang ke ruang depan untuk menyambut para tamunya. Justru beberapa makhluk peliharannya yang tidak kasat mata bertugas sebagai penerima tamu.


Sekali ia menjentikkan jari atau berkedip maka bagian pintu yang ia kehendaki akan terbuka dengan sendirinya. Tidak terasa sampailah Tango di sebuah ruangan yang sangat dingin meskipun perapiannya dinyalakan.


Langkah kaki Tango diiringi oleh kunang-kunang yang membimbingnya masuk ke dalam sebuah ruangan. Di sana hanya cahaya temaram yang membantu penglihatannya.


Cahaya yang berasal dari dupa dan lilin yang menyala membuat suasana semakin menyeramkan. Kini pandangan mata Tango tertuju pada kedua mata kijang yang sudah diawetkan.


"Ruangan apa ini? Kenapa menyeramkan sekali?"


Pendeta Louis tersenyum ke arahnya, "Tidak usah berdiri terlalu lama di sana, duduklah di dekatku dan ucapkan sebuah alasan apa yang membawamu datang kemari."


Bukannya takut, Tango justru tersenyum menyeringai.


"Sepertinya kau sudah cukup lama menungguku, Pendeta Louis."


Ia tersenyum, lalu sesaat kemudian matanya terbuka lebar dan menoleh ke arah Tango.


"Kau mau aku bantu atau aku usir?"


"Aku ingin meminta tolong kepadamu, jadi begini aku kan hanya arwah penasaran, dan istriku seorang manusia. Apakah kami boleh berhubungan seperti sepasang suami istri?"


Pendeta Louis terkekeh. "Kalau pun aku bilang tidak, sudah tentu kamu akan menyangkalnya."


"Genius, jadi ...." ucap Tango sambil terkekeh.


"Boleh, tapi kalau kamu mau, bantulah aku untuk mendapatkan sebuah batu delima merah untukku."


"Gampang, katakan di mana aku bisa mendapatkan batu delima merah itu?"


Pendeta Louis mengedikkan bahunya. Ia tidak mau mengatakan banyak hal. Baginya mengurangi pembicaraan yang tidak penting akan mengurangi dosa-dosanya.


"Jangan membuat aku berpikir terlalu jauh Pendeta, kamu tahu sendiri aku tidak suka menebak sesuatu yang belum aku pahami."


"Batu delima merah yang aku mau itu bisa kau dapatkan di sebuah acara pelelangan yang akan berlangsung dua hari lagi. Dapatkan batu itu untukku maka aku akan menunjukkan cara bagaimana kau bisa menjelma menjadi manusia dan melakukan hubungan suami istri."

__ADS_1


Tango membalikkan tubuhnya, "Benarkah?"


"Tentu."


"Baik, aku akan melakukan hal itu untukmu!" ucap Tango sambil mengarahkan jari telunjuknya ke arah Pendeta Louis.


Sebelum pergi, Tango meminta cara bagaimana ia bisa masuk tanpa harus ter-lu-ka akibat sengatan listrik dari dinding pembatas yang melindungi kediamannya.


"Katakan, bagaimana cara aku bisa masuk tanpa ter-lu-ka saat ingin ke rumahmu?"


"Ini adalah stempel Ruby yang bisa kau bawa sebagai arwah pilihan dariku. Ketika kau masuk ke dalam rumahku ini maka kau tidak akan ter-lu-ka sedikitpun ketika kau membawanya dalam tubuhmu."


"Makhluk lain di rumah ini juga tidak akan menyerangmu karena kamu adalah tamu spesial di sini."


Tango tersenyum senang. "Baiklah kalau begitu, terima kasih Pendeta, semoga kau berumur panjang."


Tango melambaikan tangannya lalu setelah itu menghilang. Dalam sepersekian detik berikutnya ia sudah sampai di Mansion De Laurent. lebih tepatnya di dalam kamar Cleo.


Terlihat jika istrinya itu masih terlelap. Ia menoleh ke arah dinding dan melihat penunjuk waktu masih berada di angka jam tiga dini hari waktu Scotland.


"Maafkan aku yang belum bisa menjadi suami kamu seutuhnya, tetapi aku berjanji setelah ini kita akan bersatu dan kupastikan membantumu membalaskan semua dendam yang kau simpan rapi di dalam sana."


Kelebihan Tango setelah menjadi seorang hantu adalah bisa membaca pikiran dari lawan bicaranya. Namun, ia tidak mengatakan keistimewaan yang diberikan Pendeta Louis kepada siapapun.


Rasa percaya pada orang lain itu kini telah sirna dan berubah. Di dalam hati Tango ia berjanji tidak akan mudah percaya pada siapapun lagi, karena teman bisa jadi musuh, dan sebaliknya.


"Sebaiknya aku berjaga di sini, harum tubuhmu telah menjadi candu untukku. Sayang, tidurlah yang nyenyak di dalam pelukanku."


Cup


Tango memberikan sebuah kecupan kasih sayang di kening Cleo. Tubuh Cleo merespon dengan gerakan lembutnya. Namun, setelahnya kembali terlelap seperti sebelumnya.


Semoga apa yang dijanjikan oleh Pendeta Louis akan segera terwujud, Aamiin.


Bantu doa ya para readers kesayangan.

__ADS_1


__ADS_2