
"Bagaimanapun pesta ini bisa berlangsung dengan meriah semua karena idemu dan juga kerja kerasmu," bisik Tango tepat di sisi telinga Juno yang sedang menikmati berlangsungnya acara mereka.
Kaget dengan kedatangan Tango yang tiba-tiba membuat Juno sempat bergidik ngeri. Ia sudah hafal betul dengan suara Tango. Sehingga tanpa penampakan darinya pun ia sudah paham jika itu Tango.
"Ha ha ha, kau terlalu memujiku, padahal semua ini adalah rencanamu Tango."
"Siapa juga yang akan percaya dengan hal seperti ini. Bukankah kau tahu jika aku sudah meninggal, apa kata orang-orang jika nanti mengetahui rencana ini dilakukan oleh seorang arwah."
Juno terkikik akan ucapannya dilontarkan oleh Tango. Ia baru menyadari jika cinta telah mengubah segalanya. Tango adalah seorang perfeksionis dan anti wanita, akan tetapi ketika ia dihadapkan dengan sebuah perjodohan akhirnya mau tidak mau Tango berubah menjadi sosok lelaki terkena virus budak cinta.
"Iya, sayang banget kamu itu arwah. Kalau tidak kan kau bisa menunjukkan kesombongan kamu seperti biasanya!"
"Asem!" pekik Tango kesal karena ucapan kebenaran yang diberikan oleh Juno barusan.
"Meskipun itu adalah sebuah kebenaran, seharusnya kamu tidak perlu mengatakan hal itu secara langsung. Bukankah kamu akan rugi dengan hal tersebut pada akhirnya!"
"Memangnya apa kerugian yang aku dapatkan?"
"Kerugiannya adalah aku bisa memecatmu kapanpun aku mau. Memangnya kamu sudah bosan hidup?"
"Sorry, aku masih belum menikah jadi aku tidak akan mungkin menerima jika kau memecatku hingga akhirnya menekan kehidupanku. Jika aku frustasi maka kau justru akan merasa lebih rugi daripada aku."
"Kok bisa?"
"Iya, setelah itu tidak akan ada orang yang bisa membantumu dalam mengelola perusahaan sama seperti yang aku lakukan! Apa kau mau jika Cleo mendapatkan kesulitan ketika aku tidak berada di sampingnya."
"Tentu saja aku tidak mau hal itu terjadi. Sebaiknya kamu tetap ada di sini!"
Sontak saja Juno menoleh ke arah Tango. Entah sejak kapan Tango mulai memperlihatkan dirinya pada Juno. Akan tetapi yang pasti ia hanya ingin menunjukkan jika memang saat ini Tango sudah mulai terlihat di sini.
__ADS_1
"Apapun yang terjadi aku akan selalu mendukung setiap langkahmu, Tango. Sebagai seorang sahabat kau berhak bahagia dengan keluarga kecilmu!"
"Terima kasih, Sahabat!" seru Tango sambil menepuk bahu Juno.
"Sudahlah, cepat sana temani istrimu, masa iya kamu merelakan jika Cleo sampai diganggu oleh tua bangka seperti dia!" ucap Juni sambil menunjuk ke arah lelaki yang sedang berbincang dengan Cleo.
Merasa jika Cleo bersikap ramah terhadap lelaki itu membuat amarah di dalam hati Tango bergejolak. Bagaimana caranya ia bisa kecolongan akan hal ini. Sementara itu Tango hanya bisa bersikap biasa saja.
Tidak begitu lama, Tango segera melesat mendekati istrinya itu. Awalnya ia hanya memperhatikan tapi lama-lama rasa kesal mulai menggelayuti pikirannya. Hingga sebuah akal licik mulai bergentayangan di kepalanya.
"Kita lihat apakah setelah ini kamu masih bisa berkilah, wahai Pak Tua!"
Sementara itu percakapan antara Cleo dan lelaki tua itu masih berlangsung.
"Bukankah aku seharusnya merasa terhormat bisa mendapatkan undangan dari calon Presdir kita yang baru!" ucap lelaki itu saat memuji kecerdasan Cleo.
Saat Cleo hendak menjawab, tiba-tiba saja Tango muncul di belakang lelaki tua itu. Matanya melotot ke arah Cleo, seolah mengisyaratkan jika Tango cemburu saat melihat interaksi mereka barusan.
"Mohon maaf, Pak. Sepertinya Mama dan Papa memanggil saya, permisi!" ucapnya dengan sopan.
Dengan mengangkat gaunnya kini Cleo berjalan melewati lelaki tua itu. Saat lelaki tua itu ingin mengejarnya, Tango yang sudah selesai menyilangkan tali di sepatu Pak Tua. Hingga si pemilik tidak menyadarinya dan membuatnya terjatuh.
"Sial, kenapa tiba-tiba tali sepatuku saling menyilang begini? Bukankah tadi tidak seperti ini? Aneh!" umpatnya kesal.
"Gara-gara kamu aku kehilangan waktu mengobrol bersama wanita cantik, tahu!" ucapnya dengan nada kesal.
Sementara itu Tango tergelak akan tindakan yang baru saja ia lakukan.
"Enak saja mau deketin Cleo. Bisa-bisa aku geprek, baru tahu rasa!"
__ADS_1
Setelah berhasil menyelamatkan Cleo dari terkaman binatang buas, kini Tango kembali menyusul ke arah Cleo. Saat Tango sedang asyik mengawal istrinya tiba-tiba saja Cleo menghentikan langkahnya dan kembali menoleh ke arah suaminya.
Tentu saja Cleo terkejut akan hal ini. Dengan memasang senyum tanpa berdosa ia menatap istrinya itu. Kini Cleo berakting seolah ia marah karena Tango merusak perbicangan bisnis yang sedang ia lakukan tadi.
"Bisa nggak sih kalau gangguin orang itu lihat-lihat dulu kenapa? Masa iya lagi sibuk bicarain urusan bisnis tiba-tiba kamu datang!"
Cleo menyilangkan kedua tangannya di depan dada, seolah menunjukkan rasa protesnya karena Tango merusak segalanya.
"Ya, maaf Sayang. Aku kan nggak tahu. Jujur itu adalah bentuk rasa cemburu yang aku miliki untukmu, jadi kalau kamu justru tidak suka akan hal ini. Pasti aku akan sangat bersedih akan hal ini!"
Bibir Tango yang mengerucut seperti anak kecil sukses membuat Cleo tidak bisa berpura-pura lebih lama lagi.
"Bagaimana bisa aku marah pada suamiku yang menggemaskan ini. Tidak bisakah kau meminta untuk reinkarnasi? Aku ingin memilikimu seutuhnya."
Mata Cleo yang berkaca-kaca mampu meluluhkan pertahanan yang dimiliki oleh Tango. Sampai akhirnya kini ia memeluk tubuh Cleo dengan penuh cinta.
Tangan Tango mengusap lembut pucuk kepala Cleo. Menciumnya beberapa kali hingga Cleo bisa merasakan begitu besarnya cinta yang diberikan Tango untuknya.
Ketika mendengar jika Keluarga De Laurent mengadakan sebuah pesta, Nyonya Debora secara khusus datang ke acara tersebut. Dengan di dampingi Dardack sang putra kini keduanya sudah berada di ballroom hotel itu.
Sementara itu Nyonya Rose dan juga Dimitri berharap-harap cemas akan hal itu.
"Bagaimana kalau nanti Nyonya Debora menyalahkan kita karena tidak memberitahukan tentang keadaan mata Cleo yang sudah pulih?"
"Tenanglah, Ma. Aku yakin jika Nyonya Debora tidak akan marah akan hal ini. Terlebih lagi kita juga tidak mengambil lapangan kerjanya. Kita hanya bertindak sebagai kedua orang tua yang menginginkan kebahagiaan putra putrinya. Apakah menurut Mama sikap kita yang menyembuhkan kedua mata Cleo itu merupakan perbuatan yang salah?"
"Tentu saja tidak, Pa. Mungkin benar sesuai dengan perkataan dari Papa aku yang terlalu banyak pikiran sehingga menciptakan ilusi sendirian."
"Sepertinya kamu harus banyak berlibur Ma atau kita bisa merencanakan liburan bersama Cleo setelah ini."
__ADS_1
"Mungkin apa yang dikatakan kamu benar, Pa. Aku butuh liburan aku terlalu banyak memikirkan masalah-masalah yang tidak penting."