
Akhirnya setelah sekian lama menunggu waktu yang tepat untuk melakukan penawaran, kini Juno mulai mengangkat tangannya. Sebagai tanda ia juga ikut menawar batu delima itu.
Harga yang ditawarkan Jo bernilai fantastis. Senilai dengan harga sebuah mobil Mini Cooper keluaran terbaru.
"55.000 pound Britania! Aku mau batu ini!" teriak Juno dari tempat duduknya.
"Wow Tuan ini menawar dengan harga tertinggi, 55.000 pound Britania, ada yang mau menawar dengan harga yang lebih tinggi lagi?" tanya wanita pembawa acara lelang.
Hadirin tampak terdiam, tidak ada yang berani melakukan penawaran lebih tinggi lagi.
"Kurasa dia gila, sampai menawar dengan harga segitu!"
"Iya, entahlah apa yang dipikirkan pemuda itu, sepertinya uangnya kebanyakan!"
Tango yang mendengar kasak kusuk dari para hadirin tersenyum menyeringai.
"Karena tidak ada yang menawar lebih tinggi dari ini, kita hitung mundur sekarang juga!"
"55.000 pound Britania ketiga!"
"55.000 pound Britania kedua!"
"55.000 pound Britania pertama!"
Hadirin tampak tidak ada yang bergeming.
"Deal!"
Tentu saja tidak ada yang bisa mengungguli penawaran yang dilakukan oleh Juno. Secara otomatis batu delima merah itu jatuh ke tangan Juno.
"Selamat untuk Tuan Juno El Barract. Kepada Tuan Juno dipersilakan untuk maju ke podium untuk menerima batu delima merah primadona hari ini."
Tepuk tangan yang sangat meriah terdengar dari seluruh penjuru ruangan. Semuanya memberikan ucapan selamat kepadanya pemenang pelelangan kali ini.
Setelah membereskan semuanya, kini Juno membawa batu delima merah itu lengkap dengan sertifikatnya dan menyerahkannya langsung pada Tango.
"Kerjamu bagus, Bro. Akan aku naikkan gajimu berkali-kali lipat setelah ini!"
"Sama-sama, semoga apa yang kamu inginkan segera tercapai dan aku bisa hidup tenang!"
"Hati-hati, jangan sampai kamu membuat batu itu hilang! Atau kamu pecahkan kepalamu!"
"Santai saja, aku akan mengirimkan langsung pada Pendeta Louis. Kamu tunggu saja di rumahnya!"
__ADS_1
"Baiklah, aku tunggu secepatnya, jangan sampai bulan purnama muncul sebelum kamu datang."
Selepas berpamitan, kedua sahabat itu berpisah, dan kali ini Tango langsung melesat pergi ke rumah Pendeta Louis. Begitu pula dengan Juno yang meninggalkan area pelelangan batu.
..._Rumah Sakit Santo Petrus_...
Debora masih tertidur di atas brankar Rumah Sakit. Sudah lebih dari dua hari ia dirawat intensif di sana. Namun, Cleo belum juga tiba. Padahal kedatangannya sudah dinantikan oleh pamannya, Dardack.
"Kenapa dia belum datang? Bukankah aku sudah menyuruh seseorang untuk memberitahu hal itu pada mereka?"
Tidak lama berselang, akhirnya ada ajudan Dardack yang datang melapor kepadanya. Ia mengatakan jika di luar ruangan ada dua orang yang sangat penting ingin menemui Nyonya Debora.
"Tanyakan siapa nama mereka dan ada urusan apa datang kemari?"
"Baik, Tuan."
Belum sempat ajudannya keluar dari ruangan itu ternyata Nyonya Rose dan Tuan Dimitri sudah berada di dalam ruangan yang sama dengan Dardack. Seketika Dardack berdiri dari tempat duduknya.
"Tuan Dimitri, kapan Anda datang?" sapa Dardack sambil mengulurkan tangannya.
"Baru saja, sepertinya Anda kurang suka kami yang datang kemari?" ucap Dimitri seolah tahu dengan apa yang berada di dalam pikiran Dardack.
Dardack tersenyum canggung. Akan tetapi sejenak kemudian ia sudah bisa menetralkan kembali suasana yang tegang sebelumnya. Hingga saat ini mereka sedang bercengkrama satu sama lain.
"Kenapa Nyonya Debora sampai masuk ke Rumah Sakit? Sebenarnya ada masalah apa?"
Dardack mulai menjelaskan duduk permasalahannya pada orang tua Tango. Mereka menyimak semua permasalahan itu dengan seksama. Sebenarnya dari situ ia sudah bisa mendapatkan sebuah kesimpulan.
Dardack tidak setangguh Fernandez dalam mengelola seluruh aset Keluarga El Vanezz. Maka saat terkena sebuah masalah maka ia justru memperbesar masalah tersebut.
"Aku justru meminta maaf karena Cleo dan Tango belum bisa datang untuk mengunjungi neneknya, karena mereka saat ini sedang pergi honeymoon ke Paris," ucap Nyonya Rose berbohong.
"Tidak apa-apa, Nyonya. Kedatangan kalian kemari saja sudah membuat kami senang."
"Sama-sama, kalau begitu saya mengucapkan banyak terima kasih, karena sudah memberi kabar pada Cleo."
Namun, selama Dimitri dan Rose berkunjung, Nyonya Debora tampak belum merespon. Sehingga mereka memutuskan untuk pulang cepat. Rose memberikan sebuah kode pada suaminya.
"Hari sudah semakin sore, kami permisi."
Meskipun Dardack terlihat baik di dalam pertemuan tadi, tidak mengurangi kecurigaannya pada sakit yang diderita oleh Debora.
"Apa kau tidak menaruh curiga pada Dardack? Jika ia memberikan pelayanan kesehatan terbaik untuk ibunya, sudah pasti saat kita datang ia sudah siuman?" tanya Rose pada suaminya.
__ADS_1
"Aku mencurigai sesuatu hal. Memang benar pelayanan kesehatan yang diberikan pada Nyonya Debora terlihat baik, hanya saja ada sesuatu hal yang disembunyikan Dardack dari kita."
"Aku setuju. Sebaiknya kita tidak usah memberitahukan hal ini pada Cleo, selebihnya aku percayakan padamu."
"Baik, aku pasti akan melakukan semua hal yang terbaik untuk putri kita."
Nyonya Rose dan Dimitri selalu menjaga Cleo selayaknya putri mereka. Sudah sejak lama mereka mendambakan kedatangan Cleo sebagai anggota keluarganya. Akhirnya hal itu bisa terwujud setelah sekian lama.
..._Mansion De Laurent_...
Cleo berharap-harap cemas, sejak tadi suami dan juga kedua mertuanya belum juga datang. Bagaimana ia bisa tenang jika mereka belum kembali.
"Apa aku sebaiknya pergi menyusul mereka?"
Saat hendak berdiri, teringat deru mobil dari halaman. Cleo bergegas melihatnya dari balkon. Betapa bahagianya melihat kedua mertuanya sudah kembali.
Tidak lama kemudian, Cleo menyambut kedatangan mereka. Senyuman manis terpasang di wajah cantik Cleo.
"Selamat datang, Ma, Pa."
"Terima kasih, Sayang. Kenapa menunggu di luar, bukankah udara terlalu dingin di luar."
Cleo tersenyum. "Tidak apa-apa, Ma."
"Aku sudah menyiapkan makan malam untuk kalian."
"Benarkah, kalau begitu mari kita bersiap. Menantu kita sudah bersusah payah."
"Ha ha ha, baiklah, mari kita makan."
Meskipun Cleo tersenyum, tetapi ia tidak bisa menyembunyikan kekhawatirannya karena sejak pagi Tango tidak memberinya kabar.
"Sedang apa dia saat ini? Kenapa jam segini belum pulang?"
"Kamu pasti sedang menunggu Tango, suamimu itu kalau sedang gila kerja maka tidak akan memberi kabar selama seharian, jadi kamu harus terbiasa."
"Benarkah, kalau begitu aku yang salah karena sudah salah paham terhadapnya."
"Maafkan suamimu ya, Sayang."
Sebenarnya Tango berada di ruangan itu, tetapi ia tidak bisa memperlihatkan dirinya karena ia tidak bisa ikut makan.
"Kamu memang yang terbaik, Sayang. Andai aku masih hidup sudah pasti aku akan sangat menyukai masakan darimu. Sayang, aku sudah meninggal," ucap Tango sendu di samping tempat duduk Cleo.
__ADS_1
Sementara itu suasana yang begitu dingin, seolah menyadarkan Cleo jika suaminya berada di sisinya.
"Kenapa aku merasa jika dia di sampingku, apa cuma halusinasiku saja?" gumam Cleo sambil mengunyah makanannya.