My Hubby Is Ghost

My Hubby Is Ghost
Part 48. BERSYUKUR


__ADS_3

Setelah sekian lama berlalu, akhirnya Pendeta Louis selamat dari masa kritisnya. Selama ia belum terbangun, beruntung arwah Tango selama ini selalu menuruti perkataan Allert. Meskipun terkadang bertentangan dengan hati nuraninya, tetapi Tango tidak mempunyai pilihan lain.


Selama ini tidak ada yang salah dengan sikapnya. Tango benar-benar menjadi anak yang patuh dan taat. Padahal sebelum ini sikapnya sangat bertentangan dengan hal itu. Tango yang terkenal berda-rah dingin ketika berbisnis sangat jarang sekali tunduk di bawah perintah seseorang.


Kini ketika ia sudah meninggal, tidak ada pilihan lain kecuali menurut pada kedua sahabat di depannya kali ini, yaitu Allert dan juga Louis. Kini Pendeta Louis terlihat sudah siuman.


Allert membantu Pendeta Louis untuk bangun. Lalu setelahnya pergi untuk mengambil makanan untuk Louis.


"Apakah aku terlalu lama tertidur sehingga kehilangan banyak berita?"ucap Pendeta Louis sesaat setelah ia siuman.


Salah satu tangannya memegang kepala, mungkin masih terasa pening dan kurang bisa melihat bagaimana keadaan dirinya jika saja saat itu Allert tidak segera menemukan dirinya dan menyelamatkan mereka.


"Semua ini terjadi hanya karena menuruti ego dari salah seorang pebisnis yang sangat terkenal di Scotland."


"Astaga, jangan bilang jika karena aku kau bisa celaka sampai saat ini."


Tango hanya berdecih atas ucapan Pendeta Louis barusan. Bagaimana Tango bisa menyalahkannya jika untuk berjalan saja Pendeta Louis masih kesusahan.


"Aku tidak pernah memaksa ataupun meminta sebuah ke-ma-ti-an. Hanya saja garis takdirku seperti ini, lalu apakah aku salah?" tanya Tango seolah ia orang paling teraniaya saat ini.


Sementara itu Allert membiarkan kedua orang di hadapannya kala itu saling terdiam dan menatap satu sama lain. Bahkan sesekali terlihat saling menyalahkan. Namun, apapun itu mereka tidak akan pernah merasa puas jika sampai ada pihak luar yang membantu di salah satu kubu di antara keduanya.


Setelah siap dengan barang yang ia bawa, Allert segera membawa nampan makanan miliknya ke arah tempat tidur milik Pendeta Louis. Ia memang hanya membawa satu buah nampan yang berisi makanan dan membiarkan Tango melongo karena Allert melupakan jadwal makan siang arwah penasaran tersebut.


"Aku nggak menyangka jika kalian bisa berperilaku seperti anak kecil!"


Tiba-tiba saja Allert datang dan masuk ke dalam kamar Pendeta Louis.


Allert menaruh sepiring makanan dan minuman untuk Pendeta Louis. Sementara Tango ia biarkan melongo tanpa menyediakan makanan juga untuknya.


"Kenapa cuma satu porsi? Lalu aku makan apa?" tanya Tango sambil menggaruk tengkuknya.


Allert hanya tersenyum sambil menoleh ke arah tempat duduk Tango.


"Sorry Bro, aku tadi belum sempat pergi ke pasar tradisional untuk membeli bunga. Jadi saat ini kamu puasa dulu, ya."


Terdengar helaan nafas panjang dari Tango, tetapi Allert masih bersikap biasa saja.


"Baiklah, mau bagiamana lagi jika ternyata memang kau melupakan kehadiranku. Andai saja aku manusia biasa sudah pasti aku juga akan kamu perlakukan secara spesial. Benar begitu, bukan?"


Allert mengangguk setuju. Sementara itu


Pendeta Louis segera menyandarkan tubuh pada dashboard ranjang lalu mulai menyantap makanannya.

__ADS_1


"Menu makanan yang kau sajikan tetap saja nikmat sama seperti dulu. Tidak sia-sia kau menjadi temanku."


"Kebalik, seharusnya kau yang bersyukur aku bisa menolongmu. Satu pesanku adalah ketika sukses nanti jangan pernah melupakan aku."


"Kamu bisa melihat sendiri bukan? Jika bukan aku yang menyelamatkan dirimu dan juga dia!" tunjuk Allert pada Tango.


Allert menjeda kalimatnya.


"Sudah bisa dipastikan jika kalian saat ini sudah bisa menjadi pasangan terfavorit sepanjang masa."


Merasa jika dirinya menjadi bahan perbincangan maka Tango mendekati mereka.


"Apa ada yang salah dengan kehadiran diriku saat ini?"


Sontak kedua pendeta muda di hadapan Tango menggeleng dan mengangguk setuju. Melihat hasilnya yang tidak kompak, membuat Tango melambaikan tangannya lalu beranjak pergi.


"Sudahlah aku mau kembali ke rumah, sekarang kalian lanjutkan saja pergulatan kalian!"


Allert dan pendeta Louis hanya saling memandang. Sebenarnya Louis ingin menahan Tango untuk meminta maaf, sayang semuanya di luar prediksi.


"Akankah Tango kembali lagi?" tanya Cleo pada hembusan angin semilir yang menyapa dirinya sore itu.


Suasana mansion yang cukup besar membuat Cleo merasa tidak nyaman. Lagi pula penghuni mansion hanya terdiri dari beberapa keluarga De Laurent dan juga Jim.


"Sayang, ternyata Tuhan justru membawa aku pergi jauh hingga melabuhkan hatiku untukmu."


Cleo memainkan ujung rambutnya yang dibuat ikal. Dari kejauhan tampak seorang lelaki sedang mengawasi Kediaman De Laurent. Sementara itu Cleo tidak mengetahuinya.


Tiba-tiba saja dari arah luar pintu kamarnya, terdengar suara daun pintu yang diketuk. Cleo menoleh dan mempersilakan masuk.


Terlihat jika ibu mertuanya yang datang. Ia tersenyum ramah ke arah Cleo.


"Selamat sore, Sayang. Rupanya kamu masih betah berada di kamar. Ibu sejak tadi mencarimu."


"Iya, Bu. Maafkan aku yang justru lebih banyak menghabiskan waktu di dalam kamar daripada berinteraksi di luar."


"Tidak apa-apa, yang terpenting adalah sebuah kenyamanan. Lakukan apapun yang kamu merasa nyaman. Jika tidak jangan mencoba untuk melakukannya."


Cleo mengangguk, ia bersyukur karena ibu mertuanya sangat menyayangi dirinya. Pandangan Cleo teralihkan dengan dua tiket yang dipegang oleh Nyonya Rose.


"Maaf, Ma. Kalau boleh tahu sebenarnya apa yang sedang Mama pegang saat ini?"


Nyonya Rose tersenyum kaku. Ia merasa jika ingatannya sudah jauh berkurang. Awalnya ia hanya berniat untuk langsung mengajak Cleo pergi ke acara lelang dia hari lagi.

__ADS_1


"Ini adalah surat undangan yang diberikan oleh seorang teman Mama dalam acara arisan kemarin. Menurutnya akan ada sebuah acara bagus dan aku diundang olehnya."


"Ayah kamu tidak bisa menemani ibu pergi, lalu apakah kau juga akan bersikap sama pada Mama?"


Sontak Cleo menggeleng lalu memegang kedua tangan ibu mertuanya itu.


"Cleo pasti akan menemani Mama pergi. Lagi pula ada rasa bosan yang datang secara tiba-tiba di hati Cleo. Dunia luar sepertinya sangat indah saat ini. Dua belas tahun yang lalu sebelum kedua mata ini tertutup sempurna, suasananya tidak tampak seperti ini."


"Jangan bicara seperti itu?"


"Kamu tahu, selama ini Mama sudah menantikan bagaimana rasanya memiliki seorang anak perempuan. Ketika Tango memutuskan mau menikah, Mama justru yang merasa tidak sabar menunggu kehadiranmu."


Cleo tersenyum manis ke arah Nyonya Rose.


"Terima kasih, Ma. Berkat Mama ada Cleo bisa merasakan kasih sayang seorang ibu."


Nyonya Rose membuka kedua tangannya, lalu Cleo semakin mendekat dan akhirnya Nyonya Rose segera memeluk menantunya itu.


"Mulai saat ini, jangan pernah ada sesuatu hal yang kamu sembunyikan dari Mama. Anggaplah Mama dan Papa Dimitri adalah orang tua kamu."


"Iya, Ma."


👑Villa Maria


Saat ini Mihiyo sedang membaca sebuah majalah. Ia sedang menyusun rencana tentang langkah apa yang akan dia ambil setelah ini pada Cleo.


Teringat jika ibunya sangat menyukai Cleo, rasa kebencian di hati Mihiyo kian bertambah. Dengan aura kebencian yang begitu tinggi membuat Mihiyo hendak mencelakainya.


"Nenek tua, kamu begitu menyukai Cleo bukan?"


"Ketika nanti kamu mengetahui jika dia adalah menantu dari Keluarga De Laurent yang merupakan musuh bebuyutan dari Keluarga Lim, bagaimana reaksimu?" ucapnya sambil tersenyum licik.


"Aku akan melihat reaksimu nanti, apalagi demi dia kau sampai mau memilihkan barang berharga di sebuah acara lelang!"


Tangan Mihiyo tampak mengepal. Sepertinya ia amat membenci Cleo karena telah menjadi istri Tango dan bukan dirinya.


"Aku sudah tidak sabar menantikan hari itu. Hari di mana kamu akan mengetahui sebuah kenyataan besar."


"Aku mau lihat, apakah kamu masih bisa menyukai Cleo, ataukah justru pada akhirnya membuatmu kesal dan ma-ti di tempat?"


"Dan untuk kau Cleopatra El Vanezz, sebentar lagi hari ke-ma-ti-anmu akan tiba."


"Tunggu saja kebangkrutanmu. Ha ha ha ...."

__ADS_1


BERSAMBUNG


__ADS_2