My Hubby Is Ghost

My Hubby Is Ghost
Bab 13. KECELAKAAN MANIS


__ADS_3

Suasana ruang kantor Dardack semakin terasa tidak nyaman ketika sebuah laporan keuangan selama sebulan terakhir masuk secara mengejutkan. Tangannya mere-mas kertas itu hingga kusut. Lalu setelahnya ia membuka laptop di depannya. Betapa terkejutnya ia mendapati harga saham miliknya.


"Bagaimana ini bisa terjadi, kenapa harga saham begitu merosot?"


Sudut matanya berkedut, lalu sesaat kemudian telinganya berdengung. Mendapati rasa penat yang begitu mendalam, Dardack membuang kekesalannya dengan menghisap cerutu miliknya.


Selama ini ia tidak memiliki asisten sehingga kalau ada apapun terpaksa Dardack menanganinya sendiri. Selain ia tidak percaya dengan orang lain, Dardack lebih suka mengerjakannya sendiri.


..._Perusahaan F2 Fast milik Tango_...


Di sebuah ruangan kerja milik Tango, Juno sedang tersenyum lebar. Salah satu keinginan sahabatnya kini akan segera terwujud. Ia berhasil menyelesaikan sebuah misi yang dibebankan padanya.


Tak ... Tak ... Tak ....


"Selesai!" ucap Juno dengan bahagia.


Sebuah lengkungan senyum terukir indah di wajah tampan milik Juno.


"Setelah ini aku akan membawa laporan ini pada Tango, semoga saja si beruang kutub akan memberikanku bonus besar!" ucapnya penuh semangat.


..._Mansion De Laurent_...


Semenjak kejadian memalukan tadi, Cleo terus menundukkan wajahnya di hadapan Tango. Sedangkan Tango sendiri yang belum pernah berdekatan dengan wanita menjadi bingung dengan tingkah Cleo yang mendiamkannya secara tiba-tiba.


"Apakah aku salah melakukan hal tadi?" gumamnya sambil curi-curi pandang.


Tango bukan tipikal lelaki romantis yang penuh dengan kebucinan, justru kadang tingkah lakunya terlalu kaku ketika bersama wanita, membuat dirinya tidak pernah percaya diri. Berbeda halnya ketika ia berdiri untuk memimpin rapat, maka ketegasan dan aura kepemimpinannya akan membuat pesaing bisnisnya tunduk dan patuh seketika.


Anehnya, ia bisa berperilaku lembut dan manja ketika bersama ibunya, Rose, tetapi tidak bisa ia terapkan ketika bersama wanita lain. Mungkin itulah yang menjadi alasan kenapa Tango tidak terlalu punya teman wanita. Padahal kalau ia mau membuka diri, pasti akan banyak wanita yang rela antri untuknya.


Kejadian beberapa saat yang lalu.


Ketika Cleo hampir terpeleset, dengan segera Tango menangkap tubuh Cleo. Tango memang berhasil menangkap Cleo, tetapi Cleo yang kebingungan tidak sengaja menginjak kaki Tango.


Akibatnya, sepasang suami istri baru itu justru berguling-guling di lantai. Hingga akhirnya posisi Cleo berada di atas tubuh Tango dan mengimpitnya. Belum lagi kedua bibir mereka bertemu secara tidak sengaja.


Cup


Manis, kedua mata mereka sama-sama melotot karena terkejut dengan kejadian barusan. Bodohnya Tango justru menikmati moment itu. Bibir Cleo yang kenyal membuat Tango tidak bisa menahan ha-srat-nya.


Tango benar-benar menikmati benda merah muda yang kenyal itu. Sesekali menyesap dan menikmatinya untuk beberapa saat. Mereka sadar ketika Cleo kesulitan bernafas. Buru-buru Cleo bangkit untuk membenahi posisinya dan duduk di sebelah Tango. Tanpa sadar ia menyentuh bibirnya yang bengkak karena ulah Tango.

__ADS_1


"Sorry ...." ucap Tango lirih.


"No problem," ujar Cleo sambil merapikan pakaiannya yang berantakan.


Wajah Cleo seketika merona karena terlalu malu. Padahal jika menelisik lebih dalam lagi, mereka adalah sepasang suami istri. Sementara itu Tango menyunggingkan senyum kecil. Akibat insiden itu suasana menjadi canggung.


Sebenarnya Tango tidak marah, justru suka dengan kegiatan barusan. Rasanya manis dan membuatnya candu, tetapi sepertinya Cleo belum terbiasa. Melihat Cleo semakin merona, Tango berinisiatif mengajaknya pergi ke kamar.


"Kamu pasti lelah karena mencari kamar kamu, bukan? Sebaiknya kamu segera istirahat!"


"Ayo, aku antar ke kamar!" ajak Tango sambil mengulurkan tangannya ke arah Cleo.


Disambutnya uluran tangan Tango yang selalu dingin itu, tetapi entah mengapa Cleo suka. Berdebar jika memandangnya dan terasa hangat di dalam sana. Cinta, mungkin itulah namanya. Sebuah rasa yang tumbuh karena terbiasa bersama.


Bayangan CEO yang kejam dan kaya itu sepertinya tidak benar. Hanya saja julukan beruang kutub yang menempel pada Tango seolah benar adanya, terbukti dengan tangan dan suhu tubuh Tango yang terlampau dingin setiap waktu.


Setelah sampai di kamar, bukannya mereka saling mengobrol justru keduanya terdiam satu sama lain. Cleo mer-em-as ujung bajunya. Sementara itu Tango curi-curi pandang.


"A-apa yang harus aku lakukan, Tuhan?" bisik Tango pada hatinya.


Tango menoleh ke arah Cleo, "Astaga bibir mungilnya jadi bengkak karena ulahku!"


Lain halnya dengan yang dipikirkan Cleo


Salting, mungkin itu adalah kata yang tepat untuk menggambarkan situasi itu.


Diamnya kedua muda-mudi itu terhenti ketika telepon rumah di kamar itu berdering. Sontak keduanya berdiri dan menghampiri meja yang sama.


"Biar aku yang angkat," pinta Cleo lembut.


"Baiklah," Tango pun segera menarik kembali tangannya.


Lalu Cleo mulai berbicara dengan seseorang di seberang telepon. Nampaknya arah pembicaraan mereka sangat serius. Terlihat dari raut wajah Cleo yang tiba-tiba saja menjadi tegang.


"Apa yang sebenarnya terjadi, kenapa ia menjadi tegang?"


Niat hati, Tango ingin mencari tahu, tetapi ia masih sabar menunggu agar istrinya bercerita sendiri padanya. Tidak berapa lama kemudian sambungan telepon terhenti. Untuk menutupi kesedihannya, Cleo berpura baik-baik saja.


"Apa yang sebenarnya terjadi?"


"Ehm, itu ...."

__ADS_1


"Katakanlah, siapa tau aku bisa membantumu?"


"Nenek terkena serangan jantung, dan aku diminta untuk mengunjungi mansion."


"Sayang, kamu belum sembuh. Kamu tidak boleh pergi," ucap Tango setengah memohon.


Iris mata biru itu begitu lembut dan hangat. Merasuk ke dalam tubuh Cleo dan membuatnya iba.


"Baiklah, aku akan tetap tinggal di sini, tetapi aku mohon utuslah orang untuk pergi ke sana. Aku begitu khawatir pada Nenek."


Tango mengangguk, ia pun berencana mengatakan hal ini pada kedua orang tuanya, pasti mereka akan memberikan solusi terbaik untuk hal ini.


Melihat Cleo sedih, Tango tidak tega. Ia pun berinisiatif untuk mengajak Cleo istirahat lebih awal. Tango tidak mau terjadi apa-apa pada kesehatan Cleo.


"Kamu pasti lelah, sebaiknya kamu istirahat lebih dulu."


"Iya, terima kasih, Sayang," ucap Cleo sambil menunduk.


"Baiklah, kalau begitu selamat malam. Aku akan menjagamu di sini."


Cleo tersenyum, tetapi tanpa sadar tangannya tidak terlepas dari tangan suaminya, Tango. Sampai beberapa saat kemudian ia pun tertidur.


"Selamat istirahat, have a nice dream."


"Have a nice dream too."


Tango mengecup lembut kening Cleo. Menyurai rambutnya dengan penuh kasih sayang. Lalu membisikkan kata-kata cinta.


"Bidadariku ...


"Raut wajahmu sungguh teduh ...


"Berada di dekatmu aku merasa tenang ...


"Aku titipkan penglihatanku padamu ...


"Sama seperti kamu percaya padaku ...


"Terima kasih telah hadir di dalam hidupku ...


"Karenamu, aku merasa tenang ...

__ADS_1


"Bahagiaku, ketika bisa melihatmu bahagia ...


"I love you Cleopatra El Vanezz ...


__ADS_2