
Hari ini Mihiyo secara langsung berinisiatif untuk pulang ke rumah karena ada keperluan mendadak pada ibu angkat. Beberapa hari yang lalu ia sengaja pergi karena ada percekcokan dengan Presdir Lim, Kakak tirinya.
"Selamat sore, Bu. Aku pulang ...."
Seketika ibu angkatnya itu menoleh. "Kamu sudah pulang, Nak. Syukurlah."
"Bu, kakak ada di rumah, nggak?"
"Ada memangnya kenapa? Apa mau ibu panggilkan?"
Seketika Mihiyo menyilangkan tangannya untuk menolak ucapan Ibunda Lim barusan.
"Tidak usah!"
"Lalu kenapa kamu menanyakan keberadaan Kakakmu?"
Mihiyo tersenyum menyeringai. Ia duduk di samping ibunya sambil memijat bahunya.
"Sebenarnya aku datang ke sini karena mencari Ibu."
"Oh, ya."
Mihiyo mengangguk senang. "Akan tetapi ada satu hal lagi yang ingin aku tanyakan ke ibu, boleh 'kan?"
"Boleh, silakan saja!"
"Ya sudah kita duduk lebih dulu," ajak Mihiyo sambil menggandeng lengan ibunya.
"Ibu, apakah Ibu kenal dengan sosok Cleopatra El Vanezz?"
"Tahu, hanya saja tidak terlalu dekat dan ibu baru melihatnya pada upacara peletakan batu permata di proyek kerja sama Keluarga kita dengan Keluarga El Vanezz."
"Oh, bukankah Kakak sangat tertarik padanya?"
"Iya, tapi itu dulu. Karena Cleopatra itu adalah istri dari Tango De Laurent."
"De Laurent? Bukankah itu musuh dari keluarga kita sejak lama?"
Ibunda Lim mengangguk. Ucapan dari Mihiyo berhasil menorehkan luka di dalam hatinya. Sebuah kenangan buruk itu kembali menyerang pikiran Ibundanya.
Entah apa tujuan utama dari Keluarga Lim yang selalu mengadakan sebuah peringatan untuk memperingati hari kematian adiknya Lim Hyun. Semua terjadi karena kurangnya kewaspadaan yang dilakukan saat itu.
Berbagai cara dilakukan agar semua kenangan itu bisa terkubur dengan baik, akan tetapi kenyataannya justru membuat Keluarga Lim semakin memendam dendam kepada Keluarga De Laurent.
"Eh, tunggu dulu ... tadi Ibu mengatakan apa?"
__ADS_1
"Yang mana?"
"Cleopatra adalah istri Tango? Sejak kapan?"
"Sejak beberapa waktu yang lalu. Ketika kita kembali dari Jepang, mereka berdua telah menikah."
Mihiyo tampak tidak suka dengan hal ini. Ingin rasanya ia berteriak-teriak dan mencakar wajah Cleo karena berani menikah dengan pujaan hatinya. Akan tetapi ada hal yang lebih penting dari itu, yaitu keberadaan Cleo saat ini dan dimana makam Tango.
Ia harus mengetahui hal ini secepatnya. Setelah itu ia bisa dengan mudah mendatangi makam Tango sekaligus membuat Cleo diusir dari Keluarga El Vanezz.
Cinta telah membuat Mihiyo lupa jika dia hanyalah anak angkat dan tidak mempunyai pengaruh apapun di dalam Keluarga Lim. Mihiyo sering menggunakan marga Lim untuk berkuasa dan bertindak semena-mena agar dirinya tidak tersentuh oleh hukum yang berlaku.
Secara Keluarga Lim mempunyai kedudukan yang tinggi dan sangat dihormati di mana-mana. Itulah nilai plus ketika Mihiyo berhasil diadopsi di dalam Keluarga tersebut.
Di kamar Presdir Lim. Malam itu terasa sangat melelahkan. Hanya dengan merebahkan dirinya di atas tempat tidur rupanya sudah membuat dia terlelap. Padahal sebenarnya Tango yang meminta bantuan Allert untuk membuat Presdir Lim tertidur lebih cepat.
Sementara itu, semenjak ia mencapai sebuah kesepakatan dengan Tango meskipun di dalam mimpi. Setidaknya saat ini, Presdir Lim mempunyai sebuah pandangan untuk setiap langkahnya.
Keberadaan Alexander adalah sebuah musuh di dalam selimut. Ia kerap sekali mengadakan pertemuan di kalangan bawah tanah untuk bertransaksi kegiatan bisnis ilegal.
Alexander masih menerima beberapa laporan pekerjaan dari karyawannya sekaligus orang yang selalu menyelidiki Keluarga De Laurent. Alexander menyesap cerutunya dalam-dalam sambil memandang hamparan kota Scotland.
"Jadi kini Tango sudah tiada, sehingga aku hanya tinggal mengawasi pergerakan dari Dimitri dan juga Rose. Mereka juga telah berani membuat Keluarga El Vanezz menjadi pendukung bisnis mereka."
"Katakan, seberapa jauh proyek kerja sama bisnis yang berjalan di dalam perjanjian bisnis Keluarga El Vanezz dengan Keluarga Lim?"
"Proyek kerja sama yang dilakukan mereka sampai di tahap permulaan. Belum ada perkembangan siginifikan yang terlihat sampai detik ini!"
"Bagus, laporkan setiap perkembangan dari bisnis ini. Aku tidak mau salah langkah ke depannya."
"Baik."
"Oh, ya apakah kau sudah berbicara dengan Dardack El Vanezz?"
Anak buah Alexander berbalik dan menatap ke arah atasannya.
"Dalam beberapa hari ini tidak ada pergerakan yang berarti. Dia masih belum melakukan apapun sampai saat ini."
"Kalau untuk perkembangan hubungannya dengan Miss Vallery?"
"Sama sekali tidak ada hubungan."
Tangan Alexander terlihat mengepal karena memendam amarahnya.
"Bodoh! Mereka justru mempunyai hubungan palsu untuk menipu Debora, hanya saja mereka tidak dapat menipunya."
__ADS_1
"Oh, maafkan untuk ketidak tahuan dari Saya."
"Hm, aku harap cara bekerjamu harus lebih ditingkatkan kembali setelah ini."
"Ba-baik, Tuan. Kalau tidak ada hal penting lagi saya permisi."
"Hm."
Tidak berlangsung lama, sebuah mobil memasuki kawasan apartemen miliknya. Ia sangat hafal dengan mobil tersebut. Keningnya berkerut ketika ia melihat siapa yang turun dari dalam mobil yang berwarna hitam mengkilat.
"Dardack ... Pucuk dicinta ulam pun tiba!"
Sosok lelaki berbadan tegap dengan tinggi lebih dari seratus delapan puluh itu berjalan ke arah apartement milik Alexander. Sepertinya putra Debora ingin bertemu dengan Alexander.
"Hm, menarik sekali. Dalam satu kali serangan akan kita lihat seberapa kuat kamu bisa bersaing denganku dalam menggapai cinta Miss Vallery."
Tanpa banyak orang tahu, Alexander telah lama mencintai sosok Miss Vallery yang menjadi kekasih bayaran dari Dardack. Perbedaan usia yang lumayan banyak dari Alexander tidak membuat rasa cinta pada Miss Vallery berkurang.
Justru ia sangat menyukai Miss Vallery dengan cara apapun. Maka dari itu ketika mendengar kabar jika Miss Vallery mempunyai sebuah hubungan dengan Dardack ia menjadi marah.
"Biarkan Dardack masuk, suruh dia menungguku di ruang baca. Aku akan ke sana sebentar lagi."
"Ba-baik, Tuan."
Tidak perlu menunggu lama, Dardack sudah sampai. Salah satu pengawal Alexander mempersilahkan ia masuk dan langsung mengantarnya ke ruang baca.
"Silakan ikut saya, Tuan Alexander sebentar lagi akan turun."
"Ok, tunjukkan di mana ruangannya."
"Mari, ikuti saya!"
Dari dalam ruangannya Alexander masih memperhatikan dengan seksama Dardack dari layar monitor di hadapannya.
"Hm, mau apalagi dia datang kemari. Semakin banyak pertemuan yang aku lakukan bersamanya membuat orang-orang De Laurent cepat atau lambat pasti akan menemukan keberadaanku."
Dardack melihat ke sekeliling. Ia memperhatikan satu persatu barang yang berada di dalam ruangan. Sampai sorot matanya menatap tajam ke arah sebuah lukisan wanita.
Merasa jika ia mengenali sosok tersebut, Dardack langsung berdiri dan mendekat. Diusapnya garis wajah wanita di dalam lukisan itu.
"Bukankah ini adalah sosok Miss Vallery? Kenapa ada di sini?" gumamnya sambil kebingungan.
Alexander tampak sangat marah ketika tangan Dardack menyentuh lukisan tentang Miss Vallery.
"Sial! Kenapa aku lupa jika di sana ada lukisan itu!"
__ADS_1