
Di luar semua itu, Cleo melupakan semua hal yang terjadi pada dirinya sendiri. Menguburnya sendirian agar suatu saat ia bisa melakukan semua hal dengan baik tanpa merepotkan semua orang.
Tidak berapa lama kemudian ternyata Neneknya mengirimkan pesan kepadanya. Dengan cepat Cleo membuka pesan tersebut. Ia bersuka cita saat membacanya. Ada banyak binar kebahagiaan yang dirasakan olehnya, tetapi Cleo sangat yakin jika saat ini ia harus lebih bermanfaat untuk semua orang.
Di balik takdirnya yang mengatakan bahwa ia dipenuhi kesialan ternyata semua itu tidak benar. Tidak ada orang yang terlahir dengan takdir buruk. Sehingga Cleo tetap berusaha untuk menjadi yang terbaik bagi sesama.
Cleo mematut dirinya di depan cermin. Mengoleskan sedikit mascara pada bulu matanya yang sudah lentik dan panjang. Tidak lupa sebuah eyeliner untuk mempertegas garis matanya. Untuk bagian alis ia hanya merapikannya saja, karena alisnya sudah tebal dan rapi.
Setelah merasakan semua sudah siap, maka Cleo segera mengambil tas dan kunci mobil. Ia turun ke bawah untuk pergi keluar dari mansion. Kebetulan ada Nyonya Debora di sana.
"Loh, kok sudah rapi, mau kemana, Sayang?"
"Mau pergi ke Mansion El Vanezz, Ma."
__ADS_1
"Mau Mama temani? Sudah lama aku tidak bertemu dengan nenek kamu."
"Kalau Mama tidak keberatan dan ada waktu, boleh kok berkunjung ke sana. Apalagi saat ini Cleo sudah membuat janji temu dengan nenek."
"Baiklah, karena Papa Dimitri tidak ada di rumah, maka sebaiknya aku ikut saja. Tunggu sebentar ya, Sayang. Mama akan bersiap terlebih dahulu."
"Baik."
Tidak begitu lama, akhirnya mereka berdua segera pergi menuju Mansion El Vanezz. Tidak lupa Cleo sudah mengirimkan pesan kepada neneknya dan mengatakan jika ibu mertuanya juga ikut.
"Baiklah, apakah kamu tahu, jika ada banyak hal yang bisa kita bahas di sana nanti?"
"Tentu saja, selain pertemuan bisnis, kami sudah lama tidak berbicara lagi. Beruntung jadwal beliau untuk saat ini sudah kosong. Jadi pagi-pagi sekali Nenek sudah mengirimkan pesan kepadaku."
__ADS_1
"Baiklah, kita tunggu saja."
Ternyata perjalanan mereka cukup lancar dan saat mereka melewati sebuah kedai roti, Nyonya Rose ingin membelikan beberapa buah tangan yang diberikan kepada besannya tersebut.
"Bagaimana, apakah kamu mau kue yang lain, ataukah nenek kamu menyukai jenis pastry buah?"
Cleo menggeleng, "Tidak, untuk saat ini aku tidak menginginkan apapun. Di tambah lagi ada banyak hal yang ingin aku kerjakan jadi tidak boleh makan sembarangan."
"Jangan bilang kamu diet?"
"Untuk apa aku diet, Ma. Aku hanya ingin menjaga kesehatan, siapa tau Tuhan bisa mengirimkan Tango kembali lagi padaku dan kami bisa bersama."
Saat mengatakan hal itu rupanya, ada air mata yang menggenang di pelupuk mata Cleo. Semua hal yang ingin disampaikan olehnya ternyata mampu mengungkapkan jika dia sangat merindukan suaminya.
__ADS_1
"Maafkan, Mama. Jika aku tidak memaksa kamu untuk menjadi menantu di keluarga kami sudah pasti semua tidak akan terjadi."
"Syukurlah kalau begitu. Ada banyak hal memang yang tidak bisa kita prediksi di sini. Apalagi soal harta, jodoh dan juga rezeki. Jadi aku berharap semua akan indah pada waktunya. Hingga kamu bisa menemukan kebahagiaan yang seutuhnya."