
Tidak berapa lama kemudian, Nyonya Debora dan Dardack sudah sampai di ruangan pesta. Mereka begitu terkejut ketika melihat sosok wanita yang sangat mirip dengan Amora memakai gaun yang sangat indah dan berdiri di panggung tanpa memakai crutch dan tidak ada orang yang berdiri di sampingnya.
"Apakah itu kamu Cleo? Kenapa ia sangat cantik dan mirip denganmu Amora?" ucapnya di dalam hati.
Nyonya Debora sangat yakin jika Cleo sudah dapat melihat. Tanpa ia sadari sudut matanya basah karena kebahagiaan saat melihat cucunya sudah bisa melihat dengan sempurna.
"Syukurlah kalau kamu sudah bisa melihat, Sayang."
Nyonya Debora tidak menyangka jika pengorbanan yang dilakukan Keluarga De Laurent begitu besar terhadap Cleo. Mereka menyayangi Cleo sama seperti Amora dan Fernandez.
Pada kenyataannya, tujuan mereka sama seperti impian Fernandez dan Amora yang berharap agar putrinya dapat meneruskan perusahaan yang telah dibangun olehnya. Sementara itu Dardack merasa tidak suka karena melihat keponakannya sudah dapat melihat.
"Sial, kenapa ia dapat melihat dengan secepat ini! Bukankah dokter sudah mengatakan jika matanya tidak akan sembuh semudah itu, kecuali ...."
Ucapan Dardack terpotong ketika ia menyadari kelemahannya telah ditemukan oleh seseorang.
"Sial! Berarti orang yang menyembuhkan Cleo tentu memiliki ilmu kedokteran yang lebih tinggi, karena ia hanya bisa disembuhkan jika ada donor mata yang sesuai dengan kornea matanya!"
Nyonya Debora menyenggol lengan Dardack.
"Kamu kenapa? Ayo kita segara ke sana!" ajak Nyonya Debora kepada putranya yang terlihat melamun itu.
Sorot matanya memicing ke seluruh ruangan.
Mencoba mencari di mana letak keberadaan Nyonya Rose dan juga tuan Dimitri. Setelah menemukan sosok mereka, dengan segera Dardack menuntun ibunya untuk mendekatinya.
"Bu, lihatlah ke sana, ada Nyonya Rose dan juga Tuan Dardack yang berada di sana."
"Akan tetapi lihatlah di sana! Kita tidak perlu mencari Cleo kemana-mana. Kamu bisa melihat wanita cantik yang berada di panggung tersebut, dia pasti Cleo keponakanmu. Sangat cantik, bukan?"
Padahal niat hati Nyonya Debora ingin menyapa Cleo terlebih dahulu. Bukan menyapa pemilik acara. Mengetahui jika ibunya menolak, maka Dardack memberikan sebuah alasan yang masuk akal untuknya.
"Maaf, bukankah lebih baik kita mendekati Nyonya Rose dan Tuan Dimitri untuk menyapa mereka terlebih dahulu, baru setelahnya itu kita mencari Cleo."
__ADS_1
Akhirnya Nyonya Debora menurut perkataan dari anaknya. Tangan Nyonya Debora memegang tangan putranya.
"Baiklah, tapi kamu harus berjanji jika setelah itu kita akan mengunjungi Cleo."
Dardack mengangguk. Ingin rasanya ia segera pergi dari acara pesta tersebut, akan tetapi sebuah kenyataan benar-benar di luar dugaan.
Keluarga De Laurent benar-benar melakukan sebuah rencana dengan sangat matang. Bahkan sebelum Dardack bertindak, mereka sudah lebih dahulu mengantisipasi hal-hal terburuk yang akan terjadi jika sampai perusahaan El Vanezz bangkrut.
......................
Baru beberapa hari yang lalu ia mendengar jika ibu dari Presdir Lim jatuh sakit. Bahkan menurut kabar, kesehatan ibu Presdir Lim perlahan-lahan membaik.
Namun, ia tidak juga keluar dari tempat tidurnya dan lebih banyak mengurung diri, karena merasa keluarga El Vanezz telah menipunya. Apalagi ketika melihat berita jika Cleo adalah menantu dari keluarga yang menjadi musuh bebuyutannya.
Awal pertama kali bertemu dengan Cleo, Nyonya Lim sangat mencintai dan banyak menaruh harapan padanya. Nyonya Lim juga menganggap Cleo sebagai putrinya sendiri.
Menggantikan putrinya yang telah meninggal beberapa tahun yang lalu. Namun, tidak disangka ia malah justru menjadi menantu di keluarga De Laurent.
Presdir Lim sudah kehilangan banyak waktu dan tenaga untuk menjaga ibunya. Hanya karena ulah Mihiyo ibunya sampai jatuh sakit lagi.
"Harusnya kamu tidak bertindak gegabah, Mihiyo!" ucap Presdir Lim dengan geram.
Ia tidak bisa menahan amarah jika mengingat semua kejahatan yang dilakukan oleh adik angkatnya itu. Sejak kehadiran Mihiyo keluarganya bukan menjadi kesatuan yang utuh, melainkan menjadi beban Keluarga Besar Lim.
"Kalau kamu berani bertindak sekali lagi, jangan harap kamu bisa selamat!"
Mihiyo saat ini dikurung oleh Presdir Lim. Berharap jika adiknya itu bisa menyadari kesalahannya. Ia tidak tahu jika sebenarnya apa yang dilakukan olehnya sama sekali tidak berarti.
"Jika kamu berharap aku bisa berubah, kamu salah besar, Kak. Aku justru menginginkan agar ibumu itu segera meninggal. Daripada aku harus diatur oleh kalian, lebih baik aku mengambil harta kalian sebanyak-banyaknya dan pergi sejauh mungkin!"
......................
Suasana pesta yang begitu ramai membuat Tango tidak nyaman. Apalagi setelah drama ketika Cleo didekati oleh seorang pria tua bangka, sehingga ia harus mengurungnya di ruangan sebelah.
__ADS_1
Tangan Cleo mengalung ke leher Tango. Ditatapnya dengan lembut kedua mata Tango yang begitu meneduhkan. Begitu pula dengan Tango yang membalas pelukan dari istrinya dengan kedua tangannya diletakkan di area pinggang Cleo.
"Malam ini kamu hanya milikku seorang, Sayang. Siapa yang menyuruh kamu berani berbicara dengan lelaki lain selain aku, tadi!"
Cleo tergelak akan ucapan suaminya, lalu ketika ia mendengar suara lagu yang mengiringi para tamu untuk berdansa, maka Cleo pun menantang Tango untuk berdansa secara bersama-sama.
"Bagaimana jika kita berdua berdansa? Bukankah kita harus bisa menyesuaikan diri di segala situasi?" tanya Cleo dengan nada genit.
"Benar sekali, mari kita berdansa!"
Alunan musik malam itu benar-benar membuat Tango dan Cleo menikmati suasana pesta. Kemeriahan pesta yang diciptakan oleh keduanya mampu membuat ikatan cinta di antara mereka semakin terjalin kuat.
Sementara itu di ruangan sebelah, Nyonya Debora mencari keberadaan Cleo. Beliau merutuki kebodohannya karena tadi justru menyapa Nyonya Rose dan Tuhan Dimitri terlebih dahulu, daripada menemui cucunya, Cleo.
Melihat jika besannya kebingungan, maka Nyonya Rose segera mendekati Nyonya Debora.
"Nyonya, tampaknya Anda sedang mencari seseorang? Apakah ada yang bisa saya bantu?"
Nyonya Debora menoleh ke arah belakang dan tersenyum kepada Nyonya Rose.
"Maaf Nyonya, sepertinya di awal aku masuk ke ruangan ini aku menemukan keberadaan Cleo, tetapi setelah kita berbincang beberapa saat aku kehilangan jejaknya. Apakah Nyonya Rose tahu di mana sekarang cucuku berada?"
"Kalau soal hal itu mungkin dia sedang ke toilet. Tunggulah sebentar, Nyonya. Saya akan bantu carikan Cleo untuk menemui Anda."
"Cleo pasti akan merasa sangat senang sekali ketika bisa bertemu dengan neneknya dalam kondisi seperti ini."
Nyonya Debora tampak mengangguk, mengiyakan ucapan dari besannya tersebut.
Benar saja, sesaat kemudian Nyonya Rose tampak meninggalkan ruangan itu dan menuju ke ruangan sebelah. Beliau merasa jika Cleo ada di sana bersama dengan Tanggo saat ini.
Mendengar derap langkah yang mendekati ke arah ruangan mereka. Tango menghentikan ciuman panasnya dan langsung menoleh ke arah pintu.
"Tahanlah sebentar, Sayang. Ada yang sedang menuju kesini!"
__ADS_1