
Peluh terlihat membanjiri kedua tubuh manusia yang telah menyatu semalam. Eh, bukan manusia tetapi satu manusia dan satu hantu.
Sepertinya pergulatan semalam sangat berkesan dan melelahkan. Buktinya sampai matahari mengintip dari tirai jendela, tidak ada pergerakan sama sekali di atas ranjang.
Keduanya masih terbuai mimpi indah. Hingga matahari kini sudah sedikit meninggi, Cleo mulai mengerjapkan kedua mata indahnya.
"Kenapa rasanya sangat tidak nyaman?" ucap Cleo sambil melihat ke sekelilingnya.
Rupanya salah satu tangan Tango masih menimpa tubuh Cleo, memeluk tubuhnya yang masih polos tanpa sehelai benang pun dan hanya berlapiskan selimut.
Malu, itulah kata pertama yang terbesit di pikiran Cleo.
"Apakah semalam benar-benar terjadi hal itu?"
Bercak merah pada sprei mengisyaratkan jika hal semalam benar-benar terjadi. Rupanya Cleo telah menyerahkan mahkotanya pada suaminya.
Cleo menutup mulutnya, seolah tidak percaya dengan ingatannya. Akan tetapi hal itu benar-benar terjadi. Serangan-serangan penuh api asmara semalam membuat kedua insan yang tengah dimabuk asmara benar-benar mencapai puncak kenikmatan surga dunia.
Merasa ada pergerakan di atas ranjang, tentu saja Tango terusik. Mengetahui jika istrinya sudah bangun, Tango mulai mengerjapkan kedua matanya.
"Kamu sudah bangun, Sayang?"
Cleo mengangguk malu-malu.
"Apakah kamu mau mandi? Biar aku bantu!"
"Tidak usah, aku bisa sendiri, kok."
Cleo bergegas bangkit, namun ada rasa nyeri dan berdenyut yang membuat ia kesusahan berjalan. Rasanya ia begitu malu dengan suaminya.
Mengetahui jika istrinya kesulitan berjalan akibat ulahnya, Tango membelitkan handuk di pinggangnya lalu segera menggendong tubuh Cleo ke kamar mandi.
"Argh!" pekik Cleo terkejut.
"Diam dan nggak usah berontak. Aku akan memandikanmu pagi ini!"
"Hai, aku bisa mandi sendiri, sebaiknya kamu keluar dulu. Aku terlalu malu jika harus kamu mandikan."
Cleo memukul-mukul dada bidang Tango agar suaminya tersebut segera melepaskan tubuhnya.
"Kok panggilannya jadi aku dan kamu, bukan sayang lagi? Kenapa?" ucapnya dengan sendu.
Wajah Tango yang memelas membuat Cleo tidak tega karena membentaknya barusan.
__ADS_1
"Maaf, bukan maksud hatiku untuk membentak. Akan tetapi aku benar-benar merasa malu jika kamu harus menggendongku apalagi sampai mau memandikan aku."
"Ya sudah, aku akan menyiapkan air hangat lalu sesudahnya kamu bisa mandi sendiri."
Cleo tidak berani memandang wajah suaminya lagi, sementara itu Tango masih berharap untuk bisa bermain sekali lagi dengan istrinya. Namun saat ia melihat wajah Cleo yang pucat, seketika ia mempunyai rasa iba.
"Apakah aku semalam terlalu bermain kasar terhadapnya? Atau jangan-jangan dia trauma padaku?"
Banyak praduga yang muncul di kepalanya. Seolah memberinya sebuah penglihatan, apa yang sedang dipikirkan oleh Cleo.
Selepas memastikan semua sudah siap, Tango segera keluar dari kamar mandi. Meskipun begitu pada kenyataannya ia bisa saja menembus dinding dan melihat istrinya mandi tanpa harus kelihatan.
Namun, akal sehatnya masih berfungsi dengan baik sehingga ia tidak melakukan apa yang sedang ia pikirkan.
"Bagaimana pun aku harus menghormati privasinya. Sebagaimana ia memberikan aku sebuah kesempatan hidup kedua."
Merasa jika suaminya sudah keluar dari kamar mandi, Cleo bergegas untuk membersihkan tubuhnya. Ia tidak menyangka jika Tango memberikan aroma terapi di dalam air hangat yang ia gunakan untuk mandi.
"Ternyata, Tango cukup mampu membuatku kagum dengan sikap tanggung jawabnya," ucapnya sambil tersenyum malu.
Tango yang lelah menunggu, lebih memilih untuk menghabiskan waktunya dengan membaca buku. Tidak berselang lama, Cleo sudah selesai mandi. Rambutnya yang tergerai indah masih meneteskan air. Menambah kecantikan alami dari Cleo.
Sekali lagi Tango benar-benar merasakan jatuh cinta. Hatinya teriris mengingat siapa dia saat ini. Namun, cinta terlanjur tumbuh untuknya. Andaikan saja ia tidak menerima perjodohan ini, mungkin saja ia tidak akan berada di sini dan sudah tenang di alam sana.
"Andaikan suatu saat aku harus pergi, aku berharap jika kamu akan lebih bahagia, Sayang," ucap Tango sambil melihat ke arah Cleo.
Cleo yang masih merasa malu hendak pergi ke walk in closed. Lagi-lagi rasa nyeri membuatnya kesulitan berjalan. Dengan cepat Tango segera menghampiri Cleo.
"Mau aku gendong atau aku ambilkan pakaian?"
"Pakaian saja."
"Oke. Kamu tunggu di sini dulu ya, Sayang."
Cleo mengangguk. Teringat jika ia baru memerankan sebagai sosok manusia, Tango menjaga langkahnya agar tidak ketahuan. Sementara itu Nyonya Rose sedari tadi menunggu kedatangan Cleo.
"Mau kemana, Ma?"
"Ke atas, mau lihat Cleo. Sedari tadi pagi ia belum keluar kamar."
Terlihat kecemasan di dalam kelopak mata Rose. Langkah kakinya terhenti ketika Tango mulai menuruni tangga.
"Tango? Kapan kamu pulang, Sayang?"
__ADS_1
"Semalam!"
"Trus, kenapa aku belum melihat Cleo?"
"Itu karena aku memeluknya sepanjang malam hingga baru saja ia bangun," ucapnya sambil tersenyum.
"Loh, loh kok malah senyum-senyum sendiri. Di mana Cleo sekarang, apa dia sakit? Kenapa dia tidak turun?"
Tango menepuk lembut bahu ibunya seraya berbisik, "Semalam aku menggempurnya hingga lemas."
Plak!
"Astaga, Tango. Kamu itu ya, harusnya kamu jangan menggempurnya terus menerus, pasti dia sangat kesakitan hari ini!" ucap Nyonya Rose sambil memandang senjata laras panjang milik putranya itu.
Kalau dilihat dari postur tubuh Tango, sepertinya Cleo benar-benar akan merasakan kesakitan. Tidak mau mendengar alasan putranya, Nyonya Rose segera mendekati dapur dan membuatkan sup rahasia.
Setidaknya membuat kondisi Cleo segera pulih. Ia tidak mau menantu kesayangannya kesakitan karena ulah Tango.
"Anak itu benar-benar ya, harusnya bilang kalau mau bobol gawang itu!" ucapnya kesal.
Para nanni yang melihat nyonya besarnya mengomel hanya bisa menunduk. Mereka tidak berani menasehati atau mendekati Nyonya Rose saat suasana hatinya sedang tidak baik seperti saat ini.
Setelah ramuan rahasianya selesai, Nyonya Rose membawa sebuah nampan berisi sup yang berada di dalam mangkok. Tanpa mau menegur ibunya, Tango lebih memilih untuk menghabiskan waktu bersama ayahnya di ruang makan.
"Habis kamu apakan istrimu? kenapa ibumu terlihat lebih bahagia dari sebelumnya?"
Tango hampir tersedak akan ucapan dari ayahnya, Dimitri.
"Apa yang Papa pikirkan? Aku tidak seburuk itu, kok!"
"Siapa yang menganggapmu buruk, Papa hanya memikirkan semua yang terbaik untuk masa depanmu."
Satu potongan daging berhasil masuk ke dalam mulutnya. Namun, Tango tidak kunjung bicara.
"Tango, cepat katakan!"
"Iya, Pa. Sabar dikit kenapa, sih?"
"Iya, cepat katakan!"
Tango mulai menjelaskan satu persatu kejadian yang berlangsung semalam. Tanpa merasa malu, Tango bahkan mengatakan jika ia sampai melakukan hal itu hingga berulang kali.
"Papa tidak melarang apapun yang kamu kerjakan, hanya saja kamu harus ingat batasanmu, ok."
__ADS_1
"Oke, makasih banyak, Pa."