
Dengan terpaksa Cleo akan menemani Ibu mertuanya datang ke acara lelang. Namun, kedatangan Cleo tidak seperti biasanya. Ia akan datang dengan sebuah penyamaran. Nyonya Rose tidak akan rela ketika Cleo terlihat di depan khalayak umum.
"Bagaimana apa kamu merasa nyaman dengan pakaian yang Mama pilihkan?"
"Suka, Ma. Terima kasih, Ma."
Cleo menatap tampilan dirinya di depan cermin rias.
"Hanya saja kenapa rasanya aku tidak mengenali diriku sendiri?" ucapnya di dalam hati.
Beberapa kali Cleo tampak melihat ke arah cermin, wajahnya tampak sangat mirip dengan mendiang ibunya, Amora. Salah satu tangannya mengusap pipi.
"Di sini, dia pernah menciumku dan di sini juga."
Sekilas bayangan kehadiran Tango terasa sangat mendominasi.
"Aku sangat merindukan kehadiranmu, Sayang."
Cleo benar-benar merindukan kehadiran mendiang suaminya. Tidak berapa lama kemudian sosok Tango memang muncul di samping Cleo. Mengecup pipinya untuk sesaat.
Cleo memejamkan matanya. Mencoba meresapi masa-masa itu. Sampai sebuah tepukan halus memegang bahu Cleo.
"Cantik."
Nyonya Rose tampak tersenyum. Puas dengan make over yang ia lakukan hari ini. Hatinya benar-benar merasa bahagia. Apa yang semula ingin ia berikan pada Cleo, satu persatu keinginannya mulai tercapai.
__ADS_1
Apalagi setelah memiliki seorang putri, meskipun dia hanya berstatus sebagai menantu. Akan tetapi kehadiran Cleo membuat kehidupan Nyonya Rose semakin indah dan berwarna.
"Kamu cantik, Mama suka. Tango pasti sangat bahagia jika melihatmu seperti ini."
Tanpa sadar Nyonya Rose juga merindukan kehadiran putranya. Ia seolah lupa jika Tango juga sudah meninggal. Akan tetapi memang benar, hatinya memang selalu terisi sosok putranya itu, Tango De Laurent.
Sontak Cleo menoleh ke arah ibu mertuanya.
"Tango, bukankah dia sudah ...."
Nyonya Rose sontak menutup mulutnya. Sudut matanya seketika berair. Raut bahagia yang semula muncul kini sirna sudah. Rasanya air matanya sudah bersiap untuk meluncur.
Tubuhnya hampir luruh kalau tidak ditopang dengan tangan Cleo.
"Mama bilang apa? Semua ini sudah takdir, Ma. Mama nggak usah menangis."
Cleo memeluk tubuh ibu mertuanya, mengusap punggungnya dengan lembut agar tangisnya mereda.
"Ayo kita bersiap untuk pergi."
Nyonya Rose tampak mengusap air matanya. Perlahan ia mulai berdiri lalu mengikuti langkah Cleo yang membuka pintu untuknya.
"Mama, jangan bersedih, nanti Papa Dimitri menyalahkan aku!"
"Ha ha ha, mana mungkin," ucap Nyonya Rose kemudian tertawa.
__ADS_1
Kedua wanita beda generasi itu kini mulai berjalan meninggalkan mansion untuk pergi ke acara lelang. Tidak berapa lama kemudian sudah mobil yang mereka kendarai sudah sampai di tempat acara lelang.
Cleo tampak menggandeng lengan ibunya lalu segera masuk ke dalam gedung.
"Ma, kita sudah sampai."
"Sudah sangat lama tidak bertemu dengan banyak orang," ujar Nyonya Rose.
Sementara itu Cleo justru merasa kikuk karena biasanya ia hanya berada di dalam mansion. Lagi pula dua belas tahun tidak bisa melihat keindahan dunia membuat dirinya merasa asing.
Nyonya Rose yang menyadari jika putrinya sedikit tidak nyaman dengan situasi di sana segera menepuk tangan Cleo.
"Berdekatan sama Mama, ya."
Cleo mengangguk sekaligus bersyukur. Apalagi ibu mertuanya sudah mendandani Cleo sehingga menjadi sosok lain. Penyamaran Cleo menjadi sebuah batu loncatan untuknya agar bisa keluar dari mansion dan meneruskan bisnis Keluarga De Laurent selanjutnya.
Bukan hanya Keluarga De Laurent dan El Vanezz saja yang datang ke acara tersebut. Melainkan ada banyak orang-orang penting yang datang ke acara lelang.
"Hm, beginikah rasanya melihat acara penting? Rasanya sangat aneh ketika dunia yang biasanya aku lihat sangat gelap kini menjadi lebih berwarna," gumam Cleo.
"Andai saja Tango masih ada, aku pasti akan sangat bahagia."
"Andai saja aku bisa menggandeng tanganmu sekali lagi, aku juga sangat bahagia, Sayang."
Tango memang memegang tangan Cleo, hanya saja tubuhnya yang transparan tidak akan bisa dirasakan oleh Cleo.
__ADS_1