My Hubby Is Ghost

My Hubby Is Ghost
Part 85. BIASA


__ADS_3

Bagaimanapun caranya Cleo harus mendapatkan kesempatan untuk bisa menunjukkan lagi kegeniusan otaknya dalam mengurusi bisnis dari Keluarga De Laurent.


Jika kemarin ia sempat gagal maka hari ini ia harus mulai lagi dari awal. Maka dari itu ia ingin mengunjungi neneknya untuk membahas tentang rencana baru yang akan ia gunakan untuk memperbaiki perusahaan neneknya yang sedang dalamm kondisi kolabs.


"Pak, perjalanan aman, bukan?"


"Aman, Nyonya Muda. Sepertinya mobil yang biasa menguntit kita tidak lagi mengikuti kemana pergerakan kita. Jadi bisa dipastikan semuanya aman terkendali."


"Baiklah kalau begitu, semoga saja nenek tidak keberatan dengan kehadiranku saat ini."


"Semoga saja, Nyonya Muda. Saya yakin jika Nyonya Besar sudah menanti kedatangan Nyonya sejak tadi."


"Iya," jawab Cleo singkat.


Bagaimana pun ia sudah lama tidak mengunjungi neneknya itu. Jika bukan karena sebuah kebetulan sudah pasti tidak akan dapat mengunjungi beliau seperti saat ini. Beruntung Cleo sudah meminta ijin pada ibu mertuanya sebelum ini.


Tidak berapa lama kemudian ahirnya perjalanannya telah memasuki halaman Mansion El Vanezz. Pandangannya masih menyisir ke arah sekelilingnya. Tempat dimana ia dilahirkan dan menyimpan sejuta kenangan itu akhirnya bisa didatangi Cleo kembali.


"Ternyata setelah sekian lama aku pergi, bahkan hampir lebih dari lima bulan berlalu, nenek masih setia menjaga taman ini untukku."


Setelah mengagumi keindahan suasana taman, kini Cleo melangkahkan kakinya untuk masuk ke dalam mansion. Di belakangnya sudah ada sang sopir yang setia menanti dan mengikuti kemanapun majikannya pergi.


Betapa terkejutnya Cleo ketika mendapati sambutan yang luar biasa dari neneknya tersebut. Senyum Cleo terbit manakala melihat bagaimana neneknya begitu antusias dengan kedatangan dirinya.


"Selamat datang kembali Nona Muda," sapa beberapa pelayan yang bersiap dengan segala rangkaian acara penyambutan itu.


Di ujung barisan pelayan yang menyambutnya tampak seorang wanita paruh baya yang tidak pernah luntur kecantikan dan juga wibawanya. Nyonya Debora menyambut kedatangan Cleo seperti menyambut orang penting.


"Terima kasih," ucapnya dengan penuh senyum.


Akhirnya Cleo menggandeng lengan neneknya tersebut dengan penuh kasih sayang menuju ke dalam rumah.


"Penyambutan kali ini terlalu mewah, Nek."


"Apanya yang terlalu mewah, kau sangat pantas untuk mendapatkannya, Sayang."

__ADS_1


Sementara itu di Mansion De Laurent, tampak sekali jika Tuan Dimitri sekalian masih menunggu Cleo kembali. Nyonya Rose yang melihat kecemasan di dalam mata suaminya segera mendekatinya.


"Cleo masih berada di Mansion El Vanezz, karena ia pulang terlalu malam dan sangat beresiko untuk melanjutkan perjalanan panjang kembali, aku menyetujui permintaan darinya."


Tuan Dimitri memegang tangan istrinya, "Syukurlah kalau begitu. Aku hanya khawatir karena ia seorang wanita dan juga putri sekaligus menantu kita. Sudah sewajarnya kita menjaganya."


"Iya, Sayang. Aku mengerti kekhawatiranmu yang sangat beralasan itu."


Mansion El Vanezz.


Ternyata Tango selalu mengiringi setiap langkah yang dilakukan oleh Cleo. Sama seperti saat ini, Tango berjalan di sisi tubuh Cleo sambil terus memberikannya motivasi.


"Jangan khawatir, aku berada di sini untuk membutikan kamu mampu membuat prestasi baru lagi biar dapat penghasilan yang tidak terbatas. Ada banyak keluarga yang menggantungkan hidupnya pada perusahaan kita, jadi kamu harus bersikap baik saat ini."


"Terlebih lagi ada banyak hal yang membuat orang-orang suka memberikan nilai buruk kepada kita tanpa melihat kerja keras kita dibalik layar."


"Apakah kamu mengerti dengan apa yang aku ucapkan sebelum ini?"


Cleo mengangguk kecil karena takut jika pergerakannya membuat Nyonya Debora curiga.


Perjalanan mereka telah sampai di ruang makan. Cleo sangat terharu dengan semua barang yang diberikan kepadanya. Sebagai bentuk ucapan jika dirinya sangat menyukai segala hal yang dipersiapkan sang nenek untuknya.


"Terima kasih banyak, Nek. Sambutan seperti ini sangat di luar ekspektasiku tadi."


Nyonya Debora tampak tersenyum senang. Setidaknya kerja kerasnya sudah diakui oleh cucunya. Bagaimana ia tidak merasa senang jika bisa menyambut kedatangan Cleo dengan sangat baik.


"Suatu kehormatan bisa mendapatkan jamuan makan malam mewah seperti ini. Dulu aku tidak bisa melihat dengan baik segala macam hidangan yang tersaji di depan meja. Kini akhirnya aku bisa melihat sendiri jika hidangan yang tersaji untukku sangatlah mewah."


Nyonya Debora tidak menyangka jika apa yang dilakukan olehnya sampai menyentuh hati yang terdalam di dalam hati Cleo. Kini ia berusaha untuk melakukan semua hal dengan sebaik mungkin. Dengan begitu ia bisa merasakan jika semua hal terjadi dengan baik dan sesuai dengan apa yang diharapakan oleh Nyonya Debora.


"Sudah, daripada melihat terus semua hidangan yang sudah tersaji ini, bukankah sebaiknya kita segera menikmatinya?"


"Tentu saja Nenek, jika hal itu bisa kita lakukan sekarang, kenapa tidak?"


Maka tidak menunggu waktu yang lebih lama lagi, kini Cleo dan Nyonya Debora segera menghabiskan menu yang ada. Terlihat sekali jika mereka sangat menyukai hidangan yang tersaji itu. Betapa lahapnya suapan demi suapan yang dilakukan oleh Cleo untuk membuat kebahagiaan di dalam hati Nyonya Debora.

__ADS_1


Sementara itu Tango hanya bisa melihatnya dari kejauhan. Meskipun tidak bisa ikut menikmati hidangan itu, raut wajah Tango sudah sangat terlihat bahagia ketika melihat jika Cleo bahagia ketika bisa bertemu dengan neneknya tersebut.


"Syukurlah, Nek. Semua yang terjadi sesuai dengan keinginan darimu. Aku berharap jika Cleo bisa membantu perusahaan milikmu untuk bisa bangkit kembali," gumam Tango sambil menopang dagunya dengan kedua tangan.


Sementara itu tatapannya tidak mungkin beralih kepada apapun itu. Dalam pandangan Tango, sepertinya Nyonya Debora mempunyai sesuatu yang ingin disampaikan kepadanya. Terbukti sedari tadi Nyonya Debora terus berinteraksi dengannya.


"Bagaimana, apakah rasanya enak?"


"Enak sekali, Nenek. Akan tetapi ada sesuatu hal yang kurang di sini?"


"Apa itu, Nak. Coba katakan ada apa dan kenapa kamu bisa menyimpulkan sesuatu seperti itu?"


Cleo tersenyum ke arah Nyonya Debora.


"Cleo merasa jika formasi di sini kurang lengkap karena tidak hadirnya Paman Dardack di sini?"


"Ha ha ha, kalau itu kamu bisa memanggil pamanmu yang sangat sibuk dengan bisnisnya."


Saat keduanya sedang asyik makan, maka terdengar ada suara deru mobil berhenti tepat di halaman rumah orang lain.


"Apakah itu Paman?" tanya Cleo di sela-sela acara makannya.


"Mungkin," jawab Nyonya Debora sekenanya.


Benar, tidak berapa lama kemudian muncullah sosok yang dinanti oleh Nyonya Debora. Derap langkahnya sama seperti biasanya. Terlihat sombong dan berwibawa.


Cleo tersenyum ke arah Pamannya itu.


"Selamat malam, Paman."


"Selamat malam, siapa wanita cantik ini?"


Nyonya Debora tampak tersenyum dengan menanggapi ucapan dari putranya itu.


"Jangan bilang kalau kau melupakan keponakanmu?"

__ADS_1


__ADS_2