
Setelah melalui negoisasi yang cukup panjang Tango meminta hari libur kepada ayahnya. Ia merasa jika beberapa hari ini telah menghabiskan banyak waktu di perusahaan.
Sehingga intensitas pertemuannya dengan Cleo menjadi sedikit. Hal itu pula menjadi pertimbangan Tango untuk mengetes apakah ia bisa berada di bawah sinar matahari atau tidak.
Beberapa saat yang lalu ia telah berhasil membujuk Dimitri dan membawa jasadnya ke dalam rumah pendeta Louis. Semua itu dilakukan agar ia bisa membalaskan dendam kedua orang tua Cleo dan melihat apakah bisa memiliki masa depan yang cerah untuk istrinya.
"Tuan, Nyonya kita sudah sampai!"
"Huft, akhirnya tidak terlambat. Hari ini ada janji untuk menemui nenek sekaligus untuk meminta ijin untuk pergi. Tidak baik jika terlambat."
Cleo mengelus dadanya perlahan.
"Netralkan dulu deru nafasmu, Sayang. Baru kita temui nenek."
"Sayang, bukankah sudah aku bilang tidak akan terlambat!" ucap Tango dengan santai.
Sementara itu wajah Cleo sudah bersemu merah.
"Ini semua karena kamu, jika semalam aku tidak ...."
"Aku juga tidak akan tidur kesiangan dan menjadi buru-buru seperti ini."
Cleo keceplosan dan menutup mulut dengan kedua tangannya.
Ia baru menyadari jika keduanya masih berada di dalam mobil.
"Tidak ada cara lain, siapa suruh istriku begitu lezat, membuat aku tidak bisa menahan naf-su."
Cleo memalingkan wajahnya.
"Bisa-bisanya ia mengatakan hal demikian, ini di dalam mobil, astaga!" pekiknya kesal.
Melihat istrinya yang salah tingkah membuat Tango semakin suka untuk menggodanya. Ia pun merapatkan tubuhnya ke arah Cleo hingga membuat istrinya blushing karena malu.
"Sayang, kita lanjutkan malam ini, ya," ucap Tango sambil membelai rambut yang menutupi telinga Cleo.
"Semalam aku tidak cukup makan."
Blush.
Seketika wajah dan telinga Cleo semakin memerah akibat ucapan Tango barusan.
__ADS_1
"Huaaa, astaga aku tidak mau pulang ke rumah Keluarga De Laurent! Kamu pergilah dulu baru nanti jemput aku lagi."
Cleo melangkah keluar dari mobil dengan membawa tongkat miliknya. Tango masih belum meninggalkan lokasi. Ia memastikan jika Cleo sudah sampai ke dalam rumah.
"Mengapa pria itu tidak cukup ... Jika aku melakukannya lagi, bisa-bisa tubuhku remuk!" omelnya di sepanjang jalan.
"Kim, menurutmu apakah yang dikatakan Nyonya benar?"
"Eh, itu ...."
Seketika kesadaran Kim kembali dan ia segera mengembalikan kesadarannya.
"Ah, Tuan apa yang benar?" ucapnya panik.
"Tadi aku melamun dan tidak mendengarkan apapun," ucapnya berbohong.
"Baiklah, jalanlah dan pergi ke perusahaan," ucap Tango dengan tenang.
Meskipun begitu dari dilihat dari ekspresi wajahnya Tanggo begitu menikmati waktu yang dihabiskan semalam dengan istrinya Cleo. Sehingga suasana hati Tango pagi ini menjadi lebih baik dari sebelumnya.
"Ya!"
Terlihat dari kaca spion jika Tango masih mengamati Kediaman El Vanezz. Sementara itu keringat dingin masih mengucur deras dari kening Kim, sopir yang baru bekerja beberapa hari dengan Tango.
Beruntung sebelum pamannya mengajukan pensiun dini, Kim sudah diberi tahukan beberapa point' penting yang harus diingat selama bekerja dengan Keluarga De Laurent terutama Tango.
Saat Kim melihat ke depan ternyata ada mobil Tuan Lim yang juga melintas di hadapannya. Seketika ia menoleh untuk melaporkan hal itu padanya.
"Tuan, sepertinya mobil Keluarga Tuan Lim ada di depan!"
"Keluarga Lim, apakah Lim Hyun yang baru datang dari Tokyo?"
Dari sisi yang sama, sopir Tuan Lim juga mengingatkan tuan besarnya.
"Presdir Lim, itu mobil Keluarga De Laurent."
"Tango De Laurent?" ucap Tuan Lim penuh amarah.
"Hentikan mobil!" seru keduanya dengan serempak.
Seketika dua mobil yang berpapasan itu berhenti. Tatapan keduanya bertemu untuk saat itu juga.
__ADS_1
"Presdir Lim, kebetulan sekali bertemu!" sapa Tango terlebih dahulu.
"Ha ha ha, Tuan Tango de Laurent, tidak termasuk kebetulan juga."
"Kita semua berada di kota ini, tentu akan bertemu," ucap Presdir Lim kemudian.
Tango terlihat masih santai di dalam mobilnya, bahkan ia menyandarkan tubuhnya ke sisi jendela dan menopang kepalanya dengan salah satu tangan.
"Lihatlah, semua ini kesalahanku."
"Sebelumnya aku mendengar bahwa Keluarga Lim telah kembali dari Tokyo untuk berkembang di sini, aku sebagai pemilik kota ini tidak dapat meluangkan waktu untuk menyambut, benar-benar tidak sepatutnya!"
Terlihat api dendam masih menyala di dalam mata Presdir Lim.
"Tidak perlu menyambut!" ucapnya sedikit marah.
"Bagaimanapun dua puluh tahun yang lalu, Keluarga Lim juga pemilik kota ini."
"Presdir Lim juga telah mengatakan bahwa itu sudah dua puluh tahun yang lalu."
Tango tersenyum menyeringai. "Dua puluh tahun telah berlalu, sekarang Keluarga De Laurent adalah tuan rumah dan Keluarga Lim adalah tamu."
"Tuan Tango, kamu perlu tahu bahwa kadang-kadang waktu tidak bisa mengubah apapun!"
"Waktu memang tidak pasti dapat mengubah sesuatu, tetapi seharusnya bisa membuat orang mengerti sesuatu."
"Mungkin aku terlalu polos, tidak mengerti apapun. Lain hari aku akan meminta Tuan Tango untuk mengajariku," ucap Tuan Lim sambil tersenyum masam.
"Aku akan selalu menyambut kedatangan Presdir Lim."
"Sampai jumpa."
"Sampai jumpa."
Akhirnya ketegangan di pagi itu terhenti. Presdir Jim merasa bisa menghembuskan nafasnya dengan lega kali ini. Kedua mobil itu selanjutnya segera melanjutkan perjalanannya kembali. Di sepanjang perjalanan Presdir Lim masih terlihat mengingat perkataan dari Tango.
"Tango ingin aku mengerti tentang apa?"
"Mengerti bahwa ... sekarang sudah berbeda dengan waktu itu?"
Di dalam mobil, Tango juga masih memikirkan hal itu.
__ADS_1
"Dendam ... memang tidak dapat dilepas semudah itu."