My Hubby Is Ghost

My Hubby Is Ghost
Part 42. MERINDUKANMU


__ADS_3

Sebuah kenyataan jika Tango sudah meninggal dan mendatangi dirinya di dalam mimpi, membuat Presdir Lim kelabakan. Antara sadar dan tidak, dirinya benar-benar kelimpungan dengan sebuah kenyataan yang ada saat ini.


Apalagi ini adalah sebuah kenyataan tentang ke-ma-ti-an adiknya dua puluh tahun yang lalu. Sebuah kecelakaan yang tanpa mereka minta justru menjadi sebuah dendam yang tidak pernah terhapus waktu.


Keluarga Lim dan Keluarga De Laurent tidak pernah ada dendam sebelumnya, justru mereka terlihat sangat baik antara satu sama lain. Ketika kecelakaan itu terjadi, Tango ada di tempat kejadian tersebut, hanya saja ingatan Tango terhapus karena sesuatu hal.


Namun, Presdir Lim masih ingat dengan jelas ketika kecelakaan itu terjadi. Ya, memang Alexander pelaku utamanya, akan tetapi ia tidak bisa menjadi saksi karena usianya sama dengan Tango.


"Andai kamu masih ada di sini, sudah pasti kita bisa bersama dan membesarkan perusahaan berdua," ucap Presdir Lim sambil mengusap foto usang adik perempuannya yang sangat cantik.


Ya, Presdir Lim baru sadar jika bola mata adiknya sama persis dengan milik Cleo. Mungkin karena itulah ia menjadi menyukai kehangatan Cleo dan juga keramahan tamahannya.


"Cleo, andai kamu bisa melihat pasti akan sama cantiknya dengan adikku."


Alexander Lemos seorang mafia dari keluarga De Laurent tetapi karena kekejaman dan sikapnya yang licik membuat ia diasingkan oleh kakeknya Tango. Hal itu berimbas kepada kekuasaan Tango saat ini.


Kepemimpinan tertinggi saat ini diambil alih oleh Dimitri kembali, sementara wakilnya adalah Juno. Hal ini adalah pemicu utama Alexander kembali muncul untuk merebut ahli warisnya.


Ia selalu menyalahkan Tango dan ayahnya untuk hal ini. Padahal saat kejadian itu berlangsung Tango masih anak-anak dan ia belum terlalu paham dengan situasi yang terjadi saat itu.


"Kenapa justru saat kamu sudah meninggal kamu baru mengatakan hal ini kepadaku?"


Ada banyak pertanyaan yang berputar-putar di kepalanya. Namun, ia sama sekali tidak menemukan jawaban atas semua permintaan dari yang bersangkutan.


"Sial, kau berhasil mengacaukan pikiranku!" umpat Presdir Lim kesal.


Pikiran Presdir Lim kembali pada Alexander. Sepertinya ia tahu jika Tango sudah meninggal, oleh karena itu ia pun berani muncul ke permukaan. Presdir Lim memijit pelipisnya lalu mencoba mengingat setiap detail dari mimpi yang baru saja dialami olehnya.


"Apakah maksud Tango menemuiku di dalam mimpi?"


"Ataukah ia memang sengaja mengatakan hal ini karena ingin membuatku hancur? Atau memberitahukan sebuah kenyataan yang tidak bisa dikatakan secara langsung?"


Ada sebuah ingatan yang membuat Presdir Lim harus membuka album foto tentang adiknya yang sudah meninggal.


"Jika kemungkinan yang kamu peroleh hanyalah dua puluh persen, lalu kenapa kamu justru mengatakan hal ini kepadaku? Apakah kamu ingin menjebakku!" ucap Presdir Lim geram sembari memukul meja di hadapannya.


Arwah Tango masih berada di dalam kamar Presdir Lim. Ia masih ingin mengatakan semuanya saat ini. Akan tetapi Presdir Lim keburu bangun. Di sisi lain Tango tidak bisa menampakkan dirinya sama seperti saat Pendeta Louis membantunya.

__ADS_1


Pandangan Tango dialihkan ke arah Pendeta Louis, ingin rasanya membangunkan atau setidaknya membantu ia agar cepat sembuh. Hanya saja saat ini kekuatan Tango masih dalam tahap pemulihan sehingga ia harus menahan setiap keinginannya.


"Kapan lagi aku bisa mengatakan semuanya?" ucap Tango di dalam hati.


"Lebih baik aku segera pergi ke rumah daripada di sini semakin pusing!"


Tidak mau berlama-lama di sana, Tango memilih untuk kembali melesat ke rumah Pendeta Allert.


Splash


Hanya sepersekian detik, kini arwahnya sudah sampai di sana. Allert yang baru selesai sembahyang menoleh karena terkejut.


"Ada apa lagi?" tanyanya dengan alis terangkat sebelah.


Allert memperhatikan setiap detail ekspresi yang ditujukkan oleh Tango.


"Sepertinya dia merasa kesal akan hal ini."


Tango segera mengatakan apa yang menjadi beban pikirannya kepada Allert.


"Sepertinya kamu terasa badmood, memangnya ada apa?"


"Nggak boleh, kamu harus tahu jika penyesalan selalu datang di akhir. Oleh karena itu bepikirlah terlebih dahulu sebelum bertindak."


Tango memandang Allert dengan penuh keraguan.


"Belum tuntas aku menyampaikan pesan pada Presdir Lim ia sudah bangun dari tidurnya."


"Ck, gitu aja ngambek!" ucap Allert berterus terang.


"Harusnya kamu membantuku dengan segera, agar aku bisa bersamanya setiap waktu."


"Itu 'kan keinginan darimu, bukan berasal dariku!"


"Kalau begitu, kamu bisa memasuki mimpinya sekali lagi. Akan tetapi kesempatan itu hanya sekali, jika gagal aku tidak bisa membantumu kembali."


Tango melesat mendekati Allert.

__ADS_1


"Bisakah kau membuatnya tertidur untuk waktu yang lama? Setidaknya sampai aku selesai mengatakan semuanya."


"Akan aku usahakan. Kamu tahu sendiri sekarang kekuatanku berkurang karena mengobati Louis dan juga dirimu."


"Iya, tetapi aku ingin segera bertemu dengannya dan ia bisa melihatku kembali."


"Sabar, karena ini masih dalam masa penyesuaian setelah ini kamu bebas menemui istrimu. Untuk memulihkan ingatan saja aku harus menghabiskan dan saat ini aku masih dalam masa pemulihan aku tidak bisa memaksakan diri lagi atau aku akan kehilangan nyawaku."


Allert menoleh ke arah Tango.


"Akan lebih beresiko kalau aku membantumu lebih banyak atau mulai menjelaskan pada Presdir Lim."


Tango mulai merebahkan dirinya dan bertumpu pada tembok.


"Padahal aku hanya ingin mengatakan sesuatu yang penting agar Cleo tidak terlalu terluka karena hal ini."


"Sabar, lebih baik kau mengunjungi istrimu agar tahu kapan kau harus waspada dan tidak."


"Tetapi aku rindu padanya."


Allert berdecih karena hal itu. Ia sangat tahu akan hal itu dibandingkan dengan Tango. Maka dari itu ia memilih ntuk menjadi pendeta dibandingkan pekerjaan lainnya.


"Cih, dasar hantu aneh, salah siapa kau berani mencoba-coba. Jelas akan ketagihan kalau kau sudah berani mencobanya."


Tidak mau menanggapi hal lain, Allert lebih memilih untuk segera pergi meniggalkan Tango. Lagi pula ia harus mengobati Louis terlebih dahulu.


Merasa jika ia harus menemui Cleo, Tango bergegas untuk segera pergi.


"Ada banyak hal yang harus aku capai saat ini. Lagipula Cleo masih terlihat terpukul karena kepergianku yang terkesan mendadak."


Benar saja saat ini Cleo memang masih terpukul, hanya saja ia tidak mau memperlihatkan hal itu pada orang lain. Oleh karena itu, Tango merasa harus selalu berada di samping Cleo.


Saat ini, Cleo mmelihat pantulan dirinya di depan cermin. Sesaat kemudian ada sekelebat bayangan yang terlihat samar di kaca riasnya, namun saat Cleo menoleh bayangan itu hampir tidak ada.


"Bukankah tadi ada Tango di sini?" gumam Cleo.


Cleo kemudian menggeleng-gelengkan kepalanya.

__ADS_1


"Akh, tidak mungkin. Itu pasti hanyalah halusinasiku saja."


__ADS_2