My Hubby Is Ghost

My Hubby Is Ghost
Part 43. KECURIGAAN CLEO


__ADS_3

Merasa jika Tango berada di sisinya membuat Cleo mengingat setiap moment yang tercipta di dalam hari-harinya selama sebulan kemarin. Usia pernikahan Tango dan Cleo memang hanya sebentar.


Akan tetapi ia tidak bisa melihat suaminya itu lagi. Kali ini ia hanya bisa melihat pantulan wajahnya di dalam album foto.


"Tunggu sebentar kenapa foto Tango tidak terlihat?"


"Apakah saat itu aku berfoto sendirian? Akh tidak mungkin. Jelas-jelas saat itu aku berfoto bersamanya."


Cleo membolak-balikkan album foto tersebut, akan tetapi hasilnya sama saja semua fotonya bersama Tango tidak ada. Melainkan ia hanya berfoto sendirian dengan latar belakang altar pernikahan.


"I-ini tidak mungkin, 'kan? Kenapa terasa janggal? Padahal saat itu aku masih melihat foto Tango di sini!"


Cleo menutup mulutnya seolah tidak percaya dengan apa yang dilihatnya saat ini. Ia pun bergegas keluar dari kamar menuju kemar mertuanya untuk menanyakan hal ini.


"Aku harus mendapatkan kejelasan tentang semua ini, secepatnya!"


Cleo menyibak gaunnya agar sedikit naik ke atas. Hal itu biasa dilakukan ketika ia harus berjalan cepat ke kamar lain.


Di tengah perjalanan ia bertemu dengan Nanni.


"Selamat sore, Nyonya Muda."


"Selamat sore, oh, ya. Apakah Ibu ada di dalam?"


"Oh, Nyonya dan Tuan baru saja pergi ke luar. Sepertinya ada urusan mendadak hingga tidak memberi kabar kepada Anda."


"Ya, sudah kalau begitu. Terima kasih, Nanni."


"Sama-sama."


Sementara itu Cleo segera pergi kembali ke kamarnya. Cleo mengambil ponsel lalu mencoba memanggil Miss Vallery. Kebetulan ia sudah selesai mengajar, sehingga ia segera menerima panggilan telepon darinya.


"Hallo, selamat sore."


"Sore, Miss ini aku!"


"Cleo, ada apa? Tumben sekali kamu menelponku?"


Miss Vallery tentu saja terkejut karena tidak biasanya ia menelpon dengan nomor pribadi.


"Bisakah kita bertemu? Ada sesuatu yang harus aku bahas denganmu?"


"Tunggu sebentar, bukankah akan sulit keluar dari Mansion De Laurent, bagaimana caranya aku menemuimu?"


Cleo mencoba berpikir cepat, ia harus bisa bertemu dengan Miss Vallery secepatnya. Ia sungguh tidak menyangka jika ada sebuah rahasia besar yang sedang disembunyikan oleh Keluarga De Laurent kepadanya.


"Semoga saja aku bisa mendapatkan ijin dari Mama. Akan tetapi beliau saat ini masih berada di luar mansion."


"Kenapa kita tidak terhubung melalui email saja, di sana kita bisa melakukan video call, Sayang," usul Miss Vallery.

__ADS_1


Ia yang sudah terbiasa dengan kegiatan itu mencoba mengajak Cleo berpikir jernih. Lagi pula Miss Vallery tidak mau membahayakan keselamatan Cleo. Ia tahu jika Tango semasa hidup sangat posesif ketika tahu Cleo adalah sebuah berlian yang tersembunyi.


"Baiklah kalau begitu, kita terhubung via Zoom saja."


"Good, nanti aku undang kamu ke ruanganku, oke."


"Oke. Sampai jumpa."


Sedikit merasa leluasa bernafas karena Miss Vallery selalu ada untuk dirinya, membuat Cleo bisa bernafas dengan lega.


"Beruntung, Miss selalu ada untukku," ucap Cleo di dalam hati.


Sementara itu di kediaman Lim. Adik angkanya Mihiyo marah-marah karena kakaknya melarang hubungannya dengan Tango dan justru membuatnya meninggal. Ia menyalahkan Predir Lim untuk semua hal yang dilakukan secara sepihak.


"Semua ini salah kakak, jika saja aku datang lebih dulu daripada kamu, sudah pasti calon suamiku tidak akan meninggal!" pekik Mihiyo kesal.


Presdir Lim masih membiarkan adiknya berbuat sesuka hati. Baginya kemarahan Mihiyo tidak ada artinya, yang ia pikirkan adalah kebahagiaan Ibunya.


Tidak begitu lama setelah itu, Ibu Lim datang. Melihat keributan di antara kedua anaknya membuat ia lelah.


"Ada apa ini? Kenapa kalian selalu bertengkar? Apakah kalian tidak pernah merasa lelah?"


"Ibu, aku sangat sedih karena hal ini."


Tangan Ibunda Lim terulur ke arah Mihiyo.


"Cukup! Apakah aku tidak bisa melihat kalian akur sedikit saja?"


"Lim, antar ibu pergi ke Mansion El Vanezz. Ibu ingin bertemu dengan Nyonya Debora!"


"Baik, Bu. Akan aku aturkan jadwal untuk kalian agar bisa bertemu satu sama lain."


"Kalau bisa secepatnya. Oh, ya pertemukan juga aku dengan Cleopatra, cucu Nyonya Debora."


"Baik, Bu."


"Memangnya siapa Cleopatra itu, kenapa ibu sepertinya sangat menyukainya? Aku harus menyelidiki hal itu dengan baik. Kalau tidak aku pasti akan ketinggalan berita!"


Malam hari akhirnya tiba. Inilah saatnya untuk Tango kembali masuk ke dalam mimpi Presdir Lim dan memberitahukan seperti apa hal yang harus diketahui oleh Presdir Lim.


"Ka-kamu datang lagi?" ucap Presdir Lim tergagap.


Kini ia telah sadar jika Tango sebenarnya sudah meninggal dan saat ini yang ia temui hanyalah arwahnya.


"Maaf, aku hanya bisa bertemu dan mengatakan hal ini ketika memasuki alam mimpi. Kamu sudah tahu jika sebenarnya aku sudah tiada."


"Lalu apa yang ingin kau sampaikan kepadaku saat ini? Cepat katakan!"


Tango tersenyum menyeringai.

__ADS_1


"Kamu takut dengan wujudku saat ini?"


Mulutnya berkata tidak tetapi pada kenyataannya berkata iya. Meskipun begitu ia sangat penasaran dengan apa yang akan disampaikan oleh Tango.


"Baiklah aku akan mengatakan hal yang sebenarnya."


Tango mulai mendekati Presdir Lim.


"Jika hanya aku seorang saja, peluangnya memang hanya dua puluh persen, karena jalan pikiranku bisa ditebak olehnya, tetapi ...."


Tango sengaja menjeda kalimatnya lalu ia kembali menatap ke arah Presdir Lim.


"Alexander tidak bisa memahami dirimu, maka dari itu kemungkinan berhasil akan lebih besar!"


"Kenapa bisa begitu?" ucap Presdir Lim terkejut.


"Jika kamu mau bekerja sama dengan diriku maka peluang untuk bisa menangkapnya adalah sembilan puluh persen!"


"Sembilan puluh persen?"


Tango mengulurkan tangannya ke arah Presdir LimL Hyun apakah kamu mau bekerja sama dengankua


"Tangkap Alexander dan memberikan penjelasan untuk adikmu, ibumu dan seluruh Keluarga Lim!"


Presdir Lim yang awalnya ketakutan kini berubah penuh rasa percaya diri.


"Tuan Tango, kamu bilang jika Alexander, pamanmu itu tidak bisa memahamiku! Aku rasa kamu juga tidak memahamiku."


"Oh, maksudnya?" tanya Tango dengan ekspresi terkejut.


Ia menerima uluran tangan dari Tango.


"Karena aku paling mahir dalam mengubah peluang dari sembilan puluh persen menjadi seratus persen!" ucapnya penuh rasa percaya diri.


Sementara itu Mihiyo menemui ibunya di ruang baca.


"Bu, bisakah kita berbicara sebentar?"


"Boleh, kenapa tidak? Masuklah, Nak."


Mihiyo memasang wajah tidak bersalah dan memelas saat ini. Ia bahkan bergelayut manja di lengan ibunya.


"Ada apa, Sayang? Kenapa kamu sepertinya ingin mengetahui sesuatu dari Ibu?"


Mihiyo menengadahkan wajahnya ke arah ibu angkatnya itu.


"Ibu bisa membaca pikiranku, ya?"


Ibunda Lim tersenyum ke arah putrinya.

__ADS_1


"Kamu sudah seperti putri ibu sendiri, jadi ibu bisa membaca isi pikiran kamu."


"Baiklah kalau begitu aku tidak akan sungkan lagi, jadi begini, Bu ...."


__ADS_2