My Hubby Is Ghost

My Hubby Is Ghost
Part 74. BERTEMU NENEK


__ADS_3

Sesuai dengan dugaan Tango. Saat ini Nyonya Rose sudah memegang kenop pintu. Hingga sesaat kemudian pintu terbuka dengan lebarnya.


"Tuh, 'kan benar sesuai dengan dugaan dari Mama kamu ada di situ?"


Cleo tersenyum menanggapi ucapan dari Mama mertuanya tersebut. Sejenak kemudian Nyonya Rose mendekati menantunya.


"Ngapain sendirian di sini?"


"Eh, itu Ma. Aku capek makanya duduk di sini aja," ucap Cleo mencari sebuah alasan.


Dalam pandangan Nyonya Rose, beliau hanya bisa melihat Cleo seorang diri. Apalagi saat ini ia belum bisa melihat keberadaan Tanggo. Namun, Nyonya Rose tersenyum kala ia sudah menemukan menantunya tersebut.


Tango melihat interaksi yang terjadi di antara keduanya dengan menopang dagunya dengan kedua tangan sambil berkedip manja. Hampir saja Cleo tersenyum akan tingkah genit dari Tango.


"Benar, 'kan apa kataku tadi? Ada yang sedang menuju ke tempat kita. Kalau Nyonya Debora mencarimu, maka pergilah untuk menemuinya," ucap Tango dengan tersenyum.


"Baiklah, aku pergi dulu."


"Sampai jumpa, Sayang,"


Saat ini keduanya saling mengucapkan bahasa isyarat, yang hanya dimengerti oleh Cleo dan Tango. Sehingga ketika ada orang lain yang datang, mereka tidak akan mengerti jika ada Tango di sampingnya.


"Mama sudah mengira jika kamu akan beristirahat di sini," ucap Mama Rose sambil duduk di samping Cleo.


Saat ini memang Cleo sedang duduk di sofa panjang. Tempat yang sebelumnya diduduki oleh Tango kini ditempati oleh Mama Rose.


"Oh, ya di ruangan pesta ada nenekmu, Nyonya Debora yang ingin bertemu denganmu. Apakah kamu mau bertemu dengan beliau?"


"Benarkah yang dikatakan Mama?"


Kedua mata Cleo terlihat berbinar bahagia.


"Aku sungguh bahagia jika bisa menemui nenek saat ini. Ayo kita kesana, Ma!"


"Tentu saja, nenek sudah menunggumu di sana. Ayo Mama antar kamu ke tempat nenek!"

__ADS_1


"Terima kasih ya, Ma."


Sesaat kemudian kedua wanita berbeda generasi itu segera menuju ke ruangan pesta. Tempat di mana Nyonya Debora sedang menunggu kedatangan cucu tercintanya yaitu Cleopatra.


Tango menatap kepergian Cleo dan Mamanya dengan raut wajah penuh kebahagiaan.


"Semoga Cleo bisa menjadi penggantiku ketika Mama kesepian. Maafkan aku yang belum sempat membuat Mama dan Papa bangga."


Ada getaran rasa sakit yang menyelimuti dirinya saat mengatakan hal itu. Meskipun bibirnya mampu mengucap tidak, tetapi hatinya tidak bisa.


Di sisi lain, lebih tepatnya di sudut ruangan Dardack sedang menelpon seseorang. Ia terlihat memarahi lawan bicaranya. Hal itu terlihat dari ekspresi Dardack yang begitu tegang sedari tadi.


"Katamu mata keponakanku tidak akan pernah sembuh, kenapa saat ini ia sudah bisa melihat kembali. Beri aku penjelasan yang masuk akal atau jabatanmu akan aku copot dari Rumah Sakit tersebut!"


Namun, lawan bicaranya tampak tidak takut sedikitpun.


"Sesuai dugaanku, jika ada orang yang mempunyai donor mata yang tepat untuk keponakanmu itu, maka ia bisa melihat kembali."


"Namun, dibutuhkan waktu yang lebih lama untuk meneliti kembali apakah kebutaan keponakanmu itu permanen atau tidak. Jika ia bisa melihat saat ini berarti dokter yang menangani operasi keponakanmu bukanlah orang sembarangan."


Dardack tampak geram ketika mendengar penjelasan dari lawan bicaranya itu.


Dokter itu tampak menyeringai, tetapi ia masih bersikap santai ketika menghadapi kemarahan Dardack.


"Tentu saja ada. Jika sudah terjadi sebuah operasi mata, pasti ada resiko di belakangnya. Kecuali ia sudah melewati masa kritis itu lain lagi ceritanya."


"Jika ada pantangan yang dilanggar tentu saja ia akan mengalami kebutaan permanen kembali. Bukan kebutaan sementara seperti yang dialami oleh keponakanmu beberapa tahun terakhir ini."


"Lalu bagaimana caranya aku membujuk dia agar mau diajak ke Rumah Sakit?"


"Kenapa kamu repot-repot melakukan hal tersebut?"


"Bukankah kamu bisa membiarkan keponakanmu itu mengalami kecelakaan dan mengalami kebutaan karena kecelakaannya?*


Senyum Dardack tersungging sempurna.

__ADS_1


"Bukankah dulu kamu juga melakukan hal yang sama untuk menjebak keponakanmu dan akhirnya ia menjadi buta sampai saat ini?"


"Harusnya dengan obat yang kamu berikan secara rutin itu sudah cukup untuk membuat matanya buta permanen, tetapi kenyataannya sebuah keajaiban didapatkan oleh keponakanmu itu."


"Sudahlah, coba pikirkanlah cara lain lagi jangan menggunakan cara yang sama, karena jika terjadi hal demikian maka orang yang menyelidiki kasus kecelakaan saudaramu akan menemukan barang bukti yang mengarah kepadamu. Berhati-hatilah!"


Mendengar ucapan dari temannya tersebut Dardack kembali membuka pikirannya.


"Memang benar apa yang dikatakan olehmu, sungguh beresiko kalau aku sampai melukai dia sekali lagi. Biarlah untuk saat ini dia bahagia. Hingga pada suatu saat yang telah aku tentukan, kebahagiaan itu akan raib dan aku yang akan berbahagia untuk selamanya."


"Good, pemikiran yang sempurna!"


Setelah berbincang-bincang dengan temannya, kini Dardack menoleh ke arah Nyonya Rose yang membawa seorang wanita yang mirip dengan Amora.


"Ya, itu pasti Cleo keponakanku. Memang benar apa yang dikatakan oleh nenek. Jika saat ini ia tumbuh menjadi gadis yang sangat cantik dan prestasinya mampu menyamai kepandaian Fernandes."


Dardack membetulkan posisi duduknya sambil terus mengamati kedatangan Cleo.


"Oleh karena itu keberadaanmu yang cukup mengancam untukku. Maka tunggulah kehancuranmu dan bersiaplah untuk menangis atau kau akan menerima hal yang sama seperti yang terjadi kepada kedua orang tuamu."


Dardack begitu bahagia ketika membayangkan jika Cleo benar-benar hancur. Entah model macam apa Dardack sesungguhnya.


Seorang paman yang tidak mempunyai hati dan selalu rakus akan kekuasaan. Bahkan seolah hatinya sudah benar-benar mati.


Sementara itu Nyonya Debora merasa sangat bahagia ketika bisa bertemu dengan Cleo.


"Cucuku, kamu sangat cantik dengan penampilan seperti ini," ucap Nyonya Debora dengan binar kebahagiaan.


Mereka memeluk satu sama lain, seolah sudah tidak bertemu sekian lama. Padahal baru beberapa minggu yang lalu keduanya berada di tempat yang sama dalam peresmian kerja sama antara Keluarga El Vanezz dan juga Keluarga Lim.


"Maafkan aku yang tidak sempat berkunjung ke tempat, Nenek. Aku terlalu nyaman berada di mansion De Laurent sampai aku tidak berani meminta ijin untuk keluar."


"Ha ha ha, kau bisa saja. Akan tetapi apapun alasannya itu yang terpenting kamu sudah bisa melihat saat ini. Nenek sangat berterima kasih untuk semua pengorbanan yang dilakukan oleh Keluarga De Laurent untukmu."


"Benar, bagaimana pun caraku membalas semua itu hasilnya tetap sama saja."

__ADS_1


"Terima kasih banyak, Rose. Kamu dan Dimitri telah merawat Cleo dengan sepenuh hati."


"Sama-sama, lagi pula kami telah menganggap Cleo sebagai putri kami sendiri."


__ADS_2