
"Bagaimana pun caranya aku harus membuat kesan tersendiri kepadamu, Sayang. Apalagi ini adalah pertama kalinya aku menjadi suamimu."
Padahal Cleo tidak meminta apapun saat ini. Baginya Tango yang selalu ada untuknya adalah sebuah karunia Tuhan yang tidak ternilai. Bagaimana pun cara Tuhan melakukan semua ini Cleo tetap saja bersyukur.
Saat ini Tango mengirimkan beberapa hadiah lewat Juno ke dalam Mansion De Laurent dengan mengatas namakan dirinya sebagai ucapan sekaligus hadiah ulang tahun untuk Cleo.
"Orang bucin memang berbeda sekali ketika mengekspresikan rasa cintanya."
Gemas dengan ucapan sahabatnya kini Tango menghadiahi sahabatnya itu dengan sebuah jitakan di kepala. Tentu saja Juno mengaduh karena hal tersebut.
"Argh, rasa-rasanya terlalu menyenangkan jika aku harus lama-lama hidup bersamamu!" teriak Juno sambil mengusap kepalanya.
"Tentu saja karena semakin lama kamu bersama denganku maka kamu akan semakin makmur," ucapnya penuh rasa bangga.
"Astaga, menyenangkan sekali!" ucap Juno sambil menyengir.
Tidak ada hal yang lebih indah lagi kecuali bersenda gurau dengan Tango. Apalagi selama ini mereka jarang sekali menghabiskan waktu secara bersama. Perintah-perintah dari Tango membuatnya seringkali kehabisan waktu.
"Aku sangat bahagia ketika menyadari jika kamu masih bisa bersama dengan Cleo setelah kamu meninggal."
"Terima kasih, Bro. Maafkan semua kesalahan yang telah aku perbuat selama ini. Aku yakin jika tidak ada sebuah hal yang tidak mungkin ketika aku sudah percaya akan takdir Tuhan."
"Semua ternyata sudah sesuai dengan apa yang kita harapkan. Hanya saja saat ini aku dan Cleo berbeda alam."
Juno menepuk bahu Tango. "Percayalah jika saat ini semua yang sedang kalian bangun bersama Cleo adalah sesuatu yang indah."
__ADS_1
"Aamiin."
...👑Mansion De Laurent...
Nyonya Rose juga sudah menyiapkan berbagai hal demi kemeriahan pesta. Beberapa souvernir akan diberikan pada anak-anak yang datang ke pesta ulang tahun menantunya itu. Sebagai ungkapan rasa syukur atas apa yang telah didapatkan olehnya saat ini.
Sambil menata kado-kado kecil dari anak-anak panti, Nyonya Rose tersenyum.
"Doaku agar kamu bisa terus bahagia meskipun Tango sudah tidak ada di sini."
"Maafkan Mama karena telah membuat sebuah hal yang membuatku menderita sepanjang hidup karena tidak memiliki keluarga yang sempurna."
Cleo yang sudah turun dari mobil merasa aneh dengan keadaan sunyi di dalam mansion. Kondisi lampu yang mati di beberapa titik membuat Cleo harus menghela nafas karena itu sama saja dengan ia harus membetulkan aliran listrik di lantai bawah.
"Aneh, tidak biasanya mereka sampai meninggalkan mansion dengan kondisi seperti ini."
"Nggak usah, biarkan aku saja."
Meskipun lampu mati, tetapi hal itu tidak membuat ketakutan di dalam hati Cleo muncul. Cleo terbiasa hidup dalam kegelapan selama lebih dari dua belas tahun. Hingga saat ini, akhirnya mata Cleo terbuka dengan sempurna untuk bisa menikmati keindahan dunia yang tersaji di hadapannya.
Saat ini Cleo membawa sebuah lampu pijar sebagai penerangannya ke lantai bawah. Dengan hati-hati ia menapaki setiap langkah demi langkah anak tangga itu hingga sampai di bawah dengan selamat.
Udara dingin langsung menyeruak ketika kakinya menyentuh lantai yang terbuat dari batu marmer. Memang sangat cocok digunakan untuk tempat berlangsungnya sebuah acara pesta atau hajatan. Sama seperti yang dilakukan oleh Nyonya Rose saat ini.
Namun, suara bisik-bisik masih bisa Cleo dengar ketika langkahnya semakin menyusuri tiap jengkal di lantai tersebut. Hingga tidak berapa lama kemudian, tiba-tiba saja lampu di ruangan itu menyala dengan baik.
__ADS_1
Menerangi setiap jengkal lantai dan ternyata berisi banyaknya anak panti yang turut merayakan pesta ulang tahun Cleo.
Sontak saja kedua mata Cleo melebar tatkala melihat banyaknya anak-anak panti yang berada di sana dan menyayikan lagu selamat ulang tahun untuknya. Apalagi di tengah-tengah mereka ada ibu mertuanya Nyonya Rose.
"Happy birthday, Sayang."
"Terima kasih, Ma. Aku sangat menyukai kejutan ini."
Tangannya terbuka lebar dengan salah satu kue ulang tahun mini dengan lilin di atasnya.
"Make a wish dulu," pinta Nyonya Rose dengan cepat.
Cleo mengangguk, lalu meniup lilin di atasnya itu. Setelah itu, dengan langkah lebarnya kini Cleo mulai berjalan di antara anak-anak dan menuju ke sebuah meja yang berisi kue ulang tahun raksasa miliknya.
"Ini untukku?"
Nyonya Rose mengangguk. Cleo yang melihat betapa besarnya kasih sayang ibu mertua terhadapnya mengucapkan terima kasih hingga akhirnya kini ia bersiap untuk mengucap doa-doanya dan meniup lilinnya.
Betapa bahagianya Cleo ketika satu persatu anak panti menyalami dan memberikan selamat kepadanya. Meskipun ujungnya ia tetap merindukan kehadiran Tango, suaminya.
Kedatangan mereka membuat rasa lelah dan penat yang sebelumnya menghampiri kini telah pergi begitu saja. Menguap bersama angin yang berhembus malam itu.
"Setiap saat adalah sesuatu yang berharga untukku, tetapi ketika anak-anak datang dengan penuh cinta, sudah membuat hatiku menghangat karenanya."
Tango yang berada di lantai atas tersenyum manis menatap istrinya itu. "Selamat ulang tahun, Sayang. Maafkan aku yang tidak bisa mendekati dirimu dan merayakan pesta ulang tahun kamu."
__ADS_1
"Akan tetapi yakinlah ketika aku sangat mencintaimu. Saat ini aku hanya bisa mendoakan setiap kebaikan selalu tercurah kepadamu sepanjang sisa usia agar kamu selalu bahagia. Aamiin."
"Meskipun Tango tidak ada, tetapi aku yakin akan ada pelangi di setiap hujan. Dimana pun keberadaanmu, aku selalu mencintaimu."