
Sepulang dari kediaman El Vanezz, Tango memegang erat tangan Cleo.
"Kamu kenapa?"
"Apakah kau tidak melihat api kecemburuan yang terlihat jelas di dalam mataku?"
Cleo tersenyum kemudian menoleh kepada suaminya, "Apa yang kamu takutkan? Bukankah suamiku hanya kamu seorang?"
"Please, jangan pernah sekalipun melirik lelaki lain ketika di hadapanku atau pun ketika aku tidak berada di sisimu. Kamu juga tidak boleh berdekatan dengan lelaki selain diriku!"
"Hei! Apa kamu cemburu? Tanggo, percayalah kepadaku. Aku tidak pernah punya niat untuk mencari lelaki lain selain dirimu."
Tango mengarahkan jari kelingkingnya ke arah Cleo. "Janji, kamu hanya milikku selamanya!"
Cleo menautkan jari kelingkingnya ke arah Tango. "Janji, Sayang."
"Kamu tahu ketika aku melihat tatapan dari Presdir Lim tadi, hatiku terasa panas! Ingin sekali aku menonjok wajahnya yang sangat sombong itu!"
"Jangan begitu, Sayang. Kita tidak punya hak mengatur orang lain sesuai dengan keinginan kita. Apalagi seorang tamu itu seperti raja, jadi kita harus memperlakukannya dengan hormat."
"Iya, istriku, Sayang."
Tango menyandarkan kepalanya ke arah bahu Cleo. Tangan kecil Cleo mengusap lembut helaian rambut Tango hingga membuatnya memejamkan mata.
"Memang tidak ada obat terbaik kecuali sentuhan dari seorang istri. Dirimu aku belajar banyak hal, Cleo."
"Mungkin dulu aku memang terlihat sangat angkuh, sehingga tidak ada seorang wanita pun yang berani mendekatiku."
"Oh, ya. Bolehkah aku tahu kenapa kamu tidak menolak lamaranku saat itu? Bukankah kita baru saja bertemu. Apa kau begitu percaya kepadaku?"
"Ya, aku tidak pernah menolak keinginan nenek. Apalagi dengan menikah denganmu, akan membuat nenek bahagia."
"Aku tidak bisa menyakiti orang yang sudah merawatku sejak kecil. Awalnya aku mengira akan bersikap biasa terhadapmu. Akan tetapi karena aku merasakan engkau telah banyak berkorban untukku, maka aku berjanji sejak malam itu kuserahkan semua hidup dan matiku kepadamu, suamiku."
Tango yang awalnya memejamkan mata kini memandang lembut ke arah istrinya.
"Lalu bolehkah aku tahu isi hatimu? Apakah saat ini engkau sudah mencintaiku atau cintaku bertepuk sebelah tangan?"
"Cintamu tidak pernah bertepuk sebelah tangan, Sayang. Hanya saja cinta itu tidak bisa terlihat ketika baru beberapa saat kita bersama. Melainkan seiring dengan berjalannya waktu, maka cinta kita akan menguat dengan sendirinya."
__ADS_1
"Percayalah cinta yang tulus itu akan datang tepat pada waktunya. Kita tidak perlu mencari seseorang yang mencintai kita, tetapi cintailah ia dengan setulus hati. Maka atas izin Tuhan, dia pasti akan mencintaimu pula."
Saat mengetahui jika Cleo menemani Nyonya Debora untuk pertemuan bisnis dengan Presdir Lim tadi, suasana hati Tango benar-benar tidak bisa ditebak. Bagaimanapun Cleo terlihat sangat cantik tadi, tentu akan banyak menarik lawan jenis untuk mendekatinya.
Apalagi Cleo masih belum terlihat menikah. Meskipun banyak orang yang mengira Cleo masih belum bisa melihat, tetapi hal itu sama sekali tidak mengurangi kecantikan alami yang dia miliki. Sejujurnya peristiwa tadi bukanlah salah satu alasan utama Tango khawatir, melainkan Keluarga Lim adalah musuh bisnis dari Keluarga El Barack.
Keduanya telah memelihara dendam itu selama lebih dari dua puluh tahun. Maka dari itu saat ini terlihat sekali jika Tango sedang menanggung beban yang begitu tinggi.
"Oh, ya suamiku ... bagiamana caranya aku mengucapkan terima kasih kepada Keluarga Lim, nenek sedari tadi menghubungiku dan meminta aku untuk memikirkan masalah ini."
Pikiran Tango yang tadi berkelana kembali dalam sekejap. Ia memandang istrinya yang semakin manis di hadapannya kali ini.
"Kalian cukup menjalankan proyek kerja sama dengan Keluarga Lim dengan baik, itu sudah lebih dari cukup."
"Benarkah? Belum lagi aku yang masih merahasiakan tentang kesehatan kedua mataku pada nenek, sedikitnya hal ini membuat aku belum bisa merasa tenang."
Tango menepuk bahu Cleo dengan lembut.
"Jika ada yang membuatmu khawatir atau perlu bantuan dariku secara diam-diam, katakan saja. Toh, aku adalah suami kamu. Sehingga masalah kecil yang menderamu, maka itu akan menjadi masalah juga untukku."
Cleo mengangguk bahagia. Ketika ia hendak bangkit dari pangkuan Tango, secara tiba-tiba suaminya justru menarik pinggang Cleo hingga ia kembali terjatuh di pangkuan Tango. Di dekatkannya wajah Tango ke arah Cleo yang sudah menutup mata.
"Tahukah kamu, sejak kamu sudah berinisiatif memanggilku dengan sebutan "suamiku" aku semakin merasakan jatuh cinta kepadamu. Ingin rasanya aku juga melakukan investasi triliunan kepada istriku ini."
Tango yang gemas semakin merapatkan tubuhnya, tentu saja Cleo kesusahan dalam bergerak. Ia bahkan mendorong tubuh Tango dengan sekuat tenaga, sayangnya kekuatan Cleo tidak ada apa-apanya, sehingga membuat Tango semakin leluasa menggoda Cleo.
"Kamu ini kenapa sih, Sayang?"
Tango sedikit melonggarkan pegangannya. " Kok nama panggilannya berubah? Kenapa tidak suamiku lagi?"
"Em, itu kenapa, ya?"
Cleo spontan menggaruk lehernya, lagi-lagi Tango memegang tangan Cleo dan membungkam mulut istrinya dengan sebuah kecupan lembut. Semakin lama luma**n itu semakin dalam dan lembut.
Tango memang sangat bisa membuat Cleo bertekuk di dalam setiap kesempatan. Padahal Cleo sebenarnya sangat anti dengan hal seperti ini. Akan tetapi sejak menikah, Cleo tetap berusaha untuk melakukan hal terbaik untuk suaminya.
"Bagaimana, apakah investasi ku bisa dimulai?"
Blush
__ADS_1
Seketika rona wajah Cleo memerah. Ia tidak bisa mendefinisikan kondisi hatinya saat itu. Gugup adalah respon wajar ketika suaminya seperti ingin melahapnya.
"Kenapa wajahmu memerah, Sayang. Bukankah kamu terlihat sangat bahagia ketika membantu nenek dalam menjalankan bisnis kali ini? Jadi bolehkah aku juga turut ikut berkontribusi di sana?"
Belum sempat kemesraan mereka terjalin, sebuah ketukan pintu membuat keduanya menoleh secara bersamaan.
"Sayang, apakah ibu mengganggu?"
Sontak Cleo dan Tango menjawab secara bersama lagi. "Tidak, Ma. Silakan masuk!"
Sementara itu Nyonya Rose menutup mulutnya sambil tersenyum.
"Apakah mereka sedang membuatkan cucu untukku? Apakah aku menganggu?"
"Aku tidak boleh menganggu acara perpaduan dua insan ini."
Rupanya Cleo sudah berjalan ke arah pintu dan bersiap untuk membukanya.
"Silakan masuk, Ma."
"Eh ...." Seketika Nyonya Rose menoleh.
Wajahnya sedikit kecewa karena Cleo masih berpakaian lengkap.
"Mama hanya ingin mengatakan pada kalian jika makan malam sebentar lagi siap. Papa menyuruh kalian berdua untuk turun dengan segera."
"Iya, Ma. Sebentar lagi kami akan turun."
"Ya sudah kalau begitu, Mama permisi."
Nyonya Rose kemudian segera turun dari lantai dua. Cleo pun hendak berbalik menuju tempat Tango berada. Betapa terkejutnya Cleo ketika suaminya tiba-tiba saja sudah berdiri di belakangnya dan mengukung pergerakan Cleo di dinding kamar.
"Sayang, kamu mau apa?" tanya Cleo ketakutan.
"Tentu saja mau makan malam, memangnya tidak boleh."
Cleo menghembuskan nafas lega. Namun, Tango justru merapatkan wajahnya dan membisikkan sesuatu.
"Aku mau makan malam indah bersamamu, Sayang."
__ADS_1