
Sementara itu sebuah pertengkaran terjadi di kediaman Presdir Lim. Ia terlihat sangat marah ketika mendapatkan laporan dari salah seorang anak buahnya yang mengatakan jika kemarin Mihiyo sempat membawa ibunya pergi ke sebuah acara pelelangan.
"Bisa-bisanya aku kecolongan! Harusnya aku tidak menganggap remeh kedatangan Mihiyo. Dia benar-benar licik dan berbisa!"
Kedua tangan Presdir Lim mengepal sempurna. Ingin rasanya segera meluapkannya pada Mihiyo, hanya saja wanita itu belum datang ke dalam kediaman miliknya.
Suara deru mobil terhenti di halaman rumah. Presdir Lim memasang pendengarannya secara tajam.
"Wanita itu sudah datang rupanya. Aku harus meminta pertanggungjawaban dari Mihiyo!"
Tampak raut wajah Presdir Lim sangat marah terhadap Mihiyo kali ini. Apalagi sampai membuat sang ibu mengurung dirinya tanpa mau mengatakan apapun kepadanya.
Rasa curiga memenuhi kepala Presdir Lim sepulang rapat. Tanpa rasa bersalah sedikitpun, Mihiyo justru kembali mendatangi rumah kakaknya tersebut.
Ia datang dengan kedua tangan membawa paper bag. Wajahnya penuh senyuman, seolah ia baru saja mendapatkan apa yang menjadi keinginannya kali ini. Menang dan membuat orang lain terpuruk lebih tepatnya.
"Mau kemana kau!"
Mihiyo justru mengabaikan panggilan dari kakaknya.
"Berhenti!" teriak Presdir Lim ketika Mihiyo terus mengabaikannya.
Teriakan Presdir Lim sontak membuat langkah kaki Mihiyo berhenti. Apalagi ia melihat bagaimana kemarahan kakaknya tersebut dari kedua bola matanya.
"Ka-kakak, kenapa kau menghentikan langkah kakiku?"
"Apa kau lupa atau kau justru tidak dengar bagaimana aku telah memperingatkan dirimu kapan hari!"
"Peringatan yang mana, Kak. Aku tidak pernah mendapatkan peringatan apapun dari kakak, bukankah kakak sangat menyayangi adikmu ini?"
Presdir Lim tampak berdecih karena tingkat rasa percaya diri Mihiyo masih tampak tinggi.
"Dulu, dulu aku memang pernah menyayangimu, tetapi tidak dengan saat ini. Terlebih kau selalu membuat ibu sakit-sakitan dan karena kau justru lebih sibuk menghabiskan waktumu daripada menemani hari-hari tuanya.
"Kakak ... tau sendiri aku sibuk sekolah, jadi wajar aku sangat sibuk dengan dunia pendidikanku. Aku berjanji tidak akan mengecewakanmu kelak, jadi kakak tidak bisa menyalahkan aku sepenuhnya!"
"Mihiyo, ka-kau ...." tangan Presdir Lim hendak menampar asik angkatnya itu tetapi teriakan Nyonya Lim menghentikan keinginannya itu.
"Hentikan!"
__ADS_1
Ternyata pertengkaran kakak dan adik itu terdengar dari kamar Nyonya Lim. Ia merasa tidak nyaman karena kedua anaknya justru bertengkar karena dirinya. Ditambah lagi keduanya memiliki sikap yang sama-sama keras.
"Sampai kapan kalian berdua akan bertengkar seperti ini, kalian sudah dewasa harusnya mengerti bagaimana cara bersikap!"
"Tapi Bu, kakak yang memulainya bukan aku!"
Mihiyo tampak tidak mau disalahkan akan hal itu. Presdir Lim yang merasa muak dengan sikap adiknya sudah tidak bisa menahan amarahnya lagi.
"Terus saja kamu membela dirimu sendiri, sudah melakukan kesalahan besar masih saja mengelak!"
"Lim, sudah hentikan!"
Karena tubuhnya belum sehat, Nyonya Lim justru limbung dan terpeleset dari tangga atas. Hingga tidak berapa lama kemudian ia pun terjatuh dan membuat Presdir Lim semakin murka dan panik.
"I-ibu ...." teriaknya.
Presdir Lim berlari ke arah ibunya. Begitu pula dengan Mihiyo yang ikut berlari ke arah yang sama. Tangannya bergetar ketika melihat cairan kental berwarna merah yang mengenai tangan kakaknya.
"Ka-kakak, itu apa?"
Presdir Lim menoleh ke arah Mihiyo.
"Kau, pergi dari sini! Kedatanganmu hanya membuat ibu semakin terluka!"
"Ta-tapi ...."
"Cepat pergi atau aku akan mengusirmu!"
......................
"Tahukah kamu kenapa aku justru tidak langsung membantu kamu?" tanya Pendeta Louis kepada Tango.
Tentu saja Tango menggeleng karena tidak tahu alasan apa yang menyebabkan hal itu. Lagi pula ia tidak berani bertanya secara langsung kepada Pendeta Louis. Bagaimana pun ia adalah tangan Tuhan sehingga tidak bisa semena-mena dimintai pertolongan.
"Kenapa diam? Bukankah tadi kamu sangat berapi-api ketika menatapku?"
Sontak saja Tango semakin terdiam karena merasa tersudut. Tiba-tiba saja Pendeta Allert jutsru tergelak melihat pertengkaran mereka.
"Kalian ini lucu, sungguh sangat lucu. Hanya karena nafsu kalian justru bertengkar!"
__ADS_1
"Maksudnya?" tanya Pendeta Louis dengan alis mengeryit.
Allert meneguk segelas air putih baru setelahnya menoleh ke arah Tango dan Pendeta Louis.
"Jika bukan karena egois tentu kalian tidak akan saling menyalahkan satu sama lain. Untuk kamu Tango, kalau sudah jadi hantu ya jangan belagu!"
"Bagaimana pun juga kamu tidak akan bisa menjadi manusia kembali.Jatah hidup kamu sudah habis. Jadi jangan berharap kamu bisa mendapatkan hal istimewa di dalam kesempatan kedua nanti."
Ucapan dari pendeta Allert seolah menyentil jantung Tango. Bagaimana pun juga ia memang tidak bisa menjadi manusia. Hanya saja keinginan untuk selalu mendampingi Cleo seolah telah membunuh mata hatinya sekali lagi.
Apa yang ia inginkan seolah bertentangan dengan fakta dan realita. Mungkin jika dilihat dari sudut pandang Tango sudah pasti ini tidak ada sangkut pautnya dengan nafsu. Hanya saja rasa egois di dalam hatinya lebih mendominasi.
"Biarkan aku menunggu saja kapan kalian akan membantuku! Aku tidak bisa memaksa kalian lebih lama lagi, bisa-bisa nanti aku justru binasa karena keegoisan dariku."
Tanpa menunggu jawaban dari kedua pendeta tersebut, Tango sudah menghilang sesaat kemudian. Sepeninggal Tango, kini kedua pendeta itu saling menatap satu sama lain. Lalu setelahnya mengedikkan bahunya.
Kediaman El Vanezz.
Nyonya Debora tampak sedang menatap layar datar di depannya dengan sangat serius. Ada banyak hal yang sedang ia seleksi saat ini. Terlebih lagi ia menghandle kerja sama kali ini secara individu tanpa melibatkan Dardack.
Pada saat ini Dardack memang sedang melakukan kerja sama dengan perusahaan lain. Masih satu lingkup dengan perusahaan yang dikerjakan oleh Nyonya Debora dan juga Presdir Lim.
"Ma, kamu tampak letih kali ini, bukankah sebaiknya Ibu beristirahat?"
"Iya, nanti setelah ini Mama pasti beristirahat."
Dardack merasa tidak tega dengan semua hal yang terjadi dengan Nyonya Debora sehingga kali ini ia bersiap perhatian.
"Ma, maafkan aku yang tidak bisa membantu menghandle kerja sama bisnis dengan Presdir Lim. Lagi pula perusahaan yang Mama serahkan kepadaku baru saja berkembang. Sehingga tidak akan baik jika kau justru memilihku masuk."
Nyonya Debora menepuk bahu Dardack putra satu-satunya.
"Mama justru bangga ketika kamu memperlihatkan rasa tanggung jawab yang begitu besar terhadap perusahaan kakakmu."
"Terima kasih banyak, Ma. Semua ini berkat Mama dan doa-doa yang terus mengalir untukku."
Dardack tersenyum melihat sebuah harapan masih tersisa di dalam hatinya.
"Mama, aku sangat sayang sama Mama."
__ADS_1
"Begitu pula dengan Mama!"
Sepasang ibu dan anak itu segera berpelukan untuk melepaskan kerinduan kepada Dardack.