My Hubby Is Ghost

My Hubby Is Ghost
Part 38. KEPERGIAN TANGO


__ADS_3

Akhirnya Tango berhasil diselamatkan. Dimitri menemukan teman seperguruan Pendeta Louis. Bahkan saat ini ia juga sedang merawat Tango.


"Kenapa ini bisa terjadi?" tanyanya penuh selidik.


Allert memandangi satu persatu orang yang berada di hadapannya. Pandangannya tertuju pada Dimitri.


"Kami hanya menginginkan yang terbaik untuk mendiang putra kami."


"Jangan egois!"


Allert memandangi arwah Tango bergantian dengan jasadnya. Ia merasa miris dengan kondisi arwah Tango yang kekuatannya semakin memudar dan wujudnya sudah mulai transparant.


"Apakah kematiannya sudah lama?"


"Belum, baru beberapa minggu yang lalu. Akan tetapi saat ini ia masih mempunyai sebuah misi yang harus diselesaikan sebelum kami melepas kepergiannya."


"Jangan bilang kalau ia kalian nikahkan dengan manusia!"


Dimitri menatap tajam ke arah Allert. Ia merasa tidak bersalah akan hal ini, tetapi jika dibilang ia egois memang begitu.


"Kenapa kalian diam. Apakah ucapanku salah?"


"Apa yang kau ucapkan semua itu benar. Aku melakukan hal itu untuk membantu keluarga tersebut sebagai usaha mengungkap kasus kematian dua orang tuanya."


"Aku merasa terikat pada perjanjian yang telah kami sepakati dengan kedua orang tuanya, jauh sebelum mereka lahir."


"Apa kalian tahu ada resiko dibalik semua keegoisanmu itu?"


Dimitri menggeleng.


"Pastilah Louis tidak memberitakan hal ini kepada kalian. Ia hanya berusaha melakukan apa yang terbaik sesuai dengan permintaan darimu namun kamu tidak tahu sebesar apa pengorbanan dari kekuatannya yang terus mengalir kepada arwah putramu."


Deg


"Apa maksudmu?"


"Itu semua karena Louis menyembunyikan semuanya. Jangan pernah membiarkan sesuatu berjalan tanpa kamu memikirkan sebab dan akibatnya."

__ADS_1


"Baiklah, aku mengaku salah, lalu apa yang perlu dilakukan agar semua ini bisa kembali seperti dulu."


"Kebumikan putramu, agar semuanya berjalan sesuai takdir. Satu hal lagi, kau harus mengatakan hal ini pada menantumu."


"Tidak, kami tidak siap akan hal itu."


"Lakukan, jika tidak maka kau akan menyesal dan tidak akan pernah bisa melihat arwah putramu lagi."


Keheningan terjadi selama beberapa saat. Hingga pada akhirnya Dimitri memutuskan jika ia akan mendiskusikan hal ini dengan istrinya terlebih dahulu.


"Ijinkan aku untuk mengatakan hal ini pada istriku!"


"Secepatnya aku akan mengambil keputusan yang terbaik."


"Kalau kamu tidak percaya, maka akan aku buka penglihatanmu tentang masa depan putramu."


"Baik Allert, aku akan melakukan sesuai permintaan darimu."


Dimitri tidak bisa memutuskan hal ini sendirian karena ini menyangkut melibatkan banyak sekali perasaan.


Tubuh Dimitri bergetar melihat pemandangan mata batin miliknya yang baru saja terbuka karena Allert.


"Apakah itu semua yang akan terjadi jika aku terus memaksakan keinginanku?"


Allert mengangguk. Dimitri tampak menghela nafasnya.


"Jika itu yang terbaik, maka lakukanlah Allert."


"Percayalah padaku. Jika kamu melakukan hal ini, justru itu akan mempermudah arwah Tango untuk kembali. Hanya saja ia tidak bisa menggunakan jasadnya. Akan tetapi ia masih bisa meminjam raga orang lain."


"Apakah istri dan juga kami kedua orang tuanya masih bisa melihat ia dengan jelas tanpa membuka mata batin kami?"


"Sama seperti sebelumnya, jika ia berkehendak maka orang itu bisa melihatnya."


"Baiklah, tetapi ijinkan aku untuk melakukan penghormatan terakhir untuknya."


"Baik, lakukanlah!"

__ADS_1


Tidak lama kemudian Dimitri memutuskan untuk kembali ke Mansion De Laurent. Saat ia pulang dirinya disambut oleh isak tangis Cleo dan juga Rose.


"Apakah ini semua rencana Allert? Kenapa begitu cepat sekali?


"Ada apa ini?"


"Tango, Pa. Ia dinyatakan meninggal beberapa saat yang lalu."


"Si-siapa yang mengatakan hal ini?" tanya Dimitri lemas.


Tubuhnya luruh ke bawah. Ia merasakan sesak yang teramat sangat ketika mendengar kematian putra satu-satunya. Tidak berapa lama kemudian, mobil ambulans datang ke mansion De Laurent.


Kedua mata Dimitri terlihat nanar dalam memandang peri jenazah Tango yang baru saja dibawa pulang.


"Ka-kamu ...."


Dimitri memeluk tubuh Rose dan juga Cleo. Mereka menyambut kedatangan Tango dengan berderai air mata.


"Kenapa aku merasa sakit ya, Pa?"


"Aku juga merasakan hal yang sama."


Cleo merasa sangat sedih karena ia baru beberapa bulan menghabiskan waktu bersama suaminya. Apalagi mereka belum sempat pergi untuk berbulan madu. Tidak berapa lama kemudian Allert datang.


"Selamat siang Tuan Dimitri, maaf kedatangan kami sedikit terlambat."


"Tidak apa-apa, setidaknya ia sudah kamu antarkan dengan baik."


"Lalu bagaimana dengan rencana setelah ini? Apakah langsung dimakamkan atau melalui proses yang sesuai dengan kebiasaan di gereja?"


"Saya hanya menurut saja, apapun dilakukan demi kebaikan putra kami."


"Baiklah, terima kembali."


Di dalam sorot mata Allert ia masih membaca pikiran dari Cleo. Kasih sayang yang diberikan pada Tango ternyata lebih luas.


"Semoga, setelah Louis sembuh aku dan ia akan bisa menyelematkan wanita ini. Semoga saja."

__ADS_1


__ADS_2