
Hari yang ditunggu telah tiba. Kepulangan Dardack dari liburan di Hawai tidak mengubah apapun saat ini. Kerja sama antara Nyonya Debora dana Presdir Lim sudah terjadi.
"Cleo, esok hari kamu bisa 'kan datang ke tempat proyek kerja sama antara Keluarga El Vanezz dengan Presdir Lim?"
Cleo yang baru saja terbangun, masih mencoba mengumpulkan nyawanya yang tercecer. Tubuhnya baru saja ia sandarkan di dashboard ranjang.
"Iya, Nek akan Cleo usahakan. Lagi pula Nenek sudah bekerja keras untuk hal ini."
Nyonya Debora tersenyum lalu mengatakan satu hal lagi pada cucunya tersebut.
"Oh, ya. Jangan lupa ajak suamimu untuk menemani datang. Selama di sana nanti nenek juga tidak bisa terus mendampingimu sehingga akan lebih baik jika Tango ikut."
"Akan Cleo usahakan, Nek."
"Terima kasih, Sayang."
"Sama-sama, Nek. Jangan lupa untuk selalu menjaga kesehatan."
"Iya, sudah ya. Itu saja yang ingin nenek sampaikan. See you my dear."
"See you too."
Selepas sambungan telepon berhenti, terdengar derap suara langkah kaki menuju kamar. Tidak perlu menunggu lama, pintu kamar terbuka secara otomatis. Tampilkan sosok yang sangat ditunggu oleh Cleo.
"Sayang, kamu sudah pulang?"
Cleo memaksakan bibirnya untuk tersenyum. Dari tempat ia berdiri, Tango sudah memastikan jika sang istri tidak dalam keadaan fit. Tango segera mendekati Cleo dan memeluknya.
"Kamu kenapa, bukankah semalam kamu baik-baik saja? Kenapa saat ini terasa lain?"
Cleo tidak bisa menyembunyikan apa yang sedang terjadi di dalam tubuhnya. Perasaan bersalah muncul di benak Tango.
"Apakah aku semalam terlalu menyebalkan dan mendominasi?"
Cleo menggeleng. Jauh di dalam lubuk hatinya tidak ada rasa ketenangan, tetapi Cleo tidak tega ketika harus berkata jujur pada Tango. Tango mengusap lembut rambut Cleo.
"Aku sama sekali tidak mau kehilangan kamu, jadi misalkan ada hal yang kurang sesuai, katakanlah."
Direnggankannya pelukan Tango pada istrinya. Di tatapannya wajah cantik milik Cleo. Keduanya saling menatap satu sama lain, mengagumi keindahan yang tercipta oleh sang penguasa alam semesta.
"Aku sangat mencintaimu, Cleopatra."
"Aku juga sangat mencintai kamu, Sayang."
Saat adegan romantis tercipta, secara tidak sengaja Nyonya Rose hendak masuk untuk mengantarkan sup hangat bagi menantunya.
"Sayang, ini sup hangatnya ... ups!"
Kedua mata Nyonya Rose ternodai oleh adegan mesra di sore itu. Seketika ia berbalik dan membawa supnya kembali keluar.
"Maaf, Mama mengganggu."
Tango segera melepaskan tautan bibir dari Cleo dan menyusul ibunya untuk mengambil sup tersebut.
__ADS_1
"Biar aku yang menyuapi Cleo, Ma."
"Iya, Sayang. Ini supnya katakan pada Cleo, jika Mama minta maaf karena sudah mengganggu acara romantis kalian."
Tango tersenyum. "Iya, nggak apa-apa, Ma."
Malam harinya, setelah merasa sudah enak badan dan sudah diperiksa oleh dokter. Kini Cleo mulai mengatakan permintaan dari nenek pada Tango.
"Bagaimana menurutmu, apakah aku harus datang esok pagi?"
Tango mengetuk-ngetukkan jarinya di dagunya. Rambut halus yang mulai tumbuh disekitar dagunya membuat Cleo gatal ingin mencukurnya.
Namun, Cleo terlalu tidak berani mengutarakan pendapatnya pada Tango.
"Dari tadi terus menatap aku, apakah ada yang salah dengan penampilanku?"
Cleo menggeleng.
"Aku nggak percaya, buruan katakan, kok!" paksa Tango pada istrinya.
"Apa sih, nggak penting juga, kok!" elak Cleo sambil membuang muka.
Sikap sok jual mahal yang dimiliki Cleo semakin membuat Tango gemas. Ia pun semakin mendekati Cleo untuk menggoda dan mencoleknya.
"Ih, apaan sih."
"Wkwkwk, makanya jujur dong, Sayangku."
"Iya, aku lebih suka kalau kamu tidak mempunyai jambang kayak gitu!"
Cup
Tango mencuri satu ciuman dari istrinya itu.
"Aku sayang kamu. Makasih perhatian kecilnya, ya."
"Iya ... jadi besok apakah aku ...."
"Besok pagi aku akan menemanimu datang ke acara peresmian peletakan batu pertama kerja sama Keluarga El Vanezz bersama Presdir Lim."
"Benarkah?" tanya Cleo dengan sorot mata yang berbinar.
Tango mengangguk. Betapa bahagianya ketika support suaminya begitu besar pada keluarganya. Ia baru merasakan perlindungan yang sesungguhnya dari suami dan keluarga besarnya.
"Terima kasih Ma, Pa. Kalian sudah mengirimkan sosok suami yang sangat bertanggung jawab."
Keesokan harinya.
Sepasang suami istri itu sudah terlihat rapi ketika Nyonya Debora dan Tuan Dimitri sarapan pagi.
"Pagi Ma, pagi Pa."
"Pagi, Sayang ...." jawab keduanya hampir bersamaan.
__ADS_1
"Kalian sudah siap-siap untuk berangkat?"
Cleo dan Tango mengangguk.
"Ya sudah, hati-hati. Ini kacamata yang sudah dipersiapkan Papa untuk kamu."
"Terima kasih, Pa."
Tango menoleh ke arah kedua orang tuanya. "Kapan Cleo boleh mengumumkan jika ia sudah bisa melihat, Ma, Pa?"
Nyonya Rose dan Tuan Dimitri saling berpandangan satu sama lain, lali menjawab dengan hampir bersamaan. "Setelah semuanya sudah cukup membaik, maka kamu boleh mengatakannya, Sayang."
Cleo tersenyum, ia menggandeng tangan suaminya. "Kamu sudah tidak sabar untuk menunggu waktu itu tiba."
"Terima kasih untuk kepercayaan yang kau berikan pada kami, Sayang."
"Sama-sama."
Akhirnya sesuai dengan permintaan Nyonya Debora, Cleo bersama Tango pergi ke acara peresmian peletakan batu pertama yang dilakukan oleh Nyonya Debora.
Suasana tampak sangat ramai hingga mereka bisa melihat banyaknya wartawan yang meliput acara pagi itu. Apalagi ini adalah sebuah acara kegiatan kerja sama antara dua keluarga besar di kota Scotland.
Senyuman Nyonya Debora terlukis indah manakala ia melihat cucu kesayangannya itu. Cleo dengan didampingi Tango terlihat sebagai pasangan yang sangat serasi. Akan tetapi sebuah masalah muncul ketika tubuh Tango tidak mampu mengimbangi panasnya cahaya matahari yang secara langsung menerpa tubuhnya.
"Ada apa ini? Apakah tubuhku akan terbakar oleh sinar matahari? Oh, tidak jangan sekarang!" rutuk Tango di dalam hatinya.
Merasa ia tidak sanggup bertahan, Tango meminta ijin untuk pergi ke toilet pada Cleo.
"Sayang, maafkan aku harus pergi ke kamar kecil sebentar. Apakah kau tidak keberatan?"
Cleo yang melihat kening suaminya penuh keringat dingin mengiyakan hal itu.
"Kamu tidak apa-apa, bukan?"
"Enggak, aku hanya butuh ke kamar kecil, kok!"
"Iya, Sayang."
Seketika Tango bergegas pergi ke kamar kecil. Tangannya sudah hampir tidak kelihatan ketika ia sampai di salah satu bilik. Beruntung tidak ada yang melihat ketika tubuhnya tiba-tiba menghilang.
"Ada apa dengan tubuhku, kenapa aku seperti ini?"
Dengan segera ia melesat pergi meninggalkan area peresmian dan menuju ke rumah Juno sang asisten. Ia tidak bisa membiarkan Cleo sendirian karena tidak tenang.
Juno yang baru saja merapikan bajunya terjingkat ketika Tango tiba-tiba muncul dan berdiri di belakang tubuhnya.
"Juno, tolong aku ...."
"Astaga, hantu si-alan. Bisa nggak sih datang itu ketuk pintu lebih dahulu!" pekiknya kesal.
Namun, ketika melihat Tango berubah dalam wujud bayangan, ia pun merasa cemas.
"Ada apa dengan kamu?"
__ADS_1
"Aku ti--"