
Tango tidak merasa jika ia mendapatkan ancaman ketika anak kecil dapat melihat keberadaannya. Sama seperti seorang anak kecil yang bisa melihat kehadirannya di waktu itu. Lagi pula dirinya tidak membayakan orang lain kenapa ia harus takut.
Melihat sahabatnya sedang melamun maka dengan senang hati Juno mengagetkan Tango.
"Woi kenapa lagi Boss?" tanya Juno sambil mendaratkan tubuhnya pada kursi kebesaran miliknya.
Salah satu tangannya memegang pulpen sembari satunya memegang berkas miliknya. Tango masih terlihat mengabaikan perkataannya. Sehingga mau tidak mau ia harus menegurnya.
"Kalau kamu lupa, kenapa kamu bisa terlihat harusnya bersyukur saja bukankah itu lebih baik untukmu."
"Hm."
"Tapi aku penasaran kenapa kamu justru kebanyakan bengong?"
"Aku memang sudah bisa terlihat, meskipun aku mau atau tidak akan ada pengaruhnya."
"Lagipula semua anak indigo pasti mereka bisa melihat keberadaanku, hanya saja mereka tetap tidak bisa membantuku."
"Setuju, anehnya kenapa mereka mengincarmu? Apakah karena kau adalah hantu, yang mana lebih sering terlihat di kala malam hari dan mengganggu mereka setiap waktu."
__ADS_1
"Entahlah, padahal aku tidak pernah mengancam mereka, jadi untuk apa aku takut. Kecuali mereka menyerang maka aku tidak segan untuk menghukum mereka."
"Wih, tambah garang aja nih Bapak."
"Jangan bilang Bapak, gue lom punya anak dan nggak mungkin bisa memiliki seorang anak. Kamu tahu sendiri jika aku sudah meninggal."
Juno menunduk. Lidahnya sudah tidak ingin mengucapkan kata apapun lagi. Ia begitu takut jika nanti justru keceplosan karena berperilaku aneh dan membongkar semuanya.
Tango menatap tajam ke arah Juno yang terlihat melamun. Ia bahkan sempat mengibaskan tangannya beberapa kali ke wajah Juno dan akhirnya berhasil membuatnya kembali sadar.
"Apakah kamu tidak pernah berniat untuk segera melakukan usaha bayi tabung?" tanya Juno kemudian.
"Tapi sayang, aku nggak suka dengan program tersebut."
"Kenapa?" tanya Juno keheranan.
"Bagian tubuhku sudah terlalu lama mati, jadi tidak mungkin ada sel yang tertinggal dan bisa digunakan untuk menghamili Cleo."
Tango tampak mendudukkan dirinya di atas meja. Pandangannya jauh menerawang ke depan sana. Ada banyak hal yang membuatnya tidak merasa nyaman. Ditambah lagi saat ini Cleo sedang berusaha menyelidiki tentang siapa pendonor kornea matanya.
__ADS_1
"Jangan takut, aku yakin keajaiban itu pasti akan ada. Percayalah!"
Setelah perbincangannya dengan Juni kini Tanggo terlihat menghilang.
"Lah, dia pergi?"
Juno tampak menoleh ke kanan dan kiri lalu mengusap dadanya.
"Hampir saja aku keceplosan, untung aja ia tidak dengar."
Tidak berapa lama kemudian ia mengemasi barang-barangnya lalu bersiap untuk pulang karena hari sudah terlalu sore. Sedangkan Tango saat ini sedang berusaha untuk melihat keadaan sang istri.
Di waktu yang sama, Presdir Lim masih memantau perkembangan Cleo dalam mencari tahu siapa yang telah mendonorkan kornea mata padanya.
Sebagai rekan bisnis ia tidak mau mengingkari perasaannya terhadap Cleo, karena ia tidak bisa menjadi pasangannya bukankah lebih baik menjadi sahabat Cleo. Di setiap saat bisa ada di sampingnya dan membantu dalam setiap langkahnya.
Menahan rasa cinta atau menghapus rasa itu sungguh sulit. Akan tetapi Presdir Lim bisa melakukan hal yang lebih dari ini dengan mendekati Cleo dengan cara yang lebih indah.
"Bersiaplah untuk selalu bisa bersamaku setiap saat, wahai sahabat."
__ADS_1