My Hubby Is Ghost

My Hubby Is Ghost
Part 7. PERNIKAHAN


__ADS_3

Hari yang ditunggu telah tiba. Semua persiapan pernikahan sudah selesai dilakukan. Dalam beberapa hari terakhir, arwah Tango sudah berhasil menyesuaikan diri dengan lingkungan barunya. Ia memang belum bisa menggunakan kekuatannya, tetapi ia bisa terlihat jika ia menginginkannya.


Betapa bahagianya wajah Nyonya Rose mengetahui perkembangan putranya. Meskipun ia tahu jika mereka menentang kehendak alam, tetapi hanya ini yang bisa mereka lakukan.


"Maafkan Mama karena harus melakukan semua ini, Mama harap kamu mengerti, Sayang," ucap Rose mengusap peti mati milik Tango.


Mansion El Vanezz.


Kini dekorasi pernikahan outdoor telah siap untuk memukau mata pada tamu undangan. Sementara itu sang mempelai wanita dan lelaki sedang berada di sebuah gereja untuk acara pernikahannya.


Gaun putih bertahtakan batu kristal Swarovski dan blue safir menghiasi gaun pernikahan Cleopatra. Lengkap dengan sebuah mahkota indah berpadu pada sebuah riasan natural tapi elegan, membuat Cleopatra tampak seperti seorang putri.


"Sayang, kamu cantik sekali," puji Debora kepada cucunya.


Cleo mengulum senyum, hingga kecantikannya semakin terpancar.


"Semua ini berkat campur tangan Nenek dan Tante Rose."


"Nanti, setelah menikah jangan lupa untuk sering mengunjungiku bersama suamimu, ya."


"Tentu saja, Nek."


Tiba-tiba pintu kamar Cleo terbuka. Tampilah paman Cleo sebagai wali nikah yang akan mendampingi Cleo menuju altar pernikahannya.


"Dardack, kenapa kamu cepat sekali datang, mengganggu saja!"


"Mom, jangan membuat pihak mempelai pria menunggu terlalu lama. Nanti bisa-bisa ia karatan loh," canda Dardack kepada ibunya.


"Karatan apanya, punya kamu itu yang karatan karena tidak pernah digunakan!" sindir Debora pada putranya.


Meskipun sedikit tersinggung, tetapi tidak memungkiri jika sekilas Dardack sempat terpukau akan kecantikan Cleo, tetapi semua itu masih tertutupi oleh rasa kebencian di dalam matanya. Sehingga semua pujian yang ia lontarkan hanyalah pemanis bibir.


"Mesin pencetak uangku memanglah cantik, tetapi setelah ini kamu akan aku coret dari dalam daftar pemegang saham. Nikmatilah hidupmu dengan lelaki sombong itu!" ucap Dardack dalam hatinya.


Tanpa ada yang mengetahui, ternyata Dardack mempunyai dendam kesumat pada Keluarga De Laurent, yaitu Tango. Persaingan bisnis membuat mereka tidak bisa menyatukan hati mereka, hingga Dardack pun sudah menyiapkan sebuah rencana untuk Tango.


Debora menyenggol bahu putra bungsunya yang terlihat melamun, lalu ia justru menggandeng Cleo keluar kamar dan meninggalkannya di tempat.


"Loh, aku ditinggal nih ceritanya?"

__ADS_1


Debora tersenyum ke arah putranya. "Biarkan aku menemani cucu kesayanganku sampai depan, baru setelahnya kamu yang mendampingi."


"Baiklah, kalau itu kemauan Mama, aku tidak akan menurut saja."


Cleo merasa bahagia ketika menyadari jika hubungan Nenek dan pamannya semakin membaik. Setidaknya jika nanti ia pindah ke dalam mansion suaminya, Cleo tidak akan merasa khawatir.


Tepat pukul delapan pagi waktu Scotland, mobil pengantin mulai menuju gereja tempat untuk pemberkatan nikah antar Cleo dan Tango. Beberapa menit yang lalu pihak pengantin laki-laki juga sudah menelpon mereka.


"Lihatlah, calon mertuamu sudah tidak sabar untuk menunggu kedatanganmu, Sayang," ucap Debora sambil mengusap punggung tangan Cleo.


"Iya, ingatlah untuk sering-sering pulang ke mansion, Mama pasti akan sangat merindukanmu."


"Iya, Uncle, aku pasti akan sering-sering main."


Beberapa saat kemudian.


Kini Cleo sedang melangkah menuju altar pernikahannya dengan didampingi pamannya, Dardack El Vanezz. Sementara itu lampu penerangan gereja dibuat temaram.


Lampu utama hanya menyorot ke arah mempelai perempuan yang sedang berjalan dari arah pintu menuju ke hadapan pendeta. Dibelakangnya ada dua orang anak laki-laki dan perempuan yang membawa bunga untuk pengantin.


Di ujung sana, sang mempelai pria, yaitu roh Tango de Laurent bersiap untuk menyambut kedatangan pujaan hatinya. Meskipun upacara pernikahan berlangsung pagi, tetapi semua lampu dipadamkan sehingga suasana terlihat sedikit temaram tetapi tetap elegan.


Agar para tamu undangan tidak curiga, lampu di altar pernikahannya dibuat tidak terlalu terang. Namun bisa menampilkan siluet arwah Tango. Sehingga seolah ia tetap berada di sana untuk menunggu kedatangan mempelai wanita.


"Semoga semua orang tidak curiga dengan penataan ulang dekorasi pagi ini," ucap Juno berharap-harap cemas di ujung ruangan.


Lagu yang mengiringi langkah pengantin wanita mengalun indah. Konsep pernikahan pagi itu benar-benar menjadi sebuah pernikahan yang sangat diimpikan oleh semua gadis di Scotland, termasuk Cleo.


"Beginikah rasanya menikah?" tanya Cleo dalam hatinya.


"Jaga pandanganmu, Sayang. Karena di ujung sana, suamimu sedang menatapmu," bisik Dardack pada Cleo.


"Iya, Uncle."


Meskipun ia bu-ta, tetapi ia bisa merasakan hawa kebahagiaan dari orang-orang di sekelilingnya. Hingga tidak terasa kini sampailah dia di hadapan pendeta.


Dardack membantu Cleo untuk mengulurkan tangannya kepada Tango dan disambut dengan sentuhan yang sangat dingin darinya.


"Apa ia begitu gugup, kenapa tangannya dingin sekali?" tanya Cleo dalam hatinya.

__ADS_1


"Sudah siap, kan?" tanya Tango dengan lirih.


"Iya, aku siap."


"Semoga ia tidak menyadari keanehan di dalam diriku," gumam Tango dengan segala ketakutannya.


Setelah semuanya siap, maka pemberkatan nikah dimulai. Suasana tampak hening dan khusyuk. Cleo meneteskan air matanya. Ia tidak menyangka jika dirinya akan menikah di usia yang begitu muda.


Namun, itu adalah keinginan mendiang kedua orang tuanya. Sehingga Cleo pun tidak bisa menolak. Hanya satu keinginannya yaitu mendapatkan cinta yang tulus dari suaminya kelak.


"Selamat kepada kedua mempelai, akhirnya cinta kalian sudah resmi bersatu," ucap Pendeta Louis.


Gemuruh tepuk tangan dan penuh rasa haru menyelimuti acara pemberkatan nikah pagi itu. Tanpa menunda waktu, selepas acara pemberkatan maka acara dilanjutkan kembali dengan sebuah acara resepsi yang mewah.


"Sayang, maaf aku pergi ke toilet dulu," pamit Tango pada Cleo."


"Iya, Tuan. Silakan."


Tanpa curiga Cleo membiarkan Tango pergi. Padahal pada kenyataannya Tango tidak menampakkan dirinya karena tenaganya sudah habis terkuras tadi.


"Jika kamu merasa tidak nyaman, maka istirahatlah lebih dulu."


"Tidak, Pa. Aku sudah menikahi Cleo, maka dengan sisa tenagaku maka aku akan terus menjaganya."


"Terima kasih, Sayang. Akan tetapi kamu belum terbiasa dengan hal ini, maka sayangilah dirimu."


"Baik, Pa. Aku pergi."


SRASH


Roh Tango benar-benar telah pergi dari ruangan itu, tetapi sekali lagi ia tergoda untuk kembali ke arena pesta.


"Cleo kamu cantik sekali," ucap Nyonya Rose ketika mendekati menantunya tersebut.


"Terima kasih, Ma."


"Sama-sama, Sayang."


Kedua wanita beda generasi itu kini sedang bercengkrama dengan para tamu. Bahkan mereka terlihat lepas ketika saling berinteraksi.

__ADS_1


"Maafkan aku Amora, Fernandez, aku gagal menjaga putraku. Akan tetapi aku pastikan kehidupan putri kalian akan lebih baik setelah ini," ucap Dimitri di kejauhan.


__ADS_2