My Hubby Is Ghost

My Hubby Is Ghost
Part 66. MAAF


__ADS_3

Mengingat jika intensitas pertemuannya dengan Cleo selalu kurang, Tango memikirkan cara lain agar dirinya memiliki waktu untuk lebih banyak muncul di hadapan Cleo tanpa harus terhalang oleh sebuah kalung liontin.


"Cara ini sangat manjur, akan tetapi ada kekurangan di dalamnya. Aku tidak mau membuat kesempatan ini hancur begitu saja. Mungkin dengan begini aku bisa menghemat energi dan memiliki banyak waktu untuk menemani hari-hari istriku."


Saat ini Tango sedang berada di balkon kamarnya. Tango membiarkan Cleo tertidur sendirian sementara ia memandangi bintang-bintang dan berjuta pengharapan. Berharap jika saat itu ada bintang jatuh dan ia bisa mengucapkan doanya di sela-sela hal tersebut.


Terdengar seperti sebuah mitos tetapi Tango percaya akan hal itu, terlebih lagi saat ini semuanya terasa indah ketika Cleo bersamanya.


Mungkin saat ini, doanya sedang didengar oleh Tuhan.


Beberapa saat kemudian terlihat bintang jatuh di ufuk timur, dengan segera Tango menangkupkan kedua tangannya dan memohon sepenuh hati agar ia bisa menemani Cleo sampai akhirnya nanti.


Dari kejauhan tampak Allert sedang memperhatikan Tango yang berada di balkon kamarnya sendiri. Sebenarnya ia sudah mengetahui jika Tango sudah dapat terlihat oleh istrinya. Namun ia tidak ingin turut campur secara langsung di dalam hubungan berbeda alam.

__ADS_1


Pendeta Allert membiarkan Tango berjuang sendiri dengan kalung liontin yang ia berikan tanpa sepengetahuan keduanya. Saat itu Allert menggunakan kekuatan yang ia miliki untuk menembus mimpi Cleo.


Tindakan yang dilakukan oleh Allert memang terkesan lancang, hanya saja tidak ada hal lain lagi yang bisa digunakan olehnya ketika menyadari jika dirinya ikut campur.


Sungguh ada perasaan iba dan rasa bersalah yang cukup besar tampak di pelupuk mata Pendeta Allert. Ia menyelinap karena tidak suka melihat Tango kebingungan ketika istrinya berada di dalam masa bahaya.


"Bagaimana bisa ia melakukan hal sekonyol itu demi seorang wanita. Sungguh wanita memang makhluk yang sangat merepotkan!" ucap Pendeta Allert setengah mengumpat.


Di sisi lain, Nyonya Debora memandang bingkai foto pernikahan Cleo dan Tango. Ada setitik kerinduan terpendam di dalam hati yang tidak bisa diungkapkan oleh kata-kata.


Secara tidak sengaja air matanya menetes ketika ia teringat bagaimana perjuangan kisah cinta Tango dan Cleo bisa berakhir dalam sebuah ikatan suci pernikahan. Salah satu tangannya terulur untuk mengusap bingkai foto pernikahan.


"Cleo, apakah kamu merasa bahagia hidup menjadi Janda? Maafkan nenek yang tidak bisa menjagamu saat ini. Andai saja kamu tidak menikah dengan Tango, mungkin saja saat ini kau tidak akan menjadi janda."

__ADS_1


Di sisi lain, Nyonya Rose ingin membicarakan kejujuran hatinya pada Cleo. Ia tidak bisa menahan rahasia ini terlalu lama. Lagi pula ia juga tidak bisa memprediksi berapa lama usianya.


"Bagaimana aku bisa membicarakan hal ini pada Cleo, dengan cara apa aku bisa mengatakan hal yang sejujurnya secara langsung dan terbuka? Aku lelah."


Tanpa ia sadari, sebuah tetesan air mata terlihat membasahi kedua pipi Nyonya Rose. Beruntung sebelum ia menguatkan batinnya dan mengeluarkan isi hatinya, ia sudah lebih dulu mengunci pintu kamarnya rapat-rapat.


"Oh, iya. Mungkin menggunakan sebuah alasan untuk membahas masalah proyek, mungkin itu masih terlihat masuk akal."


...👑Mansion El Vanez...


Tampak Nyonya Debora melihat isi perjanjian yang telah ia buat bersama suaminya. Oleh karena itu saat ini Nyonya Debora hendak memanggil nama cucunya tanpa ia sadari.


"Sayang, apakah kamu tahu siapa yang menyuruh mereka menghapus beberapa rezeki yang seharusnya bisa kita gunakan untuk membesarkan perusahaan peninggalan bersejarah dari kedua orang tuamu!

__ADS_1


__ADS_2