My Hubby Is Ghost

My Hubby Is Ghost
Part 18. AKHIRNYA AKU MEMILIKI TUBUH


__ADS_3

"Have a nice dream my sweet heart, love you."


Cup


Sebuah kecupan kasih sayang tidak pernah lepas dari rutinitas Tango sehari-hari. Meskipun begitu ia sama sekali tidak pernah membuat Cleo bersedih. Selalu ada cara untuk membuat istrinya itu tersenyum.


"Kebahagiaanmu adalah sebuah tanggung jawab bagiku, selama aku masih di sini, tidak akan aku biarkan siapapun melukaimu."


Setelah memastikan istrinya baik-baik saja, kini Tango kembali melesat pergi ke rumah Pendeta Louis untuk menyempurnakan kehadirannya.


"Aku harus berhasil, aku tidak boleh mengecewakan Papa dan Mama, keinginan mereka harus aku perjuangkan!"


Keteguhan hati Tango tidak semata karena kedua orang tuanya, melainkan juga untuk membahagiakan Cleo. Mungkin rasa cinta telah bertumbuh di hatinya. Sehingga kini Cleo pun masuk ke dalam daftar prioritasnya.


Harapan dari kedua orang tua memang sangat besar kepada Tango, terlebih ia adalah putra satu-satunya. Ada banyak hal yang bisa dilakukan saat ia menjadi manusia, namun kini ia sudah meninggal. Sehingga hanya dengan menyempurnakan wujudnya ia bisa melanjutkan impian yang tertunda.


"Kini semua bergantung padamu, Pendeta Louis," gumam Tango dalam perjalanannya.


Juno memang lebih dahulu tiba, dia tidak berani masuk sebelum Tango sampai di sana. Sebagai seorang sahabat sejati, ia menunggu kedatangan Tango yang merupakan pemilik resmi baru delima itu.


"Aku harap perjalananmu lancar sahabat, badanku sudah terlalu lelah," ucap Juno sambil menyandarkan punggungnya pada kursi kemudi.


Pekerjaan yang dibebankan kepadanya terlampau banyak, sehingga waktu istirahatnya berkurang. Tidak terasa, Juno terlelap untuk beberapa waktu.


Tidak berselang lama, Tango sudah sampai di sisi Juno. Ia tersentak ketika melihat wajah Juno yang terlelap.


"Sepertinya beban yang aku berikan padanya terlampau besar, hingga ia pun sampai kurang istirahat," gumam Tango.


Tidak ingin menganggu sahabatnya, Tango hanya mengambil kotak batu delima yang berada di sisi Juno. Secepat kilat Tango melesat mendatangi Pendeta Louis.


Sama seperti malam-malam sebelumnya, saat ini ia sedang melakukan doa di depan altar persembahan miliknya. Suasana mistis masih terasa sama tidak pernah berubah sedikitpun.


"Selamat malam, Pendeta. Aku sudah membawakan syarat yang kau pinta?"


Pendeta Louis menoleh lalu tersenyum ke arah Tango, "Batu itu berjodoh denganmu, mulai saat ini, batu itu akan aku satukan dengan tubuhmu."


Dalam sejenak, suasana ruangan itu terasa lain. Bibir Pendeta Louis bergerak-gerak mengucap mantra. Lalu dalam sekejap, suasana di dalam ruangan terasa lebih menakutkan.


Sebuah pusaran angin bercampur kilatan petir yang menyambar-nyambar tiba-tiba muncul di tengah-tengah ruangan. Mata Tango terbelalak, belum sempat ia menyelamatkan diri, arwah Tango kebetulan tersedot di dalam pusaran angin yang sangat cepat itu.


"Arghhhh!"

__ADS_1


"Kenapa tubuhku terasa menyakitkan!"


Hal itu bahkan membuat Tango kesulitan bergerak. Tubuhnya seolah terasa tidak nyaman, apalagi setelahnya menyatu dengan butiran debu yang mengelilinginya tadi.


"Ada apa ini? Kekuatan yang begitu besar dan aku ...."


Dilihatnya kedua tangannya yang tiba-tiba saja mengeras dan berwujud nyata. Tidak samar-samar lagi seperti sebelumnya.


"Ta-tanganku ...." ucap Tango sambil melihat perubahan pada tangannya.


Pendeta Louis tersenyum, ini adalah metode untuk membuat tubuh Tango seolah hidup kembali. Hanya dia yang mempunyai mantra ini dan dari sekian teman seperguruannya hanya Pendeta Louis yang mempunyai sertifikat resmi sebagai seorang ahli ilmu sihir.


Tidak banyak yang tahu memang tentang keahlian pendeta yang satu ini. Beruntung Dimitri mengenal sejak lama dengan beliau. Sehingga sedikit ada harapan untuk Tango.


"Wow, amazing, makasih banyak Pendeta!" teriak Tango tidak percaya dengan penglihatannya.


"Setidaknya aku bisa pergi berjalan-jalan dengan Cleo, setelah ini," ucapnya senang.


"Tidak bisa, kamu harus berpuasa selama beberapa hari jika ingin menyempurnakan penampilanmu itu, jika tidak kamu akan musnah."


Sontak Tango menoleh, sorot matanya mengatakan jika ia tidak mau mendengar sebuah syarat yang lebih berat dari ini.


"Jangan bilang syaratnya lebih berat daripada ini.


Pendeta Louis mendekati Tango seraya berbisik.


"Aku tidak meminta hal lebih, semua juga demi kebahagiaanmu."


"Apa itu?"


"Kamu harus berpuasa selama seminggu dan tinggal di sini agar aku mudah mengawasi setiap perkembangan ilmu yang aku transfer kepadamu."


"Namun, ada satu hal yang harus diperhatikan yaitu ...."


Pendeta Louis tampak menjeda kalimatnya.


"Jika tubuhmu sampai dikebumikan, maka secara otomatis ilmu ini akan berangsur menghilang."


Kedua mata Tango terbelalak saat mendengar pernyataan itu dari mulut Pendeta Louis sendiri.


"Lalu apa yang harus aku lakukan?"

__ADS_1


"Aku akan menyembunyikan jasadmu dan memindahkannya di ruang bawah tanah. Selama itu kamu akan bersamaku dan berada dalam keabadian."


"Gila! Bagaimana mungkin ini bisa terjadi? Kenapa tiba-tiba aku menjadi ragu? Apakah ini sebuah kesalahan atau kehendak menentang alam?"


Tango tidak pernah membayangkan jika ia bisa nekad ketemu seorang Pendeta yang sangat hebat. Setelah dirasa cukup mengerti tentang semua alasan yang diberikan Pendeta Louis, Tango mulai berdiskusi dengan Juno. Ia meminta ijin agar bisa pergi dari sana.


"Terima kasih, Pendeta Louis, aku mau menemui asistenku terlebih dahulu, baru sesudahnya kita kembali berdiskusi."


"Baiklah, hati-hati. ingat semua keputusan tergantung padamu."


"Siap!"


Tango melesat bagaikan sebuah kilatan cahaya. Baginya kini ia bisa bebas pergi kemana saja tanpa harus mengendari sebuah kendaraan.


"Ada untungnya juga menjadi hantu!" ucapnya sambil menyeringai.


Ia bermain bersama bintang-bintang di angkasa. Sama seperti mimpi, Tango seolah sedang menari seperti di dalam negeri dongeng.


"Yuhuuuu ...."


Blam ... Blam ... Blam ....


Tango benar-benar menikmati suasana hari itu dengan penuh suka cita.


"Suatu saat aku akan membawamu menari bersama bintang-bintang Cleo, tunggulah aku!" serunya dengan tawa yang lebar.


Sementara itu di dalam mobil Juno sudah bangun dari tidurnya. Ia tergagap karena mengingat jika ia ada tugas dari Tango yang belum ia selesaikan.


"Astaga, kalau dia tahu aku ketiduran apakah akan menghukumku?" tanya Juno dalam hati.


Matanya menangkap sosok yang ia kenal sedang menari-nari di angkasa.


"Tango ... sejak kapan dia menjadi gila?"


Juno mengerjap-ngerjapkan kedua matanya. Meskipun sudah melakukannya secara berulang kali nyatanya tetap sama saja.


"Astaga, itu benar-benar Tango!"


Telinga Tango berdengung, seolah mengingatkannya bahwa ada seseorang yang sedang membicarakannya.


"Mungkin Juno sedang menungguku!" seru Tango sambil memandangi mobilnya dari langit.

__ADS_1


Tidak membutuhkan waktu lama, kini Juno telah beradu pandang dengan Tango.


"Tangoooo!" pekiknya kesal.


__ADS_2