
"Apa, Tango kecelakaan?" ucap Nyonya Rose sambil melepaskan gagang telepon rumah tanpa sadar.
Lututnya seketika lemas, tubuhnya merosot ke lantai sesaat setelah beliau menyadari anak kesayangannya kecelakaan. Bagaimana bisa Nyonya Rose menerima berita yang mengejutkan ini. Terlebih kematian Tango membuat dirinya tidak bisa bernafas dan sebentar lagi pernikahan putranya akan digelar megah.
"Apa kata dunia jika Tango pebisnis muda no 1 itu meninggal sebelum pernikahannya?" gumam Rose.
Pikiran Rose terus berkelana hingga membuat dirinya hampir pingsan. Beruntung salah satu pelayan mansion menemukan ia dan segera membawanya ke kamar.
"Pelayan, tolong bantu aku mengangkat Nyonya ke kamar!"
"Baik!"
Sementara itu di ruang kerjanya, Dimitri juga mengetahui kabar terbaru tentang kematian putranya.
"Apa yang harus aku lakukan? Kenapa semua kemalangan ini terjadi pada keluargaku?" tanya Dimitri dalam hatinya.
"Sebaiknya aku melakukan hal itu agar mendiang Amora dan Fernandez tidak kecewa kepadaku."
Dimitri langsung mengambil ponselnya dan menghubungi seseorang.
"Baik, Tuan. Semuanya akan kami lakukan dengan baik," ucap salah seorang dari balik telepon.
Tuan Dimitri, ayah Tango adalah seorang ahli kedokteran. Saat mengetahui jika putranya kecelakaan, ia segera mengamankan jenazah putranya, sesaat setelah salah seorang petugas jalan menemukan mobil dengan plat khusus keluarga De Laurent.
"Syukurlah kalau mereka bisa melakukan hal ini dengan cepat, aku sangat khawatir jika salah sedikit dari kesalahan mereka membuatku jadi kehilangan Tango untuk selama-lamanya."
Beruntung akses jalan tempat kejadian perkara di sana masih dikelola oleh Keluarga De Laurent, sehingga berita apapun di sana akan lebih aman dari media massa dan bisa membawa pulang Tango tanpa sepengetahuan media. Meskipun kemungkinan keberhasilannya kurang dari tujuh puluh persen, Dimitri teguh dalam pendiriannya.
Plat nomor mobil dan segala aksesoris yang mengarah kepada Keluarga De Laurent segera dibereskan. Saat ini Dimitri telah berhasil menyembunyikan jenazah Tango ke laboratorium di bawah tanah mansion miliknya.
Ada hal penting yang harus dilakukan oleh Tuan Dimitri saat ini. Sehingga ia harus menempuh jalan tersebut.
Di satu sisi ia harus menyelidiki siapa dalang di balik ke-ma-ti-an sang putra, di sisi lain ia tidak akan membiarkan dunia tahu jika putranya meninggal sebelum semua teka-teki kematian Amora dan Fernandez terkuak.
Hal pertama yang ia lihat saat siuman adalah wajah suaminya, Dimitri.
"Sayang, hu hu hu ...."
Isak tangis Nyoya Rose kembali terasa, entah kenapa membayangkan hal yang buruk terjadi di dalam pesta pernikahan Tango membuat badannya lemas kembali.
__ADS_1
"Di mana ini?" tanya Rose kepada suaminya.
Dari kejauhan terlihat sosok yang ia rindukan saat ini. Nyonya Rose menutup mulutnya.
"Bukankah itu tubuh putra kita?"
Dimitri mengangguk, dengan susah payah kini Rose mencoba berlari ke arahnya. Namun, Dimitri membantunya berjalan. Tangannya terulur untuk memegang peti mati Tango.
"A-apa yang kamu lakukan dengan jasad anak kita, Sayang?"
"Aku mengawetkannya sampai waktunya tiba."
"A-apa?"
Tentu saja Rose tidak percaya dengan penglihatanya saat ini. Bagaimana bisa suaminya melakukan hal itu, sementara ia mash berduka dan belum bisa menerima kenyataan jika Tango sudah meninggal.
Dimitri memegang bahu Rose, ditatapnya sang istri dengan penuh keyakinan.
"Percayalah padaku, semua ini demi Cleo, Tango, Amora dan Fernandez."
Kedua mata Rose terbelalak ketika suaminya mengatakan semua rencananya itu. Meskipun awalnya menolak, setelahnya ia pun segera mengangguk untuk melanjutkan rencana suaminya itu.
"Percayalah padaku, pendeta Louis akan membantu upacara pernikahan Tango dan Cleo sampai semuanya bisa berjalan dengan lancar."
Rose masih tidak percaya akan semua ini, tetapi ada hal yang membuatnya begitu yakin dengan rencana Dimitri. Terlebih arena tempat kejadian kecelakaan Tango benar-benar bersih tanpa ada yang jejak sang putra di sana.
Juno mengatasi hal itu dengan baik. Awalnya ia syok dengan alasan dibalik disembunyikannya kematian Tango, tetapi ketika Dimitri berhasil meyakinkan dirinya, Juno ikut berperan dalam permainan Dimitri.
Malam harinya.
Malam ini, di ruang bawah tanah mansion milik Rose sedang dilakukan sebuah upacara pemanggilan arwah. Upacara itu akan dilakukan oleh salah seorang Pendeta yang dirahasiakan namanya.
Dengan kemapuan yang dimilikinya, ia mampu memanggil arwah Tango yang mati penasaran. Dimitri, Rose dan Juno berdiri di tepian ruangan untuk menyaksikan bagaimana hal itu terjadi.
Semua lilin yang semula terpasang rapi dan mengelilingi peti mati Tango, seketika padam bersamaan dengan hembusan angin kencang serta kilatan cahaya petir yang menggelegar.
Suasana ruangan begitu menyeramkan. Belum lagi suara burung gagak seolah sedang menjadi saksi bagaimana proses pemanggilan arwah Tango berlangsung.
Dalam sekejap suasana ruangan yang tadinya menyeramkan kini berganti dengan suasana hening. Sementara itu mulut pendeta terus membaca Alkitab agar Tango menemukan jalan pulang.
__ADS_1
Benar saja, sesaat kemudian, terdengar sebuah suara yang sangat familiar memanggil nama Rose.
"Mom Rose, Dad Dimitri?"
"Ta-Tango?" ucap Rose tidak percaya.
Salah satu tangan Dimitri memegang tangan istrinya. Meskipun ia merasa takut dan di antara rasa percaya dan tidak, namun ia berhasil menyembunyikannya. Ternyata keinginan untuk mengembalikan arwah Tango membuat Dimitri bisa melakukan segala cara.
Beruntung ia bisa bertemu dengan Pendeta muda itu. Ia benar-benar menuntun arwah Tango untuk kembali ke mansion. Kini bahkan arwah Tango sedang berkomunikasi dengan seluruh keluarga.
"Kenapa aku tidak bisa menyentuh kalian?" tanya Tango kebingungan.
"Putraku, hu hu hu ...." Nyonya Rose tidak bisa menyembunyikan kesedihannya saat ini.
Bagaimana pun ia adalah harapan terbesar dalam hidupnya. Tuan Dimitri mendekati putranya dan mulai menceritakan semuanya. Awalnya sama dengan Rose ia tidak percaya, tetapi kini ia menyadari jika hal ini sering kali terjadi dalam dunia bisnis.
"Nak dengarkan aku, biarkan aku menceritakan semuanya kepadamu."
Dalam diamnya, Tango mendengarkan setiap perkataan dari orang tuanya dengan sungguh-sungguh. Meski belum siap, nyatanya ia memang sudah meninggal.
"Jadi, pernikahan ini akan tetap terjadi?"
Nyonya Rose tersenyum, lalu ia mengatakan keinginan hatinya pada Tango.
"Tanpa kamu minta, Ibu akan tetap mencarikan donor mata terbaik untuk Cleo."
Terlintas saja, tiba-tiba Rose teringat akan janjinya pada Cleo.
"Jika nanti kamu sudah menikah dengan Cleo, ijinkan Mama mencarikan donor mata untuknya."
"Tentu saja aku setuju dengan ucapan, Mama. Apakah tidak menggunakan kornea mataku saja, Ma. Siapa tau cocok."
Ucapan dari Tango barusan membuat ketiga orang di ruangan itu terkejut. Terutama Rose dan Juno, sedangkan Dimitri tersenyum karena putranya melakukan hal yang tepat.
Tango melirik ke arah ayahnya. "Aku bisa meminta tolong kepadamu, 'kan?"
"Tentu saja, Tango. Keinginan hatimu tadi sangat mulia. Semoga saja Tuhan memberikan jalan terbaik untukmu."
"Terima kasih, Papa."
__ADS_1
BERSAMBUNG