
Akhirnya Tango akan dikebumikan sesuai dengan adat dan tradisi dari gereja, maka dari itu semua persiapan pemakaman Tango menjadi dipercepat.
"Lapor Tuan, segala persiapan untuk acara pemakaman Tuan Tango sudah selesai."
"Kita tunggu perintah dari Pendeta Allert terlebih dahulu."
"Baik."
Tidak berapa lama kemudian dari arah depan terlihat iring-iringan mobil dari Keluarga El Vanezz.
"Mereka sudah datang."
Nyonya Rose mendekati suaminya, "Tenang, Pa. Cleo sudah setuju untuk tetap menyimpan rahasia kita."
Dimitri mengangguk, "Sebaiknya kamu segera menemani Cleo, Nyonya Debora dan keluarga besar El Vanezz datang kemari."
"Papa, juga berhati-hatilah."
Nyonya Rose menepuk bahu Tuan Dimitri lalu segera membawa beberapa bodyguard di belakangnya. Dari kejauhan Predir Lim tetap mencuri pandang ke arah Cleopatra.
Tangisan Cleo seolah menjadi pertanda sebuah kesempatan bagi Presdir Lim untuk dapat mendekati mantan istri Tango tersebut. Dari sudut matanya ia bisa melihat sosok Cleo adalah wanita istimewa.
__ADS_1
"Aku tidak akan melepaskan Cleo dengan mudah, apalagi ia adalah wanita idaman untukku. Sepertinya Tuhan sangat adil karena aku tidak perlu melenyapkan suaminya."
Namun, langkahnya terhenti ketika Nyonya Rose mendekati Cleo. "Sial, aku harus menunda keinginanku untuk mendekatinya malam ini."
Dari sudut matanya yang basah, Cleo tidak bisa menyembunyikan kesedihannya sama sekali. Cleo terlihat semakin mengeratkan pegangan pada tangan Nyonya Rose ketika ibu mertuanya memeluk.
"Maafkan semua kesalaha Mama dan Papa ya, Cleo."
"Mama tidak salah, semua ini sudah takdir," ucapnya sambil terisak.
Bayangan Tango semakin membuat Cleo tidak bisa menguatkan batinnya. Hal ini mengingatkan dirinya pada kematian kedua orang yang sangat ia cintai dua belas tahun yang lalu, yaitu Amora dan Fernandez.
"Pa, Ma ... aku merindukan kalian."
"Nenek ...."
Tangis Cleo kembali pecah ketika Nyonya Debora mengusap punggung cucunya itu. Pertahanannya runtuh seketika. Sesaat ia bisa melihat kedatangan Ibu dan ayahnya.
"Mama ... Papa ...."
"Ta-tapi di mana Tango?"
__ADS_1
Semakin ia mengingat Tango dan kedua orang tuanya, Cleo semakin merasa kehilangan. Mungkin saat ia kehilangan Amora dan Fernandez rasa cinta untuk mereka tidak sama seperti ketika Cleo menemukan teman hidupnya, Tango De Laurent.
Dardack yang berdiri di belakang Nyonya Debora dan memasang wajah sedih saat mendekati keponakannya itu. Ia memegang bahu Cleo lalu menepuknya sebentar.
"Paman mengucapkan turut berduka cita untukmu, Sayang."
Masih dengan berpura-pura buta, Cleo hanya mengangguk. Sesekali ia mengusap air mata dengan tisu lalu kembali menutupnya dengan kaca mata hitam.
"Cleo, ayo kita antarkan suami kamu ke tempat peristirahatan terakhirnya."
"Iya, Ma."
Dengan ditopang oleh Nyonya Rose dan juga Debora, Cleo melangkahkan kakinya menuju pemakaman. Iring-iringan mobil para pelayat mengantarkan Tango ke sebuah pemakaman khusus Keluarga De Laurent.
Banyak sekali kolega bisnis Tango yang tidak menyangka jika kepergian pebisnis nomor satu itu sangat tiba-tiba. Dardack bersanding dengan Presdir Lim saling berjabat tangan.
"Sepertinya sebentar lagi kita akan menjadi sebuah keluarga."
"Ya, aku selalu menunggu kau untuk datang dan menjadi bagian dari keluarga El Vanezz."
"Terima kasih, Paman," ucap Presdir Lim sambil menyeringai.
__ADS_1
Sepertinya rencana mereka akan menjadi lebih mudah karena kepergian Tango yang terkesan mendadak. Entah apa yang akan terjadi selanjutnya karena arwah Tango masih tahap pemulihan energi di dalam rumah Pendeta Allert.
Semoga saja semuanya akan baik-baik saja.