My Hubby Is Ghost

My Hubby Is Ghost
Part 19. AKU BANGGA, NAK.


__ADS_3

"Bisa nggak sih, jangan muncul mendadak di depan gue!"


Juno melampiaskan kemarahannya pada Tango karena ia terlalu usil. Tango yang tidak merasa bersalah justru sedang berkacak pinggang sambil tersenyum mengejek pada Juno.


"Kamu ngapain, Bos?"


"Aku tu lucu aja liatin kamu, kayaknya Bos kamu tuh orangnya semena-mena, ya. Kenapa kamu nggak mecat Bos kamu sih."


"Bengek, kalau gue mecat Bos gue yang mati, trus aku kerja sama siapa? Sapi?"


"Wkwkwk, nggak gitu juga kali, Sob. Trus kamu menyamakan aku dengan sapi?"


"Ya kali aja mau!"


"Jangan ketus gitu dong, nanti nggak laku!"


"Nggak laku ya udah."


Tango masih menahan tawanya yang hampir pecah.


"Sebenarnya gue kasihan sama kamu, aku aja yang hantu udah menikah, kenapa kamu yang masih manusia tidak laku, ya. Apa enaknya sih jadi jones!"


"Asem!" pekik Juno kesal.


Bisa-bisanya ia dihina sebagai jones, meski itulah status yang sebenarnya, tetapi nggak gitu juga kali.


"Kalau mau menghina tuh liat-liat dulu, napa?"


"Ya, sorry."


Tango merangkul bahu Juno, "Kuy, jalan!"


"Aku kan emang terniat untuk gangguin kamu! Mau marah? 'Ntar aku nikahin sama mantan istri orang, baru tahu, deh!"


"Amit-amit, siapa juga yang mau nikah sama jendes, ya kali jendesnya kaya baru gue mau!"


"Serius? Nanti aku cariin jendes kaya buat kamu!"


"Tangoooo, awas aja ya!" ucap Juno bersungut-sungut.


Sementara itu Tango justru melesat pergi sambil tertawa terbahak-bahak.


..._Mansion De Laurent_...

__ADS_1


Merasa jika suaminya misterius membuat Cleo sedikit curiga pada Tango. Tanpa sepengetahuan semua orang, Cleo menuruni tangga menuju kamar belakang.


Belum sampai dia menemukan apa yang ia cari, Cleo justru melihat sebuah piano di sudut ruangan.


"Aku merindukan mansion milik nenek, terutama pada piano peninggalan kakek," tutur Cleo sambil mendekati meja piano itu.


Cleo memandangi piano itu cukup lama, lalu ia pun berniat memainkannya agar bisa mengusir rasa jenuh dan kerinduan pada keluarga. Keinginan untuk menyelidiki Tango pun ia urungkan sementara waktu.


Kini Cleo telah duduk di depan piano tersebut. Sejenak Cleo memejamkan mata, seolah sedang meminta ijin atau berbicara dengan benda mati di depannya itu.


Setelah dirasakan sudah menyatu, jemari tangan Cleo langsung menari indah di atas tuts-tuts piano. Menghasilkan melodi yang indah, menghipnotis siapa saja yang mendengarkan alunan nada-nada indah itu.


Lantunan irama yang dihasilkan oleh Cleo mampu menyihir semua penghuni mansion De Laurent. Rose dan beberapa nanni sudah berdiri mengelilingi Cleo yang tengah asyik memainkan pianonya.


"Aku memang tidak salah memilih menantu," gumam Rose dalam hatinya.


Mengagumi ketrampilan menantu memang tidak salah, hanya saja kalau kemunculannya secara tiba-tiba terkadang bisa membuat jantung copot juga. Beruntung kepekaan indera pendengaran Cleo cukup baik, sehingga ia tahu ada beberapa orang yang berdiri di sekelilingnya.


Setelah menyelesaikan satu buah lagu, Cleo membuka mata. "Ma-mama?"


Rose tersenyum, "Bagus sekali, Sayang. Kenapa berhenti?"


"Aku belum minta ijin sama Mama, tapi udah main pegang-pegang piano terlebih dahulu, maaf ya, Ma."


"Terima kasih, Ma."


"Sama-sama."


Seketika Rose teringat akan sesuatu, ia pun berniat untuk mengajak Cleo menghadiri acara rutin minum teh dengan para teman sosialitanya.


"Sore nanti kamu bisa temani Mama pergi?"


Kening Cleo berkerut, "Bukankah aku belum boleh pergi sebelum lepas masa tujuh hari?"


"Astaga, Mama lupa," ucapnya sambil terkikik.


"Tango tadi telepon, selama seminggu ke depan ia belum bisa kembali. Saat ini ia sedang melakukan perjalanan bisnis ke Swiss, dan lupa bawa ponsel. Sehingga saat masih di kantor tadi ia menelpon rumah, katanya minta tolong untuk menyampaikan hal ini kepadamu."


Rose terpaksa berbohong karena Tango yang memintanya. Beberapa saat yang lalu Juno menelpon untuk mengatakan keinginan Tango itu. Rose juga tidak berani bertanya banyak ketika Juno menyebutkan nama Penderita Louis.


"Iya, Ma. Tango pasti melakukan hal ini demi kebaikan semua orang."


"Terima kasih untuk pengertian darimu, Sayang. Maaf jika acara honeymoon kalian terganggu."

__ADS_1


"Iya, lagi pula masih banyak waktu di lain hari yang bisa kami gunakan, Mama tidak usah khawatir."


Baginya hal yang dilakukan oleh Tango pasti untuk kebaikan hati semua orang. Ke-ma-ti-annya yang terlalu cepat membuat banyak orang berspekulasi sendiri.


"Jika Cleo tahu suaminya meninggal, apakah ia bisa setenang kali ini?"


Buliran kristal bening itu siap mengucur, sebelum itu terjadi Rose lebih memilih untuk kembali ke kamar. Ia pun berpura-pura menguap di depan Cleo.


"Sepertinya Mama mengantuk, Mama kembali ke kamar dulu, ya."


"Hati-hati, Ma."


Dalam sekejap, Rose dan beberapa nanni tadi sudah menghilang dari pandangan. Sementara itu, Cleo memilih untuk kembali duduk.


"Kenapa Mama seolah ingin menangis tadi? Apa yang sebenarnya sedang ia sembunyikan?"


Tidak mau berasumsi lebih, Cleo memilih untuk pergi meninggalkan lokasi dan kembali ke kamarnya.


"Acara minum teh, gagal. Pergi jalan-jalan saja sepertinya lebih baik. Sekalian untuk lebih mengenal suasana di dalam mansion. Masa iya, istri seorang Tango pebisnis muda yang baru bersinar memiliki istri yang suka tersesat?"


Baru kali ini Cleo mengerutu sepanjang jalan. Selebihnya ia jarang sekali mengeluh, sepertinya Cleo belum terbiasa dengan kebiasaannya kali ini. Terlebih ini adalah sebuah lingkungan baru yang jangankan untuk hafal, melihatnya saja baru beberapa kali.


Cleo merapikan area piano lalu bergegas kembali ke kamar. Tidak lupa ia membersihkan terlebih dahulu tubuhnya baru istirahat sebentar.


"Kenapa ritmenya terlalu membosankan. Aku harus kembali seperti dulu. Setidaknya ada hal rutin yang bisa aku kerjakan."


Tango mencoba memainkan ponselnya, ada sesuatu yang ingin ia cari di sana, namun ia belum biasa dengan cahaya ponsel sehingga matanya cepat lelah. Ia kembali memasukkan ponsel miliknya ke dalam laci.


"Huft, bagaimana jika aku kursus memasak, bukankah hal itu bisa berguna ketika nanti Tango kembali?"


"Ya, aku harus minta ijin pada Mama."


Keesokan harinya.


Cleo benar-benar melakukan seusai keinginannya. Ia benar-benar meminta ijin pada Mama Rose untuk kursus memasak.


"Apapun keinginanmu, Mama akan mengijinkan, Sayang. Akan tetapi ingat satu hal, kamu tidak boleh kecapakan, mengerti?"


"Mengerti, Ma. Terima kasih, banyak Ma."


"Sama-sama."


Sejak dimulai kursus memasak, Cleo sama sekali tidak pernah melewatkan setiap pertemuannya. Ia benar-benar belajar dengan giat. Bahkan hasil masakannya selalu dipuji enak oleh Mama Rose.

__ADS_1


"Mama, betul-betul bangga padamu, Nak."


__ADS_2