My Hubby Is Ghost

My Hubby Is Ghost
Part 84. MENGINAP


__ADS_3

Sebuah kemarahan besar kini dirasakan oleh Alexander ketika Dardack benar-benar menghancurkan semua rencananya. Rencana yang sudah disusun rapi harus berantakan akibat ulah salah seorang yang tidak bertanggung jawab.


"Aku tidak menyangka jika Tango dan Presdir Lim mampu memprediksi semua rencanaku hingga seperti ini!" gumamnya dengan penuh kemarahan.


Di saat ia mulai memikirkan sebuah rencana baru ternyata pintu rumahnya diketuk dari luar. Merasa jika ada tamu, maka Alexander meminta salah seorang asisten rumah tangganya untuk membuka pintu.


Ternyata Dardack yang bertamu di sana. Bagaimana bisa ia mendatangi rumahnya sementara semua kekacauan ia sendiri yang menciptakannya.


"Bagaimana bisa kau menhancurkan semua rencana ku yang sudah aku susun rapi seperti ini?"


"Maaf aku sama sekali tidak tahu jika rencana ku bisa menghancurkan rencana Anda, Tuan."


"Bodoh! Padahal tinggal setengah langkah lagi aku bisa menghancurkan kedua keluarga tersebut, tapi kau dengan seenaknya merusak semua rencanaku!" ucapnya dengan geram.


"Rasanya aku menyesal telah bekerja bersama denganmu. Orang yang tidak berkompeten seharusnya menyingkir dari jalanku!"


Dardack tampak menunduk. Ia sudah kehilangan kata-kata saat ini.


"Siapa yang menyuruhmu untuk mengawasi Mansion De Laurent? Apa kau tahu resiko apa yang bisa terjadi ketika kamu terus melanjutkan rencanamu tanpa memberi tahukannya kepadaku?"


Dardack menggeleng. Lalu setelahnya ia hanya bisa menunduk dan terus meminta maaf.


Sebuah ide tiba-tiba tercetus di kepala Alexander.


"Jika kau ingin mendapatkan pengampunan dariku maka kau harus melakukan satu hal untukku, mungkin dengan begitu aku bisa memaafkan dirimu."


Sebuah raut wajah bahagia terlihat di kedua mata Dardack.


"Apakah yang harus aku lakukan untukmu, Tuan?"


Tampak Alexander berbalik untuk mengambil sebuah kotak berbalut kertas kado. Lalu ia segera kembali ke hadapan Dardack.


"Berikan ini kapada Nyonya Lim. Jika kamu bisa pulang dan pergi dengan selamat maka kau akan mendapatkan pengampunan dariku!"


Setelah sekian lama merenung akhirnya Dardack segera menyanggupi hal itu.

__ADS_1


"Hanya sebuah hadiah bukan? Tentu hal itu bukanlah hal yang sulit untukku!" gumam Dardack sambil menyeringai.


Tidak menunggu waktu lama kini sebuah hadiah sudah berada di tangannya. Kini ia pun bersiap untuk mendatangi Kediaman Presdir Lim.


Dardack sama sekali tidak mengetahui jika dirinya akan mendapatkan masalah karena barang yang ia bawa adalah sesuatu yang bisa membuat kesehatan Nyonya Lim kembali menurun. Sementara itu Cleo sedang dalam perjalanan menuju ke Mansion El Vanezz.


Jarak yang ditempuh dari Kediaman Lim ke Mansion De Laurent terlalu jauh, maka dari itu ia memutuskan untuk menginap di dalam Mansion El Vanezz.


"Apakah semua menu kesukaan Cleo sudah siap?" tanya Nyonya Debora pada kepala pelayan di sana.


"Hampir sembilan puluh persen. Kurang sepuluh menit lagi semua hidangan sudah siap!"


"Baiklah kalau begitu aku menunggu Cleo di ruang depan. Pastikan semua makanan matang sebelum cucuku datang."


"Baik Nyonya besar."


Kehadiran Cleo sangat dinantikan oleh Nyonya Debora. Ada banyak hal yang ingin dia bahas dengan cucunya tersebut. Pertemuan kapan hari masih belum membuat rasa rindunya hilang. Justru sebuah kenyataan ketika Cleo sudah bisa melihat membuatnya semakin penasaran dengan hal apa yang diperbuat oleh Keluarga De Laurent.


"Semoga perjalananmu lancar tanpa hambatan, Sayang," ucap Nyonya Debora di dalam hati.


Perjalanan yang dilakukan oleh Cleo berlangsung aman dan nyaman. Bahkan kali ini mereka tidak lagi diikuti oleh siapapun.


"Bagaimana keadaan malam ini?" tanya Cleo pada sopirnya.


"Suasana jalanan sepi terkendali, Nyonya. Namun, sepertinya akan lebih baik jika kita memang harus menginap di Mansion El Vanezz."


"Betul, setidaknya kalau kita kembali di siang hari, semuanya akan lebih terasa aman."


"Iya, hati-hati ya, Pak mengemudinya."


"Siap, Nyonya."


Sementara itu di dalam Kediaman Nyonya Lim. Terlihat sekali jika raut wajah Presdir Lim sangat bahagia. Apalagi mendapati ibunya sudah siuman.


Mengetahui jika putranya berada di depan pintu kamarnya, Nyonya Lim memintanya untuk masuk dan menyuruh putranya untuk segera mendekat.

__ADS_1


"Bu, maaf jika aku terlambat mengetahui jika kamu sungguh menyayangi Cleo sama seperti yang dilakukan olehku."


Tangan Nyonya Lim terulur untuk memegang tangan putranya sendiri, "Tidak apa-apa, Nak. Sebenarnya Ibu sangat menyukai Cleo dan berharap jika kalian bisa menjadi sepasang suami istri. Sayangnya, dia sudah menjadi istri dari Tango. Jadi pupus sudah keinginan Ibu untuk menjadikannya istrimu."


"Akan tetapi jika Cleo menikah denganku sudah pasti dia tidak akan mempunyai cerita seperti ini. Lagi pula Cleo terlalu cantik dan smart untuk bersanding denganku. Aku tidak cocok dengannya."


"Kata siapa? Bukankah kalian adalah sepasang partner bisnis yang sangat cocok jika disandingkan satu sama lain?"


Presdir Lim hanya tergelak ketika mendapati pertanyaan dari ibunya seperti itu. Bukan hal yang mudah juga ketika ia menyadari sesuatu hal yang salah dengan semua itu.


Lagi pula perjanjian yang dilakukan dengan hantu Tango sepertinya membuktikan jika cinta beda dunia diantara Cleo dan Tango tidak akan terpisahkan satu sama lain.


"Meskipun tidak secara langsung melihatnya dengan jelas, tetapi jika diperhatikan secara seksama Cleo itu sangat mencintai Tango. Begitu pula dengan sebaliknya."


"Betul, betapa beruntungnya Cleo bisa mendapatkan Tango dan begitu pula sebaliknya."


"Oh, ya. Meskipun setelah ini kalian akan pura-pura berperang. Ibu berharap kamu tetap membantu Keluarga El Vanezz secara diam-diam. Aku tidak mau Nyonya Debora yang tidak mengetahui apapun ikut terlibat dan menanggung dendam antara Keluarga Lim dengan Keluarga De Laurent."


"Siap."


Di sisi lain, Dardack masih dalam perjalanan pulang. Ia mengurungkan niatnya untuk segera datang ke dalam Keluarga Lim karena cuaca tidak mendukung.


"Kenapa malam ini cuaca sedikit berawan. Akan sangat beresiko jika aku terus melanjutkan perjalanan menuju Keluarga Lim. Tidak mungkin pula aku menerobos masuk ke sana tanpa persiapan."


"Baiklah, aku akan meminta anak buahku untuk mengintai rumah mereka terlebih dahulu. Bukankah itu lebih baik daripada aku yang menanggung resikonya duluan."


Dardack segera mengambil ponsel miliknya lalu menghubungi anak buahnya.


"Hallo, Bos. Ada yang bisa kami lakukan?"


"Intai sekali lagi kondisi Keluarga Lim. Ingat pekerjaan kalian tidak boleh diketahui oleh siapapun. Jika hal itu terjadi jangan harap kalian bisa selamat."


"Baik, Bos. Kami mengerti!"


Tidak berapa lama kemudian arah jalan yang ditempuh oleh Dardack sudah mengarah ke arah Mansion El Vanezz. Ia memilih esok hari untuk pergi ke kediaman Keluarga Lim.

__ADS_1


Entah mengapa ia ingin segera pulang malam ini. Padahal biasanya ia lebih suka menghabiskan malamnya di klub atau bar. Akan tetapi kali ini ia justru memilih untuk segera kembali ke rumah.


__ADS_2