
"A-aku tidak tahu apa yang terjadi padaku? Padahal Pendeta Louis mengatakan jika semua akan baik-baik saja."
Tango tidak tahu apa yang sebenarnya terjadi padanya. Yang ia tahu selama ia tidak melanggar semua perjanjian yang tertulis tidak akan terjadi apapun. Namun, seolah ada keanehan, Tango merasa tubuhnya tiba-tiba saja transparan.
"Kau yakin tidak melanggar apapun?"
Tango mengangguk, Juno menenggak habis minuman yang berada di hadapannya.
"Aneh!" gumamnya.
"Lalu setelah semuanya terjadi, apa yang harus aku lakukan?" tanya Juno sambil memandang Tango.
"Aku tidak membutuhkan apapun, aku bisa mendatangi Pendeta Louis sendiri, yang aku minta darimu adalah jagalah Cleo. Saat ini dia ada di jalan X untuk peresmian pembukaan kerjasama antara keluarga El Vanezz dan juga keluarga Lim."
"Lim Hyun yang baru saja pulang dari Tokyo?"
"Yap, apakah aku tidak menceritakannya padamu?" ucap Tango tanpa rasa bersalah.
"Memangnya kapan kau cerita padaku? Apa kau lupa, tidak ada yang kau ceritakan padaku. Waktumu hanya kau habiskan dengan istrimu saja!" cibir Juno pada Tango.
Tango tergelak akan ucapan Juno. Selama beberapa hari ini, ia memang jarang bersama dengan Juno. Meskipun saat membahas bisnis, ia juga tidak melibatkan Juno di dalamnya. Tango terlalu asyik menghabiskan waktunya bersama Cleo.
Cleo wanita yang smart, sehingga tidak membuat Tango bosan ketika berada di sampingnya. Melihat Tango melamun, Juno menggertaknya.
"Sudahlah jangan membuang waktu. Kalau begitu aku berangkat terlebih dahulu," pamit Juno menyambar kunci mobilnya.
"Oke, berhati-hatilah."
"Yoi."
Sementara itu Tango segera melesat pergi ke rumah Pendeta Louis. Hanya membutuhkan waktu beberapa menit, ia akhirnya sampai. Saat sampai ia begitu terkejut saat mendapati orang yang dicarinya sedang tergeletak di lantai. Buru-buru Tango menyambar tubuh Pendeta Louis.
Dibalikkan tubuh Pendeta Louis tersebut dengan perlahan. Tampak beberapa luka di wajahnya. Di bagian bibir dan hidung Pendeta Louis terdapat bekas cairan kental berwarna merah yang sudah mengering. Belum lagi pakaiannya sedikit terkoyak.
"Apa yang sebenarnya terjadi?" gumam Tango.
Ia mengedarkan pandangannya ke sekeliling. Tango tidak habis pikir dengan apa yang terlihat di hadapannya saat ini.
"Kenapa sampai seperti ini? Bukankah ia orang yang mempunyai ilmu tinggi"
Beberapa barang terlihat jatuh ke lantai, belum lagi suasana ruangan itu terlihat berantakan, seolah baru saja terjadi sebuah pertarungan.
__ADS_1
Seketika ia teringat petinya yang berada di ruang bawah tanah.
"Perasaanku tidak enak. Bagaimana keadaan jasadku?"
Bergegas Tango pergi ke bawah. Tango terbelalak ketika mendapati pintu ke arah ruang bawah tanah terbuka lebar. Ia segera mempercepat langkahnya ke bawah.
Apa yang ia takutkan terjadi. Peti matinya kosong. Tangannya mengepal menahan amarahnya.
"Siapa yang melakukan hal ini?"
Rahangnya mengeras seolah ia sangat marah akan kejadian barusan. Namun, ia tidak tahu siapa yang melakukan semua ini.
Tango bergegas kembali ke rumahnya. Ia tidak bisa menyelidiki hal ini sendirian. Dimitri yang sedang berada di ruang penelitiannya terkejut dengan kedatangan anaknya secara tiba-tiba.
"Ada apa, Nak?"
"Jasadku hilang, Pa."
Dimitri melepas kacamata yang bertengger di wajahnya.
"Apa maksudnya?"
"Papa bisa lihat sendiri 'kan wujudku sekarang seperti apa, Papa sendiri tahu jika perjanjianku dengan Pendeta Louis, ketika ragaku tidak ada berarti ada apa-apa dengan jasadku."
Tango berbalik menatap ayahnya.
"Aku baru saja dari kediamannya dan melihat Pendeta Louis tergeletak di lantai. Ia terluka parah. Keadaan rumahnya juga sangat kacau atau mungkin ada yang berani menerobos masuk ke dalam rumah Pendeta Louis?"
"Mungkin saja, karena rumah Pendeta Louis tanpa penjagaan sedikitpun. Hanya ada beberapa makhluk astral yang berusaha untuk menjadi benteng di dalam rumah itu. Hal ini bisa dilakukan oleh orang yang mempunyai ilmu lebih tinggi dari Pendeta Louis."
"Lagi pula selama ini tidak ada yang bisa masuk ke dalam rumahnya kecuali mendapatkan ijin darinya. Apalagi beliau juga terluka, kemungkinan kecil untuk perampok bisa memasuki rumahnya!"
"Jadi siapa yang melakukan hal ini?" ucap Tango gusar.
"Lalu dimana Cleo?"
"Saat ini ia sedang berada di jalan X bersama Nyonya Debora untuk peresmian kerja sama dengan Presdir Lim."
Dimitri menatap tajam ke arah Tango, "Mereka sudah kembali rupanya. Apakah mereka mengetahui jika beliau berhubungan denganmu?"
Tango menggangguk, "Iya kapan hari, aku bahkan berada di dalam acara rapat yang mereka lakukan dan awalnya memang ia terkejut akan kehadiranku, lalu sesudahnya ia bisa menerima jika aku telah menjadi suami Cleo."
__ADS_1
"Tapi kau tetap berhati-hati Tango. Aku tidak ingin terjadi apa-apa denganmu atau juga terhadap Cleo. Kamu tahu sendiri Keluarga Lim itu sangat licik."
"Percayalah padaku, Pa. Aku akan menjaga Cleo sebaik mungkin."
"Aku percaya padamu, tetapi tidak dengan mereka."
Tango masih bisa merasakan api kebencian di dalam ayahnya. Meskipun begitu ia sangat heran dengan semua yang pernah dialami mereka apakah akan ada jalan keluar atau tidak.
Sebuah dendam di masa lampau bisa saja masih bersemayam di dalam hati keduanya. Mungkin mereka kembali untuk balas dendam. Satu hal yang pasti semua akan ada akhirnya. Entah semua bahagia atau salah satunya akan hancur.
"Kamu tunggu di sini dan biarkan aku yang akan membawanya kembali. Papa akan mencari orang lain sesuai dengan yang bisa membantu kita secepatnya. Kamu kembalilah ke tempat Cleo dan tunggu kabar selanjutnya dari Papa."
"Biarkan aku ikut, Pa."
"Jangan, jagalah Cleo."
"Juno sudah aku tugaskan bersamanya."
Dimitri menepuk bahu Tango.
"Kau suami Cleo, maka kamulah yang seharusnya menjaga istrimu sendiri dan bukan orang lain."
"Maafkan aku, Pa. Kalau begitu biar aku yang menyusul Cleo. Papa juga bahati-hati."
Selepas Tango pergi, Dimitri langsung menelpon seseorang. Sementara itu kekuatan Tango semakin menipis. Belum sempat ia sampai di lokasi Cleo, ia seolah terseret ke sebuah rumah.
"Arghhhh!"
Seorang wanita cantik sedang berada di depan sebuah peti mati. Beberapa bunga dan makanan persembahan diletakkan dekat dengan peti tersebut. Sementara itu mulutnya komat-kamit sedari tadi.
Beberapa saat setelahnya arwah Tango terjebak ke dalam sebuah rumah. Ia bisa melihat secara langsung bagaimana wanita itu melakukan semua hal dengan peti mati yang berisi jasad Tango.
"Tubuhku!" pekik Tango kesal.
Ternyata wanita itu bisa merasakan jika arwah Tango sudah datang. Ia segera menoleh.
"Kamu sudah datang rupanya, wah seperti jasad mu kamu memang sangat tampan, Sayang."
"Kamu siapa, dan apa urusannya denganku!"
"Aku sama sekali tidak mengenalmu, tetapi kenapa kamu justru melukaiku!"
__ADS_1
"Ha ha ha, maafkan aku wahai lelaki tampan. Aku hanya menjalankan tugasku saja," ucapnya sambil menyeringai.