My Hubby Is Ghost

My Hubby Is Ghost
Part 46. RAGU


__ADS_3

Akhirnya Cleo bisa keluar dari Mansion De Laurent dengan persetujuan dari ibu mertuanya, Nyonya Rose. Meskipun dengan sejumlah pengawalan yang lumayan ketat. Akan tetapi hal itu tidak mengurangi rasa bahagia di hati Cleo.


"Akhirnya aku bisa bertemu dengan Miss Vallery. Ada banyak hal yang harus aku bicarakan dengannya, semoga saja tidak ada sesuatu hal yang mengganggu nanti. Aamiin."


Sejujurnya ada hal penting yang ingin Cleo sampaikan kepada Miss Vallery. Yaitu sebuah kenyataan jika saat ini ia sudah melihat. Akan tetapi Cleo bingung apakah harus mengatakan hal ini sekarang atau menunggu persetujuan dari Tango.


Beberapa saat yang lalu Tuan Dimitri dan Nyonya Rose masih meminta Cleo untuk merahasiakan hal ini. Sejujurnya ia hanya ingin membagi sebuah berita baik kepada orang-orang yang menyayangi Cleo.


Sampai pada akhirnya banyak kejutan yang ia dapatkan selama menjadi istri dari Tango. Kematian suaminya yang mendadak membuat Cleo sempat down, baru setelahnya ia bisa bangkit dan mencoba berdamai dengan keadaan sekitarnya.


"Semoga masih ada waktu untuk aku mengungkap semua tabir misteri yang terjadi di sekelilingku saat ini," doa Cleo di dalam hati.


Sementara itu Nyonya Debora saat ini sedang mengadakan sebuah pertemuan kembali dengan Presdir Lim. Kebetulan Dardack tidak terlibat dalam hal ini, sehingga entah dimana keberadaannya pun Debora tidak mengetahuinya dengan pasti.


Padahal saat ini, Dardack bersama Alexander untuk membahas sebuah proyek rahasia. Sebenarnya beberapa jam lalu, Debora meminta Dardack untuk bisa menemani dia bertemu dengan Presdir Lim.


"Maafkan untuk keterlambatan saya saat ini," ucap Nyonya Debora berbasa-basi.


"Tidak mengapa, Nyonya. Lagi pula saya baru saja datang. Oh, ya ... silakan duduk!"


"Terima kasih banyak."


Meskipun tidak bersama dengan Dardack maupun Cleo, Nyonya Debora tidak datang sendirian. Ia masih membawa beberapa bodyguard untuk mengawalnya. Sudah menjadi kebiasaannya sejak dulu, jika ia bepergian pasti dengan sebuah pengawalan.


Di sisi lain, lebih tepatnya di dalam perjalanan Cleo menuju tempat bertemunya dengan Miss Vallery. Ia seakan merasakan hawa yang lain, merasa kurang nyaman dengan kondisinya yang semula dengan Tango kini harus terbiasa sendirian.


Sesekali Cleo tampak mer-e-mas tangan, yang sedari tadi mengeluarkan keringat dingin. Sama seperti seseorang yang sedang menyembunyikan sebuah rahasia penting di dalam hidupnya, Cleo hanya berdiam diri tidak bersuara. Jauh berbeda ketika ia berpegang bersama Tango dulu.


Dulu, di sampingnya ada Tango yang usil kepadanya. Kini tempat duduk di sisinya itu begitu sunyi dan dingin. Namun, bayangan Tango yang menemaninya masih sesekali terlihat di sana. Meskipun pada akhirnya itu hanyalah sebuah halusinasi yang tercipta oleh Cleo.


Sopir Cleo, Jim hanya melirik sekilas dengan apa yang dilakukan oleh istri tuannya itu. Ia merasa canggung jika harus mengajak bicara pada Cleo tidak seperti saat masih ada Tango di dalam mobil.


Sesaat kemudian, Cleo terkejut ketika tiba-tiba ponselnya berdering. Segera mungkin Cleo membuka tas dan mengambil ponsel.


"Juno, ada apa dia menelfon, apakah ada hal yang penting saat ini?" gumam Cleo.

__ADS_1


Tidak perlu menunggu waktu yang lama Cleo segera mengangkat panggilan telepon dari Juno.


"Hallo, maaf ini dengan siapa?" tanya Cleo berbasa-basi.


"Ini aku Cleo, Juno El Barack. Asisten Tuan Tango sekaligus sahabatnya."


"Oh, iya, ada apa, ya?"


Cleo mencoba mengingat Juno lalu segera menanyakan apa keperluan Juno menghubunginya.


"Jadi ada sesuatu hal yang ingin aku sampaikan kepadamu, hal ini berhubungan dengan Tango."


"Tango? Tentang apa itu?"


Juno segera mengatakan wasiat yang disimpan oleh Tango selama ini, namun ia tidak mengatakan secara langsung dan justru mengirimkan beberapa pesan singkat kepada Cleo. Juno tidak mau pembicaraan mereka sampai terdengar orang luar. Oleh karena itu Juno lebih memilih melakukannya dengan cara ini.


"Baiklah, terima kasih Juno."


"Sama-sama."


Awalnya semua baik-baik saja. Seolah tidak percaya dengan apa yang dilihat, Cleo mengerutkan keningnya.


"Aku harus memastikan kebenaran ini secepatnya."


"Cepat atau lambatnya aku harus segera menyelidiki hal ini sendirian."


Sebuah pesan dari Juno.


"Cleo, sampai saat ini arwah Tango masih berada di sisimu. Ia selalu mengawasi setiap gerak gerik dan menjaga setiap langkahmu. Jika kau ingin tahu siapa yang telah menjadi donor mata untukmu, maka datanglah ke sebuah makam di Jalan Chamomile Blok D, maka kau akan mendapatkan sebuah kebenaran dan kejelasan."


Seketika bulu kuduk Cleo meremang. Jika mengingat pesan dari Juno, ia menjadi tidak begitu nyaman berada di dalam mobil. Meskipun ia tidak bisa melihat secara langsung, seharusnya Cleo bisa menyadari kedatangan arwah Tango.


"Apakah Tango benar-benar datang untukku?"


Membayangkan jika Tango berada di sisinya sudah membuat Cleo bergidik. Padahal saat itu Tango sama sekali belum hadir di sana. Namun, ketika di dalam hati Cleo memanggil nama Tango secara otomatis ia akan hadir untuk memenuhi undangan dari belahan hatinya.

__ADS_1


"Apakah ia benar-benar berada di sisiku? Hm, rasanya sangat aneh."


Cleo beberapa kali mengusap tangannya untuk menghilangkan rasa takutnya. Jim yang peka, segera bertanya pada Cleo.


"Apakah udaranya terlalu dingin Nyonya, jika ia maka AC-nya akan saya naikkan sedikit lagi."


"Tidak usah, Pak. Lagi pula ini sudah mendingan kok daripada tadi," ucap Cleo berbohong.


Merasa jika dirinya terpanggil, Tango benar-benar duduk di samping Cleo. Seketika udara di dalam mobil menjadi begitu dingin untuk Cleo.


Cleo beranggapan jika sopirnya mengurangi lagi kelembaban suhu udara di dalam mobil.


"Pak, tolong suhu di dalam ruangan dinaikkan lagi!"


Jim merasa kebingungan.


"Bukankah aku sudah menaikkan suhu ruangan, kenapa masih terasa dingin?"


Tidak mau membuat Cleo kedinginan, Jim bertanya kembali pada Cleo.


"Mau dinaikan ke suhu berapa, Nyonya Muda?"


"Dua puluh lima derajat aja."


"Baik, Nyonya."


Sementara itu Tango merasa sedih ketika memandangi wajah Cleo. Tango ingin sekali mendekat dan memegang tangan istrinya sekali lagi.


Sayang, semua itu tidak akan pernah bisa ia lakukan sebelum Pendeta Louis dinyatakan sembuh. Allert bahkan memperingatkan dirinya agar tidak sembarangan memunculkan diri di depan manusia.


"Huft, kenapa udara tiba-tiba terasa sangat dingin. Tunggu dulu, kenapa rasanya badanku justru merasak capek dan mengantuk?" ucap Cleo di dalam hatinya.


Sementara itu dari arah berlawanan ada sebuah mobil yang melaju kencang ke arah Cleo. Sepertinya pengemudi itu ugal-ugalan.


"Awwaaasssss!" teriak Cleo yang baru menyadari bahaya yang berada di depan matanya.

__ADS_1


BERSAMBUNG


__ADS_2