
"Tango kemana ya, kenapa pagi-pagi sekali tidak ada di sini, apa pergi bekerja, tetapi kenapa sepagi ini?"
Cleo ingat betul semalam masih bersama suaminya, ia merasa aneh ketika bangun tetapi di sampingnya tidak ada orang. Sejenak pikirannya teringat kembali pada kesehatan sang nenek.
"Tapi aku harus segera pergi melihat keadaan Nenek. Bagaimana ini? Ah, sebaiknya aku bersih-bersih terlebih dahulu."
Cleo bergegas bangkit dan menuju kamar mandi. Ia bahkan lupa jika dirinya masih masa pemulihan.
Nyonya Rose baru saja masuk ke dalam kamar dan tidak menemukan siapa-siapa begitu terkejut melihat kamar putranya sedikit berantakan. Gemericik air dari kamar mandi membuat senyumnya mengembang.
"Apa semalam terjadi pertempuran di sini, ya?" ucapnya sambil terkikik.
"Sayang, apa kau di dalam?"
"Iya, Ma."
Tidak berselang lama, Cleo keluar dari kamar mandi.
"Loh, kamu sendirian, Tango di mana?"
"Maaf, Cleo tidak tahu, Ma. Tadi semalam masih bersama, tetapi saat Cleo bangun tidak ada siapapun di sini."
"Ya sudah, mungkin dia sedang bekerja. Ayo sarapan!"
Cleo mengangguk, setelah bersiap ia segera turun ke bawah. Meskipun ragu, Cleo mengutarakan apa yang menjadi beban pikirannya.
"Ma, Pa, karena nenek sedang sakit bolehkah aku menemui beliau?"
Sepasang suami istri itu saling memandang satu sama lain. Ada keraguan yang menderanya. Di satu sisi mereka tidak ingin keluarga El Vanezz mengetahui jika Cleo sudah bisa melihat, di sisi lain mereka tidak tega melihat Debora sakit.
Nyonya Rose dan suaminya segera menyusun sebuah alasan agar ia bisa menahan Cleo lebih lama di dalam mansionnya.
"Ta-tapi, Sayang. Penglihatanmu baru pulih, itu akan sangat berisiko ketika kamu berpergian jauh."
Ketika Tango sibuk dengan pencarian batu delima, Cleo sibuk memikirkan cara untuk bisa keluar dari Mansion De Laurent dan menemui neneknya.
Rasa khawatirnya membuat Cleo harus bertindak cepat, ia paling tidak bisa melihat seorang yang disayanginya terluka. Terlebih sejak kecil Debora yang merawat dirinya hingga mampu bangkit dari keterpurukannya.
__ADS_1
"Nenek, maafkan aku yang tidak bisa menjengukmu saat ini. Mungkin setelah aku merasa benar-benar pulih, aku akan mengunjungimu kembali."
Cleo terlihat menunduk saat menikmati makanannya. Hal itu tidak luput dari perhatian Rose dan Dimitri.
Selama sembilan tahun ia berjuang dan Debora selalu bersamanya. Namun, ucapan dari ibu mertuanya barusan menyadarkan beliau tentang sesuatu yang harus ia pikirkan matang-matang sebelum bertindak.
"Iya, juga ya. Bagaimana aku bisa mengabaikan kesehatanku sendiri. Mereka telah berjuang keras membuatku bisa melihat kembali. Aku tidak boleh mengecewakan mereka lagi."
Melihat hal itu, Dimitri segera membantu istrinya.
"Iya, Sayang. Ucapan Mama kamu benar, Papa sendiri yang merupakan kepala dokter yang mengawasi kesehatan kamu tidak memberikan ijin untuk hal yang sangat berisiko ini."
Cleo kembali menatap kedua mertuanya dengan cermat. Kebaikan hati mereka sudah pasti tidak bisa Cleo balas secepatnya. Namun, ia berjanji akan mengabdi pada Keluarga De Laurent.
"Jika kamu mengijinkan, biarkan kami yang mengunjungi Nenekmu."
Cleo menunduk untuk sejenak, lalu setelahnya ia mulai berbicara kembali.
"Kalau itu tidak memberatkan kalian, aku setuju."
Tidak berselang lama, Tango sudah meluncur ke tempat pelelangan batu delima di pinggiran kota Scotland.
Di barisan para pelelang, Juno sudah duduk manis bersama mereka. Secepat Tango memanggilnya, maka secepat itu kedatangan Juno untuk memenuhi panggilan dari teman karibnya itu.
...SWOOSH...
Saat melihat Juno, Tango segera mendatanginya. Ia yang belum siap dan terbiasa dengan kemunculan Tango secara tiba-tiba hanya bisa berdecak kesal.
"Bisa nggak sih, kalau datang itu lembutan dikit, bisa mendadak copot nih jantung!" pekiknya kesal.
Tango hanya meringis. Juno bisa melihat dengan jelas perubahan perilaku Tango yang dulu garang menjadi lembut sejak kemunculan Cleo.
"Sepertinya nih hantu mulai bucin, deh! Oh astaga, beruang kutubku makin manis."
Sontak Tango menoleh, menatap garang ke arah Juno.
"Dikira aku nggak bisa denger kata hati dia? Tapi memang bener sih, kenapa mendadak gue mellow ketika dekat Cleo? Masa iya aku jatuh cinta?"
__ADS_1
Tentu saja Juno terkejut ketika ditatap seperti itu. Seketika ia pun berusaha mengembalikan mood baik milik Tango.
"Santai, Pak Bos, gua jamin Lu yang bakal menenangkan pelelangan batu delima merah kali ini!" ucap Juno sambil mengacungkan kedua jempolnya ke arah Tango.
"Sip, kalau sampai batu itu jatuh ke tangan orang lain, Lu gue bakal end!" ancam Tango pada Juno.
Juno terkikik geli dengan ucapan Tango barusan. Bagaimana bisa temannya yang jarang bergaul jadi belajar gokil kayak gini. Akan tetapi sebanyak apapun perubahan baik itu, Juno tetap bersyukur.
"Kebahagiaanmu adalah kebahagiaanku pula sahabat," ucap Juno sambil menepuk bahu Tango.
Sesaat kemudian, seorang wanita mulai muncul ketika tirai di hadapan mereka terbuka. Ia adalah Misshel, salah seorang pembawa acara pagi itu yang akan memimpin jalannya pelelangan.
"Selamat pagi para Tuan-tuan dan tamu undangan yang saya hormati. Seperti yang kita ketahui saat ini kita akan segera memulai acara pelelangan batu delima merah yang sangat ditunggu para kolektor baru mulia."
"Baiklah, mari kita sambut batu delima merah primadona kita hari ini!"
Sesaat kemudian beberapa orang muncul membawa batu delima merah itu ke hadapan para tamu undangan. Tampak dari layar depan terlihat batu itu terlihat sangat berkilau.
Kilauan cahaya dari batu delima merah itu, seolah memiliki keterikatan dengan Tango. Aura yang terpancar dari baru delima itu membuat Tango segera mendekatinya.
"Ada apa dengan batu ini, kenapa aku seolah tidak bisa lepas darinya?"
Tango mulai mendekati batu itu, saat ia berusaha untuk memegangnya, sesaat kemudian tubuhnya merasa hangat karena aura batu delima itu mengalir di dalam tubuh Tango.
"Wow, kekuatannya sungguh membuatku bertambah kuat."
Jari jemari Tango terlihat memancarkan kekuatan yang luar biasa. Ia juga mencoba melesat terbang ke angkasa, ternyata kekuatannya bertambah.
"Menyenangkan sekali rasanya, aku harus mendapatkan batu delima itu!"
Juno melihat Tango sangat antusias dengan batu delima itu, hatinya turut bahagia.
"Andai kau masih hidup, aku pasti akan lebih bahagia dari ini," ucapnya sambil mengusap air matanya.
Bagaimana pun jalan kehidupan seseorang tidak dapat diprediksi sehingga manusia boleh berencana tetapi Tuhan yang menentukan.
"Aku ingin kebahagiaanmu abadi, sahabat. Sebagaimana aku bisa bertahan, maka aku akan setia disisimu. Jika kau butuh bantuan dariku, janganlah sungkan."
__ADS_1
Dari kejauhan Tango bisa merasakan ketulusan hati Juno. Sahabatnya itu memang sangat bisa diandalkan. Seandainya saja mereka bisa berkolaborasi, pasti dunia bisa mereka taklukan berdua.