My Hubby Is Ghost

My Hubby Is Ghost
Bab 8. RUMAH BARU


__ADS_3

Selepas sebuah pesta pernikahan yang sangat mewah, kini Cleo sudah berpindah kediaman tempat tinggal.


"Pelan-pelan, Sayang. Tangga ini akan mengantarkanmu pada kamar pengantin kalian," ucap Rose lembut sambil menuntun lengan menantunya.


Setelah beberapa saat, akhirnya mereka sampai di kamar pengantin. Ruangan itu dihiasi dengan berbagi ornamen yang khas. Di atas tempat tidur terdapat kelopak bunga mawar yang di tata membentuk sebuah hati.


Tidak lupa lilin-lilin kecil yang mengelilingi tempat tidur membuat suasana semakin terlihat romantis. Semua itu dilakukan Rose untuk menyambut kedatangan menantunya.


"Nah, Mama mau membantu membuka mahkota dan perhiasan di tubuhmu, apa kau keberatan?"


"Tidak, Ma. Semuanya akan baik-baik saja selama Mama dan Tango di sisiku."


Saat Rose mengatakan hal itu, Tango sebenarnya sudah berada di sisi ranjang. Hanya saja ia belum mengeluarkan suaranya.


"Kenapa, Tango belum mengatakan sesuatu, apa ia benar-benar tidak suka dengan pernikahan ini?" ucap Cleo di dalam hati.


Saat ini Cleo sedang berada di dalam kamar pengantin bersama suaminya, Tango dan dengan Mama mertuanya Nyonya Rose. Ibunda Tango dengan telaten membantunya melepas semua aksesoris yang menempel di tubuh Cleo.


"Nah, sudah selesai, Sayang. Mama mau keluar dulu, kalian bersenang-senanglah," pamit Nyonya Rose kepada kedua pengantin, yaitu Cleo dan Tango.


"Iya, Ma," ucap keduanya hampir bersamaan.


Saat mendengar suara Tango, Cleo bisa menyadari jika suaminya benar-benar ada di sisinya. Hanya saja kecanggungan tiba-tiba menyerang keduanya.


Selepas Nyonya Rose pergi, hawa kamar pengantin terasa lain dan semakin dingin. Mungkin itu akibat suhu tubuh Tango yang sudah berbeda dengan manusia.


"Semoga saja, Cleo bisa merasakan kehadiranku di sini. Tetapi, aku belum bisa mengendalikan suhu tubuhku ini?" gumam Tango sedikit kesal.


Sehingga tanpa Tango sadari, Cleo sudah beberapa kali mengusap-usap telapak tangannya agar tidak terasa terlalu dingin. Padahal sebenarnya hal itu pun tidak lepas dari pengamatan mata elang milik Tango, hanya saja Tango tidak bisa berbuat banyak.


"Apa dia kedinginan?" batin Tango.


"Ah, biarlah!"


Tango kembali membuang muka dan lebih memilih memandang hamparan taman di halaman rumahnya yang sangat asri. Dipenuhi dengan gemerlap lampu taman yang kerlap-kerlip sungguh memikat hati siapa saja yang melihatnya.

__ADS_1


Sebenarnya hal itu ia persiapkan untuk keluarga kecilnya. Akan tetapi sepertinya hal itu tidak mungkin terjadi, karena ia sudah meninggal.


"Sayangnya kamu masih bu-ta, Sayang. Andai kamu bisa melihat, sudah pasti akan aku ajak melihat indahnya taman yang aku buatkan untukmu."


Tango mengepalkan tangannya. Sementara itu Cleo masih terdiam di atas tempat tidur. Ia menunggu inisiatif suaminya saat mengajaknya mengobrol.


Cleo yang merasa tidak sendirian segera memanggil suaminya. Ia memang belum terbiasa dengan hal ini, akan tetapi mulai saat ini ia tidak boleh egois. Cleo harus mengabdi pada suaminya.


"Tango, kamu di mana? Apakah kamu berada di dalam ruangan ini?"


Tango menoleh dan tersenyum menyeringai. Hingga dalam sepersekian detik berikutnya, ia sudah berada di hadapan Cleo. Hembusan nafas Cleo saja bisa dirasakan olehnya saat ini.


Sraashhh


Kedua matanya masih mengamati kecantikan istrinya.


"Kenapa aku baru sadar jika kamu sangat cantik, Cleopatra?"


"Aku sungguh jatuh cinta kepadamu," ucapnya lirih.


"Apa kamu takut?" bisik Tango tepat di salah satu telinga Cleo.


Cleo tersenyum, tangannya terulur mencoba mencari di mana wajah suaminya tetapi ia tidak menemukannya.


"Tidak, kenapa aku harus takut dengan suamiku sendiri?"


"Oh, ya?"


Melihat Cleo kesusahan untuk memegang wajahnya, Tango pun mengijinkan jika istrinya bisa menyentuhnya. Sesuai dengan keinginan Tango, ia memegang tangan Cleo dan membimbingnya untuk menyusuri rahangnya yang kokoh.


Cleo tersenyum, ia benar-benar menganatomi wajah suaminya dengan tangannya.


"Kamu pasti sangat tampan, Sayang sekali aku tidak bisa melihatnya," ucapnya sambil menunduk.


"Jangan khawatir, sampai kapan pun, atau bagaimana pun cara para wanita di luar sana menggodaku, hanya kamulah wanita satu-satunya pemilik hatiku. Jadilah wanitaku seutuhnya, jagalah cinta kita agar abadi, Cleopatra El Vanezz."

__ADS_1


Tentu saja Cleo tersentuh dengan ucapan suaminya barusan. Ia tidak menyangka jika Tango sudah jatuh cinta kepadanya.


"Bolehkah aku memelukmu?" ucap Cleo tanpa sadar.


Tango tersenyum, "Tentu saja boleh."


Beberapa saat selanjutnya, Cleo benar-benar memeluk tubuh Tango. Sejenak Cleo ingin menikmati suasana hangat seperti ini.


Begitu pula dengan Tango yang hanya bisa memberikan hal-hal kecil seperti ini. Seharusnya malam ini adalah malam yang sangat indah bagi pasangan pengantin baru. Akan tetapi takdir berkata lain. Memainkan hati kedua insan yang sedang dilanda jatuh cinta, dan memisahkan keduanya dengan sebuah takdir kejam.


Keinginan itu tidak akan pernah terjadi. Sampai kapan pun, tidak akan pernah terjadi hal penyatuan di antara mereka. Apalagi mereka berbeda alam. Hanya sebuah keinginan kecil dari orang tuanya yang bisa mewujudkan hal itu. Namun, mustahil rasanya menginginkan sebuah keturunan dari pernikahan beda alam.


"Semoga saja aku selalu bisa menjagamu, wahai istriku tercinta Cleopatra."


Malam itu suasana semakin dingin akibat perbedaan suhu tubuh Tango dengan Cleo yang signifikan. Padahal saat itu musim semi, seharusnya suhu ruangan tidak sedingin itu. Alat penghangat ruangan sudah dinyalakan, tetapi sama saja.


Sebenarnya hal itu karena suhu tubuh Tango yang berbeda dan membuat suhu ruangan menjadi dingin. Merasa bersalah akan hal itu, terlebih ia tidak bisa menyentuh Cleo dalam waktu lama ataupun memberikan kehangatan untuknya. Tango memilih untuk mengajak Cleo tidur cepat.


"Kamu kedinginan?" tanya Tango lembut.


Cleo mengangguk, diraihnya tubuh Cleo dan dibaringkannya tubuhnya ke atas ranjang.


"Istirahatlah, kamu pasti kecapekan. Sebaiknya kita tidur lebih cepat!" ajak Tango.


"Iya, Sayang."


Setelah melihat Cleo berbaring, Tango mengambil selimut tebal untuk membungkus tubuh istrinya itu. Sebaliknya Tango memeluk Cleo dari atas selimut.


Akhirnya keduanya tidur bersama. Samar-samar terdengar dengkuran halus dari Cleo. Itu tandanya istrinya sudah terlelap. Tango yang berpura-pura tidur, kembali membuka mata.


"Sayang, maafkan aku yang harus menikahimu dalam kondisi seperti ini. Akan tetapi, yakinlah. Setelah ini akan aku buat kamu bisa menikmati keindahan dunia dengan bola mataku."


Cup, Tango memberikan kecupan pada kening Cleo. Awalnya Cleo merasa tidak nyaman dan sedikit terusik. Akan tetapi setelahnya ia pun kembali memasuki alam mimpinya setelah Tango kembali memeluknya.


Cinta dan takdir memang adalah sebuah misteri, terkadang apa yang kita inginkan tidak sejalan dengan kenyataan. Semoga saja kehidupan rumah tangga Cleo dan Tango akan bahagia selamanya. Aamiin.

__ADS_1


BERSAMBUNG


__ADS_2